Rabu
05 Agustus 2026 | 1 : 35

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Kisah Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota

Picsart_24-08-24_19-48-26-498_copy_792x577

Kehidupan ningrat ditanggalkan. Karir di instansi kolonialis pun ditinggalkan. Dan, memilih jalan perjuangan.

RAMAI media memberitakan perihal sebutan Raja Jawa beberapa hari belakangan. Kata itu dilontarkan seorang menteri yang juga kader partai dalam pidatonya pada acara musyawarah nasional partainya.

Kata Raja Jawa lantas mengggelinding dan menuai rupa-rupa komentar, mulai dari para tokoh, politisi, pihak Kraton Yogjakarta hingga Istana Kepresidenan.

Bahkan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri tergelitik ikut nimbrung dalam polemik.

“Makanya, saya kan langsung sambil sarapan ketawa. Ih, bilang ada Raja Jawa. Terus aku mikir,  aku mau kenalan juga deh sama Raja Jawanya,” kata Megawati di kantor DPP PDI Perjuangan, Kamis (22/8/2024).

Terlepas dari polemik itu, sejarah pergerakan Indonesia mengenal sosok tokoh besar yang bahkan pihak kolonial Belanda menjulukinya dengan sebutan, Ongeekronde Koning Van Java atau Raja Jawa Tanpa Mahkota. Siapa Dia?

Bunuh Diri” Kelas Sang Bangsawan

Adalah Raden Mas Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, sosok yang lahir di Madiun, 16 Agustus 1882. Ayahnya bernama Raden Mas Tjokromiseno, Wedana di Kleco, Madiun.

Kakeknya dari garis bapak, Raden Mas Adipati Tjokronegoro, pernah tercatat sebagai Bupati Ponorogo. Sementara buyutnya, Kiai Bagoes Kesan Besari, seorang ulama pengasuh pondok pesantren di Tegal Sari, Ponorogo.

Berbagai literasi sejarah menyebutkan, keluarga menyekolahkan HOS Tjokroaminoto di sekolah kepegawaian. Hingga saat tamat, ia pun bekerja sebagai juru tulis.

Namun, pada 1905, ia meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai negeri kolonialis. Memilih “bunuh diri” kelas meninggalkan keningratannya dengan menjadi pegawai swasta di perusahaan dagang saat berkelana ke Surabaya pada 1907. Mertuanya sempat protes ihwal resign kerja itu.

Di sela kesibukannya bekerja dan berkeluarga, ia aktif di organisasi sosial kemasyarakatan. Menjadi Ketua Panti Haryoso. Sembari menulis berbagai artikel perihal penghisapan perusahaan-perusahaan Belanda kepada Pribumi yang kemudian diterbitkan media umum.

Kecakapan Tjokroaminoto terdengar oleh pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) Haji Samanhudi. Melalui seorang utusan, ia mengajak Tjokroaminoto bergabung dalam serikat.

Masuknya Tjokroaminoto membawa perubahan besar SDI. Ia mengusulkan SDI menjadi Sarekat Islam (SI), agar anggota tidak hanya dari kalangan pedagang.

Pada September 1912, SDI berubah menjadi SI. Tjokroaminoto didapuk menjadi pimpinan. Dalam perkembangannya, SI mempunyai keanggotaan hingga 2,5 juta orang meski pemerintah kolonial Belanda menolak menerbitkan pengesahan untuk organisasi ini.

Ini pula yang membuat Belanda menjulukinya sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Menggodok Perlawanan di Rumah Kos

Selain bekerja dan berorganisasi, HOS Tjokroaminoto dan istrinya membuka rumah kos di kampung Peneleh, Surabaya.

Rumah Tjokroaminoto tak pernah sepi dari kedatangan tokoh-tokoh pergerakan kala itu. Dari yang tinggal hingga bertamu. Seperti Tan Malaka, Kartosoewirjo, Musso, Semaun, Alimin dan sebagainya.

Berdiskusi perihal persoalan-persoalan terkini, khususnya hal kolonialisme maupun kapitalisme yang terjadi.

Perihal itu seperti diceritakan Soekarno dalam buku ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, diterbitkan Yayasan Bung Karno.

Sukarno saat itu sebagai salah satu anak kos di rumah HOS Tjokroaminoto.

“Pak Cokro adalah idolaku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak, dia menggemblengku. Aku duduk di dekat kakinya dan dia memberikan buku-bukunya kepadaku.”

Sekolah di Surabaya, Sukarno Digembleng Raja Jawa Tanpa Mahkota

Bahkan keberadaan Soekarno indekos di rumah Tjokroaminoto bukan tanpa alasan. Ayahnya Sukarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo sengaja menitipkan anaknya di rumah kos Tjokro.

“Sungguhpun engkau akan mendapat pendidikan Belanda, aku tidak ingin darah dagingku menjadi kebarat-baratan.”

“Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang jang didjuluki oieh Belanda sebagai Raja Jawa yang
tidak dinobatkan,” kata Bung Karno menirukan ucapan ayahnya.  (hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Sutardi Kolaborasikan Reses dengan Layanan Disdukcapil, Perkuat Akses Administrasi Kependudukan bagi Warga

MADIUN – Wakil Ketua I DPRD Kota Madiun, Sutardi, mengkolaborasikan pelaksanaan reses dengan sosialisasi pelayanan ...
KRONIK

Tiga Wasit Perempuan Siap Pimpin Laga Soekarno Cup U-17 2026

SURABAYA – Tiga wasit perempuan berlisensi nasional dipastikan memimpin pertandingan Soekarno Cup U-17 2026, ...
HEADLINE

Bermarkas di Surabaya, de Red FC Siap Perkuat Ekosistem Sepak Bola dan Pembinaan Talenta Muda

SURABAYA – CEO de Red FC, Daniel Rohi, menegaskan kehadiran de Red FC di Surabaya bukan untuk menggantikan ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP DPRD Jatim Minta Trauma Healing Jadi Prioritas Penanganan Korban KMP Mutiara Sentosa II

SURABAYA – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur minta pemerintah menjadikan trauma healing sebagai prioritas dalam ...
LEGISLATIF

DPRD Jatim Sepakati Anggaran Rp274 M untuk Tambahan Tunjangan Profesi Guru ASN

Komisi E DPRD Jatim memastikan alokasi Rp274 miliar melalui APBD untuk membayar tambahan TPG yang menjadi komponen ...
HEADLINE

Soekarno Cup 2026 Buka Jalan Talenta Muda Menuju Timnas dan Liga Profesional

Soekarno Cup 2026 diikuti 16 provinsi dengan target melahirkan talenta sepak bola yang mampu menembus klub ...