oleh

Sri Untari Dorong Pendidikan Pancasila Menjadi Nation Character Building

-Kronik-61 kali dibaca

MALANG – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Dr Sri Untari Bisowarno berharap Hari Pendidikan Nasional tahun 2021 menjadi momentum untuk menguatkan hal-hal yang urgen. Dalam hal ini, Untari menekankan pentingnya Pendidikan Pancasila, baik sebagai dasar negara maupun sebagai ideologi negara.

“Hari Pendidikan Nasional tahun ini, saya kira perlu direfleksikan dengan beberapa hal penting menyangkut Pendidikan Pancasila. Pancasila sebagai ideologi negara dan Pancasila sebagai dasar negara harus ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi,” ujar Untari, Minggu (2/5/2021).

Dia menambahkan, generasi muda Indonesia, dari PAUD sampai perguruan tinggi, harus betul-betul memahami Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, sehingga Pancasila menjadi bagian dari perilaku hidup sehari-hari. “Itulah Namanya ideologi yang bekerja,” jelasnya.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim ini juga mengingatkan, bahwa dalam dunia pendidikan, aplikasi Pancasila harus merujuk pada lima sila Pancasila. Pertama, Pendidikan harus Berketuhanan Yang Maha Esa. 

“Kedua, Pendidikan Berkemanusiaan yang Adil dan Beradab. Artinya, pendidikan harus mengajarkan akhlak, akal budi anak didik kita untuk menempatkan manusia pada posisinya. Pada tempatnya sebagai makhluk yang diciptakan dalam bentuk paling baik oleh Allah SWT,” urai Untari.

Dia menambahkan, pendidikan harus melihat Persatuan Indonesia. Dengan semangat Persatuan Indonesia peserta didik akan bisa mengetahui dan memahami siapa dirinya, siapa bangsanya.

“Tidak harus melihat bangsa-bangsa yang lain. Bagaimana kita ini kompak, sesuai Persatuan Indonesia, yang di sana diajarkan kebangsaan Indonesia, bahwa kita ini adalah bangsa yang bersatu dalam kesatuan. Itulah nilai-nilai Pendidikan yang harus diajarkan, ditanamakan pada anak didik di seluruh Indonesia,” bebernya.

Untari juga menekankan sikap dan peran penting guru dan dosen dalam Pendidikan Pancasila. Menurut Untari, guru dan dosen harus terlebih memahami nilai-nilai Pendidikan Pancasila.

“Karena dengan nilai-nilai Pendidikan Pancasila, guru dan dosen akan terhindari dari virus radikalisme dan ektremisme, sehingga dapat mendidik anak didiknya dengan nilai-nilai kebhinekaan, toleransi, keberagaman, nasionalisme, dan semangat gotong-torong. Guru dan dosen harus benar-benar Pancasilais,” jelas Untari.

Ketua Umum Dekopin ini juga menggaris bawahi pentingnya nilai-nilai demokrasi dalam dunia pendidikan. Akan tetapi, imbuh Untari, demokrasinya harus dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.

“Konsepsi Merdeka Belajar yang dikeluarkan oleh Kemendikbud-Ristek tentu harus berlandaskan demokratisasi yang dasarnya adalah hikmat kebijaksanaan. Sehingga, kemerdekaan belajar itu tidak untuk dirinya sendiri. Tetapi merdeka dalam upaya untuk tidak tertindas oleh kepentingan-kepetingan dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak bersifat perikemanusiaan,” urainya.

Karena itu, Untari mengimbau, jangan sampai Merdeka Belajar dimaknai bisa belajar di mana-mana. Tapi, belajar tetap harus dengan kesantunan, kesopanan, tata krama yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.

“Pendidikan juga harus memerhatikan keadilan sosial. Artinya, pendidikan itu tidak boleh pilih kasih. Siapa pun yang belajar, negara harus memfasilitasi. Mulai dari mereka yang sehat, sampai mereka yang berkebutuhan khusus’ mulai mereka yang sehat jasmani, sampai mereka yang kurang sehat rohani; semuanya harus diberikan tempat, karena apa pun negara harus melindungi seluruh warga negaranya sesuai jamian UUD 1945,” tegas Untari.

Dari uraian tentang pentingnya Pendidikan Pancasila, Ketua Umum Kopmen SBW Malang ini juga mengingatkan untuk menjadikan Pendidikan Pancasila sebagai langkah meneguhkan Nation Character Building yang dicita-citakan oleh Bung Karno pada masa lalu.

“Waktu itu, Bung Karno menegaskan bahwa untuk membangun Indonesia dibutuhkan dulu pembangunan manusianya. Bukan lebih dulu membangun secara fisik. Tetapi membangun SDM. Pembangunan SDM Itu penting karena Indonesia bekas negara jajahan, sehingga mentalnya masih mental kaum terjajah. Mental inlander,” ujar Untari.

Dia menambahkan, jika kita bisa melakukan Nation Character Building dengan benar, maka kita akan merasa bangga pada diri kita sendiri. Tidak harus bangga pada bangsa-bangsa lain. Di tengah radikalisme, Pancasila harus benar-benar menjadi way-out bagi bangsa Indonesia.

“Silakan kita berbeda suku, berbeda agama. Tetapi semuanya dalam satu ruang kebersamaan Indonesia yang ideologinya Pancasila. Sehingga dengan tertancapnya ideologi Pancasila, arus radikalisme, terutama di kalangan anak muda, dapat kita kurangi dan dapat kita mitigasi,” katanya.

“Generasi milenial kita adalah generasi yang cepat berpikir. Cepat bergerak. Cepat  berkreasi. Tetapi mereka juga generasi yang cepat gelisah. Cepat galau. Apabila mereka mendapatkan Pendidikan Pancasila yang kuat, mereka akan menjadi anak-anak muda yang kokoh, kuat, punya jatidiri, dan kemudian tahu bagaimana landasan berpikir, dan tahu bagaimana memproyeksikan bangsanya ke depan. Selamat Hari Pendidikan Nasional,” pungkas Untari. (set)