oleh

Ristu Nugroho: Pancasila Sudah Pas dan Cocok Sebagai Ideologi Bangsa

-Legislatif-35 kali dibaca

MADIUN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur Ristu Nugroho, kembali melakukan sosialisasi peraturan perundang undangan di Sasana Krida Mulya, Desa Babadan Lor, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Senin (28/2/2022) malam.

Acara yang juga diisi dengan sosialisasi wawasan kebangsaan tersebut merupakan hari kedua kegiatan dan dikuti oleh 100 peserta dari berbagai kalangan. Menghadirkan narasumber Prof. Dr. Supri Wahyudi Utomo MPd, Rektor Unipma Madiun.

Dalam sambutannya, Ristu menyampaikan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sudah pas dan sangat cocok.

“Ideologi Pancasila adalah ideologi yang sudah pas, sudah cocok dengan bangsa Indonesia, Ketuhanan, peri kemanusiaan, persatuan (guyub rukun), musyawarah mufakat, keadilan sosial dengan rasa kepedulian sosial yang tinggi. Dan yang terpenting selalu mengedepankan musyawarah untuk memecahkan suatu permaslahan, itulah ciri khas bangsa Indonesia,” kata Ristu, sebagaimana keterangannya kepada media ini, Rabu (2/3/2022).

Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Timur ini juga menyampaikan, orang Jawa itu pada dasarnya sangat religius, percaya kepada Tuhan sang pencipta alam semesta.

“Bentuk rasa syukur dan takwa kepada Tuhan diwujudkan dalam tingkah laku yang baik, rasa welas asih dan selalu melakukan karya yang bermanfaat bagi banyak orang,” jelas Mbah Tu, sapaan akrab Ristu Nugroho.

Sementara itu, Prof Supri Wahyudi Utomo menyampaikan pentingnya peran serta masyarakat untuk melestarikan adat dan budaya nusantara.

“Karena semakin majunya teknologi kalau tidak kita rawat dan lestarikan bersama, nantinya pasti akan punah. Contoh, jaman dahulu orang membangun rumah cuma butuh tenaga tukang secukupnya, yang lain sambatan, tapi apakah sekarang masih ada? Kalau di desa-desa masih ada, tapi di kota nol, yang dulunya semangat gotong royong, sekarang semua dinilai dengan uang, sambatan/gotong royong mulai pudar. Gotong royong sebagai warisan budaya kita, wajib untuk dijaga dan dilestarikan,” beber Rektor baru Unipma ini.

Dia mencontohkan, tradisi masyarakat seperti Metil pada waktu panen, bersih desa, merupakan wujud rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Semua itu juga warisan budaya yang harus dikedepankan dan dilestarikan.

“Dari sekian contoh adat istiadat tersebut saat ini sudah mulai luntur. Makanya menjadi kewajiban kita bersama untuk nguri-uri adat dan budaya sebagai warisan nenek moyang kita,” ujarnya. (ant/pr)