Jumat
17 April 2026 | 8 : 59

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Kasus Perdagangan Bayi, Komisi II DPRD Ngawi Akan Panggil Dinas-dinas Ini

IMG-20250604-WA0050
Petugas Polres Ngawi menggiring para tersangka sindikat perdagangan bayi. pdiperjuangan-jatim.com/ahmad
Petugas Polres Ngawi menggiring para tersangka sindikat perdagangan bayi. pdiperjuangan-jatim.com/ahmad

NGAWI – Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Ngawi, Sojo merasa prihatin dengan kejadian kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang melibatkan bayi. Legislator Banteng yang kerap disapa Pakde Sojo ini menyebut, pihak dewan akan memanggil sejumlah dinas terkait untuk membahas perkara ini.

Sebelumnya, kasus TPPO telah menggegerkan warga Ngawi. Dari pengembangan pihak kepolisian, kasus ini melibatkan sindikat antar daerah. Sindikat ini telah menjalankan tindak pidananya lebih dari 10 kali.

Salah satu lokasi kejadian ada di Kabupaten Ngawi. Pihak kepolisian juga telah menetapkan 4 orang tersangka, satu diantaranya merupakan warga Kabupaten Ngawi.

Pakde Sojo menyebut, tindakan jual beli bayi sebagai perbuatan yang tercela dan salah di mata hukum. Di samping itu, Pakde Sojo juga menilai kemiskinan dan kurang pengetahuan menjadi celah bagi pelaku tindakan kriminal seperti itu.

“Di wilayah kita masih terlalu banyak kemiskinan dan kekurangtahuan, sehingga dimanfaatkan oleh sindikat semacam itu. Hal ini tidak bisa ditoleransi,” kata Pakde Sojo, Rabu (4/6/2025).

Legislator Banteng itu menegaskan, negara mesti hadir dalam kasus seperti ini. Kemiskinan menjadi celah para sindikat TPPO melancarkan aksi. Memperdaya keluarga kurang mampu, dengan dalih adopsi.

“Kemiskinan menjadi celah bagi sindikat TPPO melancarkan aksi dengan dalih adopsi seperti kejadian itu,” ujarnya.

Pakde Sojo memandang, mestinya dinas terkait bisa mendeteksi apabila ada keluarga yang kurang mampu merawat anaknya. Program-program semacam posyandu mestinya bisa menjangkau keadaan dan situasi keluarga miskin. Sehingga langkah preventif bisa dilakukan sesegera mungkin.

“Kalau ada ibu hamil yang kemudian tidak mampu merawat anaknya, mestinya sudah terdeteksi oleh Dinas Sosial melalui kegiatan posyandu,” ujarnya.

Termasuk peran Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB). Dinas bisa berperan dalam memberikan pendampingan, sehingga hal-hal seperti ini tidak terjadi.

“Pemerintah desa juga harus tanggap. Apabila ada masyarakat yang tidak mampu, agar dikoordinasikan dengan dinas terkait. Ada kok anggaran negara untuk hal-hal semacam ini,” ungkapnya.

“Terkait hal ini, akan coba kami koordinasikan dengan OPD terkait, untuk menyelesaikan permasalahan ini bersama-sama. Sehingga kedepan tidak ada lagi kejadian seperti ini,” tandasnya. (and/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tempatkan ASN di Setiap RW, Perkuat Program Kampung Pancasila

Eri Cahyadi menempatkan ASN sebagai pendamping di setiap RW untuk memperkuat Program Kampung Pancasila 2026 dan ...
KRONIK

Fraksi PDIP DPRD Sumenep Ngonthel ke Kantor, Hosnan: Dukung Penghematan BBM

SUMENEP – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumenep mengimbau seluruh anggotanya untuk menggunakan sepeda ontel saat ...
EKSEKUTIF

Hadapi Ancaman Kemarau Ekstrem, Bupati Yani Minta PMI Gresik Perkuat Kesiapsiagaan dan Libatkan Generasi Muda

GRESIK – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani meminta Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Gresik memperkuat ...
BERITA TERKINI

Said Abdullah: Pers Harus Jadi Pilar Keempat Demokrasi dan Kontrol Kekuasaan

Saat menerima penghargaan PWI Jatim di HPN 2026, Said Abdullah menegaskan pers harus menjadi pilar keempat ...
HEADLINE

PWI Jatim Anugerahi Said Abdullah, Dinilai Sukses Kelola Kebijakan Fiskal

MH Said Abdullah menerima penghargaan dari PWI Jawa Timur pada puncak Hari Pers Nasional 2026 di Surabaya, atas ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Minta OPD Surabaya Publikasikan Output dan Outcome Program ke Publik

Eri Cahyadi meminta OPD Surabaya mempublikasikan output dan outcome program untuk meningkatkan transparansi dan ...