TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengisi malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 dengan cara yang sarat makna.
Alih-alih perayaan seremonial, Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek itu memilih nonton bareng (nobar) film dokumenter “Tambang Emas Ra Ritek”, karya anak muda Trenggalek yang sukses meraih Piala Citra FFI 2025 untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik.
Pemutaran film yang digelar di halaman Pendopo Trenggalek tersebut menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.
Film “Tambang Emas Ra Ritek” mengangkat perjuangan warga Trenggalek dalam menolak eksploitasi tambang emas yang dinilai lebih banyak membawa dampak kerusakan lingkungan, khususnya terhadap sumber-sumber mata air.
Mas Ipin sapaan akrabnya, menegaskan, ketertarikannya menayangkan film tersebut bukan tanpa alasan.
Nilai dan pesan yang diusung film itu sejalan dengan komitmennya sebagai kepala daerah untuk menjaga Trenggalek tetap lestari bagi generasi mendatang.
Film berdurasi lebih dari satu jam tersebut menggambarkan bagaimana aktivitas pertambangan berpotensi merusak ekologi, mulai dari hutan hingga sumber mata air. Padahal, air merupakan kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia, sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat.
Dalam sesi diskusi bersama masyarakat, Mas Ipin kembali menegaskan sikapnya terkait penolakan tambang emas di Trenggalek.
“Semoga saya panjang umur, bisa sampai dengan 2029, karena izin tambang ini sampai dengan 2029,” ujar Mas Ipin.
Dia meyakinkan masyarakat agar tidak meragukan komitmennya. Selain menjaga konsistensi sikap secara personal, Mas Ipin menegaskan bahwa penolakan tambang telah “dikunci” melalui kebijakan jangka panjang daerah.
“Selain doakan saya panjang umur sehingga bisa mengakhiri masa jabatan hingga 2029, saya juga telah mengunci tolak tambang ini dengan menyusun Perda RPJPD dengan visi mewujudkan Net Zero Karbon 2045,” imbuh lulusan pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya ini.
Dengan RPJPD tersebut, arah pembangunan jangka panjang Kabupaten Trenggalek dipastikan tetap berpihak pada kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologi, sekaligus menjadi benteng kebijakan meskipun kepemimpinan daerah nantinya berganti.
Mas Ipin juga mengingatkan bahwa kekuatan utama menjaga lingkungan sejatinya berada di tangan masyarakat.
“Kedaulatan negara kembali kepada rakyat. Benteng terkuat untuk menjaga lingkungan Trenggalek adalah komitmen masyarakatnya sendiri,” tegasnya.
Komitmen menjaga alam ini, menurut Mas Ipin, juga berakar dari nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Ia mengenang pesan kakeknya yang menyampaikan wejangan Bung Karno saat berkunjung ke Trenggalek pada tahun 1950.
“Kalau mau tetel alase kudu ketel,” yang berarti jika ingin hidup sejahtera, hutannya harus dijaga tetap rindang”.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesejahteraan rakyat tidak bisa dipisahkan dari kelestarian alam.
Sementara itu, Alvina N.A., sutradara film ‘Tambang Emas Ra Ritek’, berharap film ini bisa diputar hingga ke desa-desa. Tujuannya agar edukasi tentang dampak pertambangan bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Pemutaran film ini pun mendapat respons positif dari masyarakat. Amin Tohari, warga Desa Ngadirenggo, menyatakan sikap tegas menolak tambang emas di Trenggalek. Menurutnya, tanpa tambang saja desanya rutin terdampak banjir setiap tahun, sehingga eksploitasi tambang justru dikhawatirkan memperparah bencana.
Namun demikian, Amin juga berharap penolakan tambang tidak berujung pada meningkatnya beban pajak bagi masyarakat. Dia berharap Pemkab Trenggalek mampu mencari solusi peningkatan pendapatan daerah tanpa menekan rakyat.
Menanggapi hal tersebut, Mas Ipin menegaskan komitmen Pemkab Trenggalek untuk mengoptimalkan aset daerah sebagai motor penggerak ekonomi, salah satunya melalui pengelolaan sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Dia juga menyadari keterbatasan daerah dalam mengandalkan sektor pajak manufaktur yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Sebagai inovasi ekonomi berbasis kerakyatan dan lingkungan, Mas Ipin juga menggagas program “Sangu Sampah”.
Melalui program ini, sampah yang telah dipilah dapat dikonversi menjadi uang saku bagi pelajar, sekaligus membantu mengatasi persoalan sampah dan meringankan beban ekonomi keluarga.
Melalui langkah-langkah tersebut, Mas Ipin menegaskan bahwa pembangunan Trenggalek akan terus diarahkan pada keadilan sosial, kemandirian ekonomi, dan kelestarian lingkungan, sejalan dengan semangat perjuangan PDI Perjuangan yang berpihak pada rakyat dan masa depan bangsa. (aris/pr)