LUMAJANG – Dahaga ratusan kepala keluarga di Desa Penawungan, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang akan air bersih, berlalu. Hal itu seiring mengalirnya sang tirta dari proyek sumur bor Pemkab Lumajang di desa setempat.
Sumur bor dibangun di atas lahan milik warga, Abah Kholil, di Dusun Curah Bindu, dengan kedalaman mencapai 98 meter. Proyek pengeboran dimulai sejak 20 Maret 2024 dan selesai 27 Agustus 2024, menggunakan dana APBD sebesar Rp 200 juta. Kini, sumur tersebut telah mengeluarkan air dan siap dimanfaatkan.
“Semoga dengan adanya sumur ini, masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Bupati Lumajang, Bunda Indah dalam tinjauannya.
Namun bukan hanya sumur bor. Pemerintah daerah juga menyiapkan proyek lanjutan berupa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD Tahun Anggaran 2025, Pemkab Lumajang mengalokasikan anggaran sebesar Rp 770 juta untuk pembangunan dua reservoir.
Rumah pompa dan rumah panel, jaringan listrik dan pompa, serta perpipaan sepanjang 6,9 kilometer. Sebanyak 25 sambungan rumah (SR) akan menghubungkan air bersih langsung ke rumah warga.
Pembangunan SPAM akan dimulai pada 19 Agustus 2025 dan dijadwalkan rampung dalam 90 hari kalender. Proses tender telah dilalui dengan harapan pekerjaan berlangsung sesuai rencana dan membawa dampak jangka panjang.
Wakil Bupati Mas Yudha menegaskan pentingnya proyek ini bagi kesejahteraan warga. “Semoga sumur bor ini bisa membawa manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat, khususnya di Dusun Curah Bindu dan Dusun Krajan,” katanya.
Sebagian besar warga penerima manfaat selama ini mengandalkan sumber air tadah hujan atau sumur dangkal yang tidak stabil. Terutama saat musim kemarau.
Sumur bor dan sistem pendistribusian baru ini diyakini akan mengakhiri krisis air yang bertahun-tahun melanda wilayah tersebut.
Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Lumajang dalam menyediakan layanan dasar yang merata, inklusif, dan berkelanjutan.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketimpangan infrastruktur, program Setor Madu menjadi jembatan penting antara aspirasi masyarakat dan solusi konkret dari pemerintah.
Dengan hadir langsung ke lapangan, Bunda Indah dan Mas Yudha menegaskan bahwa pembangunan bukan sekadar wacana di atas meja, melainkan aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. (ndy/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













