TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menjenguk nelayan Kecamatan Watulimo yang selamat dari kecelakaan laut (laka laut) di Pantai Gladak, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Selasa (8/8/2023).
Mas Ipin, sapaan akrabnya mendengar langsung cerita dari nelayan mulai dari berangkat, saat kejadian kapal terbalik, hingga proses evakuasi.
Dari situ, dia menemukan hal yang perlu dievaluasi, salah satunya adalah banyak nelayan yang belum tergabung KUB (kelompok usaha bersama) nelayan.
Menurutnya, hal tersebut akan mempunyai dampak panjang, salah satunya adalah banyak nelayan yang tidak mempunyai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

“Sudah kita dorong untuk urus, tapi seperti belum butuh. Jadi ini juga masih menjadi PR. Di sini teman-teman HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) dan nelayan sudah punya MOU dengan bekerja sama setiap tahun,” kata Mas Ipin, Selasa (8/8/2023).
Program tersebut mendapatkan antusias yang tinggi dari nelayan di Jawa Timur dilihat dari banyaknya jumlah nelayan yang mendaftar dan akan digencarkan salah satunya di Trenggalek.
Laka Laut tersebut diharapkan Mas Ipin juga membuka kesadaran para nelayan, pentingnya melindungi diri sendiri apalagi saat melaut yang dihadapkan dengan risiko besar.
“Mungkin sekarang cederanya kategori ringan sehingga biaya pengobatan mungkin tidak banyak. Namun bila nanti dihadapkan dengan fatalitas dan pengobatan yang tinggi kan kasihan mereka. Sudah tidak dapat ikan ditambah harus menanggung biaya berobat,” tegas bupati yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek ini.
Untuk itu, Mas Ipin berupaya untuk menguruskan langsung BPJS Ketenagakerjaan bagi nelayan yang belum mendaftar. Sebagai insentif, pihaknya akan mengcover premi selama 3 atau 4 bulan awal.

“Selebihnya kesadaran mereka. Toh itu sebulan Rp 16.800, kalau dibandingkan dari hasil ikan tentu tidak seberapa dengan risiko yang ditanggung,” jelas suami Novita Hardini ini.
Dalam kesempatan itu, Mas Ipin juga menyayangkan banyaknya nelayan yang jarang memakai pelampung saat melaut dengan alasan kurang nyaman.
“Karena pelampung yang berupa rompi menurut nelayan tidak bisa cepat. Terus buat angkat ikan kadang juga tidak enak,” jelas Mas .
“Makanya tadi saya bilang ke BPBD dan juga Kepala Dinas Perikanan untuk mencari pelampung yang seperti sabuk. Itu untuk mobilitas di laut lebih gampang,” jelentrehnya. (man/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










