Senin
20 Juli 2026 | 4 : 22

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Romy Soekarno: Pidato Megawati Isyaratkan Kembalinya Partai pada Kekuatan Rakyat dan Tanggung Jawab Sejarah

pdip-jatim-250804-romy-soekarno

JAKARTA – Anggota Komisi ll dari Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Romy Soekarno, menilai pidato Megawati Soekarnoputri dalam forum konsolidasi Fraksi PDI Perjuangan di Denpasar merupakan panggilan ideologis yang menyentuh inti dari politik kebangsaan.

Menurutnya, arah tersebut mengisyaratkan kembalinya partai pada kekuatan rakyat dan tanggung jawab sejarah.

Sejarah, kata Romy, tidak selalu datang dengan suara fanfare. Dia kerap tiba dalam bahasa isyarat—dalam gerak yang hanya terbaca oleh mereka yang peka terhadap denyut zaman.

“Dan kali ini, denyut itu berpijak di Denpasar, ketika Megawati Soekarnoputri, dalam forum konsolidasi Fraksi PDI Perjuangan dari pusat hingga daerah, menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar arahan partai. Ia menyampaikan kredo ideologis, doktrin gerak, dan panggilan pulang: kembali ke rumah rakyat,” kata Romy, dikutip Senin (4/8/2025).

Legislator dari dapil Blitar Raya, Tulungagung, dan Kediri Raya (Dapil Jatim VI) itu menegaskan bahwa arahan Megawati adalah bentuk koreksi terhadap cara berpolitik yang hanya mengejar kekuasaan tanpa menyentuh aspirasi rakyat.

“Dharma eva hato hanti atau kebenaran yang mati akan menghancurkan. Namun kebenaran yang ditegakkan akan menyelamatkan. Arahan itu bukan perintah turun ke bawah dalam arti organisatoris semata,” ujarnya.

“Ia adalah ajakan untuk menyentuh ulang dasar kekuatan politik: suara rakyat yang murni, jerit perut yang sering tak terdengar di ruang istana, dan denyut harapan yang tak bisa dicapai oleh retorika kekuasaan,” sambung Romy Soekarno.

Menurutnya, kekuasaan harus ditempatkan sebagai amanah, bukan hak istimewa. Dia pun menyambut baik peristiwa politik besar yang terjadi tidak lama setelah pidato Megawati, yakni pemberian amnesti dan abolisi oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong.

“Dalam waktu yang sangat singkat setelah pidato itu, sebuah rangkaian peristiwa menggemparkan jagat politik nasional: Presiden Prabowo mengajukan amnesti dan abolisi kepada DPR, yang mencakup tokoh-tokoh penting seperti Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong. DPR menyetujui, keputusan presiden diteken, dan gelombang baru kekuasaan pun terbentuk,” bebernya.

Baginya, keputusan ini bukan semata langkah hukum, tetapi sinyal politik yang membawa semangat rekonsiliasi dan gotong royong.

“Ini bukanlah sekadar keputusan hukum. Ini adalah simbol pergeseran. Amnesti menjadi pintu yang membuka jalan menuju rekonsiliasi kebangsaan, sekaligus sinyal bahwa polarisasi pasca-pemilu harus ditutup dengan jembatan dialog, bukan tembok kecurigaan. Dalam langkah ini, politik Indonesia mulai kembali pada akarnya: gotong royong sebagai prinsip dasar, bukan perebutan ruang antar faksi,” terang Romy.

Menurut dia, PDI Perjuangan menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan berada dalam kabinet, melainkan dalam posisi memengaruhi arah sejarah dan menjadi penyuling aspirasi rakyat.

“PDI Perjuangan menunjukkan bahwa menjadi kekuatan utama dalam republik tidak harus berarti duduk di dalam kabinet. Politik bukan soal berada di dalam atau di luar, tetapi soal memegang arah. Dalam orkestra kekuasaan, kadang kekuatan terbesar justru datang dari mereka yang mengatur ritme dari balik layar, bukan dari yang berada di tengah panggung,” sebutnya.

Romy menegaskan bahwa arahan turun ke bawah merupakan strategi memperkuat akar partai, bukan pencitraan. Menurutnya, rakyat harus menjadi subjek kebijakan, bukan objek janji.

“Arahan untuk ‘turun ke bawah’ adalah strategi memperkuat akar, bukan sekadar pencitraan. Rakyat bukan lagi menjadi objek janji, melainkan subjek kebijakan. Dalam model ini, kader partai dituntut bukan hanya menjadi corong, tetapi menjadi penyuling aspirasi. Suara rakyat harus diolah dengan empati, disusun dengan data, dan dikawal dalam proses legislasi,” kata dia.

Dalam konteks global, lanjutnya, Indonesia membutuhkan persatuan nasional, bukan oposisi simbolik. Ia memuji sinergi antara Megawati dan Prabowo sebagai wujud kedewasaan politik.

“Indonesia tengah menghadapi situasi global yang tidak menentu: krisis pangan, tekanan fiskal, ketidakpastian geopolitik. Dalam situasi seperti ini, tidak ada ruang untuk kemewahan oposisi simbolik. Yang dibutuhkan adalah kesediaan semua kekuatan nasional untuk duduk bersama, menjaga arah republik, dan merumuskan jalan keluar kolektif,” ungkapnya.

“Megawati dan Prabowo, dua sosok yang berbeda dalam banyak hal, memperlihatkan kedewasaan dalam mengelola perbedaan itu. Tidak dengan ego, tapi dengan kesadaran: bahwa republik ini hanya bisa berdiri kuat jika semua kekuatan politik menyatu dalam satu haluan yang bernama Indonesia,” jelas Romy.

Dia pun menekankan bahwa amnesti terhadap Hasto bukan akhir, melainkan awal dari babak baru politik kebangsaan yang lebih substansial dan ideologis.

“Bukan hanya soal rehabilitasi individu, tapi penanda bahwa musim politik telah berganti. PDI Perjuangan kini tidak hanya berdiri di luar pagar, tapi memegang kunci arah. Bukan untuk membakar rumah bangsa, tapi untuk menghangatkannya kembali dengan nilai-nilai ideologis yang berpihak pada rakyat,” tuturnya.

“Dalam dialektika sejarah ini, PDI Perjuangan telah menunjukkan bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat. Bahwa menjadi besar bukan berarti menjadi rakus, tapi menjadi bijak. Dan bahwa politik yang sejati adalah politik yang mengabdi, bukan mencaci. Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menaklukkan negara, tapi menjaganya agar tetap berdiri dalam keadilan, kemanusiaan, dan kemerdekaan,” pungkas Romy. (red)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

HEADLINE

Hasto: Pemilu Harus Bebas dari Intervensi, Demokrasi Memerlukan Kritik dan Kebebasan Berpendapat

SURABAYA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa kualitas demokrasi Indonesia hanya ...
KABAR CABANG

PDIP Kabupaten Blitar Targetkan Musran 22 Kecamatan Rampung Sebelum 17 Agustus

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar menargetkan Musyawarah Ranting di 22 kecamatan rampung sebelum 17 Agustus 2026 ...
KRONIK

Mobil Legends, Nobar Piala Dunia, dan Ekonomi Kreatif Anak Muda Ponorogo

PONOROGO – Antusiasme anak muda mewarnai turnamen Mobile Legends yang digelar di kafe WOW KWB Ponorogo, Minggu ...
KABAR CABANG

PDI Perjuangan Jember Siapkan Kader Muda hingga Gen Z, Panaskan Mesin Partai Menuju Pemilu 2029

DPC PDI Perjuangan Jember memperkuat kepengurusan ranting di Sumbersari, Sukowono, dan Ajung dengan merekrut kader ...
KRONIK

Nobar Final Piala Dunia, Bupati Bangkalan Berbaur dengan Masyarakat

BANGKALAN – Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai Pendopo Agung Bangkalan saat ratusan masyarakat dari ...
RUANG MERAH

Tak Ada Tarian Tango di Grahadi

Oleh Diana Sasa* RENCANA saya sederhana: nobar di warkop. Di Magetan. Bareng warga. Gagal. Senin pagi ini ada ...