Senin
12 Oktober 2026 | 11 : 23

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Wujudkan Pemerintahan Bersih, Pimpinan KPK Bekali Cakada PDIP

pdip-jatim-hasto-140920-4
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto

JAKARTA – Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan pimpinan KPK ikut mengajar di sekolah partai menunjukkan komitmen Partainya untuk memastikan para cakada yang diusung, walaupun non kader partai, melaksanakan pemerintahan untuk rakyat ketika terpilih.

“Termasuk pemerintahan yang bersih bebas korupsi. Itu kesepakatan kita bersama, perintah konstitusi, perintah undang-undang,” kata Hasto, Selasa (15/9/2020).

Hal itupun, sebut Hasto, sejalan dengan amanat Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, bahwa Indonesia didirikan setelah sejarah perjuangan kemerdekaan yang panjang lalu diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta.

Dimana, tambah Hasto, pada 1955 atau hanya beberapa tahun setelah merdeka, Indonesia berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika yang menjadi titik tolak gerakan bangsa-bangsa lain untuk lepas dari penjajahan.

“Ibu Megawati sudah mengingatkan kita semua, bahwa dengan sejarah begitu, kalau kita mempunyai nurani, kita harus bertanya apa niatan kita untuk menjadi baik bupati, walikota, gubernur? Apakah hanya untuk mengikuti nafsu-nafsu yang namanya keserakahan? Hanya untuk mencari kekuasaan? Hanya untuk mencari uang? Mari kita merefleksikannya,” ucap Hasto, mengutip pernyataan Megawati.

Untuk itu dia berharap para cakada PDI Perjuangan tidak main-main dengan amanah partai dan rakyat. “Kita tidak boleh berpikir sempit, hanya terpikir untuk kepentingan diri sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, salah satu narasumber Sekolah Cakada PDIP Gelombang III yang digelar secara virtual menyampaikan sejumlah prinsip yang harus dilaksanakan calon pemimpin di daerah seandainya terpilih di Pilkada 2020.

“Kami harap Anda semua menjadi pemimpin yang amanah, benar-benar bekerja untuk masyarakat, dan menjauhkan diri dari perbuatan tercela utamanya perbuatan korupsi,” kata Alexander Marwata di acara yang diikuti 212 cakada dari PDI Perjuangan itu.

Menurutnya, ada keyword mudah yang diingat para cakada PDIP ketika terpilih sebagai kepala daerah. Disebutnya sebagai ‘4 No’. Yakni No Bribery atau tidak boleh menyuap atau menerima suap.

Yang kedua adalah No Kickback atau tak boleh menerima atau mengharapkan imbal balik atas kebijakan atau keputusannya.

Alexander Marwata

Ketiga adalah No Gift atau berarti tak boleh menerima hadiah ataupun gratifikasi dalam bentuk apapun.

Keempat adalah No Luxurious Hospitality atau tak boleh menjamu atau menerima jamuan sebagai tamu yang berlebihan.

“Jika Anda ikuti 4 No ini, saya yakin Anda akan aman selama menjabat. Tak perlu khawatir dan perlu takut membuat keputusan,” kata Alex.

Dia pun mengingatkan, hasil riset KPK menemukan bahwa ada sejumlah harapan terbesar masyarakat bagi pemimpinnya di daerah.

Yakni kepala daerah memegang janji ketika kampanye; kepala daerah berani melaporkan dugaan tipikor; tidak mau menerima suap; melaporkan gratifikasi; mengumumkan harta kekayaan; menyuarakan gerakan antikorupsi melalui media; dan melakukan sosialisasi dan kampanye antikorupsi.

“Anda semua diharapkan jadi role model, teladan bagi masyarakat dan aparat dimana anda memimpin,” ujarnya.

Selain itu, di dalam makalahnya, Alexander banyak menyampaikan rincian hasil kajian terhadap kasus korupsi melibatkan kepala daerah serta caleg partai.

Dari kajian KPK, ada tiga hal yang menyebabkan perilaku koruptif selama ini. Yakni terkait biaya politik/mahar, pembiayaan negara yang rendah, dan remunerasi kepala daerah masih rendah.

Alexander juga bicara soal titik rawan terjadinya tindak pidana korupsi (tipikor) yang selama ini menjerat kepala daerah. Yakni saat perencanaan APBD; lalu kegiatan pengadaan barang dan jasa; dan proses perizinan khususnya untuk daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah.

Dia juga menyorot titik rawan dalam kondisi pandemi Covid-19. Yakni di penunjukan langsung pengadaan barang swakelola; manajemen sumbangan dari masyarakat (filantropis) yang rawan dimanfaatkan untuk modus pembiayaan dobel.

Lalu anggaran bantuan sosial (bansos) yang sengaja dimaksimalkan demi kepentingan kampanye pilkada serentak 2020. “Ini rawan penyimpangan jika penyaluran disusupi kepentingan calon kepala daerah,” tuturnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Targetkan Seluruh SDN dan SMPN Surabaya Dibenahi pada 2027

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menargetkan pembenahan sarana dan prasarana seluruh SD negeri dan SMP ...
LEGISLATIF

81 Tahun Jatim, Renny Dorong Penguatan Sektor Produktif untuk Ekonomi Berkelanjutan

SURABAYA – Memasuki usia ke-81 tahun, Provinsi Jawa Timur perlu memperkuat sektor produktif daerah sebagai fondasi ...
LEGISLATIF

Dewanti Rumpoko: Keselamatan Penumpang Penyeberangan Harga Mati, Bukan Kompromi Bisnis

SURABAYA – Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Dewanti Rumpoko menegaskan keselamatan jiwa pengguna jasa transportasi ...
LEGISLATIF

Yuzar Rasyid Beber Jalur Koreksi Desil Bansos, Warga Kediri Bisa Ajukan Pemutakhiran Data

KEDIRI – Anggota Komisi B DPRD Kota Kediri Yuzar Rasyid mengingatkan warga agar memeriksa data kesejahteraan yang ...
KRONIK

RSUD Blambangan Raih Tiga Penghargaan NHR, Bupati Ipuk: Tolok Ukur Berbenah Tingkatkan Layanan

BANYUWANGI – RSUD Blambangan Banyuwangi meraih tiga penghargaan dalam ajang National Hospital Ranking (NHR) yang ...
KRONIK

Bupati Fauzi Upayakan Pemulangan 9 Nelayan Sumenep yang Ditahan di Australia

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mengupayakan pemulangan sembilan ...