NGAWI – Gemuruh sorak-sorai penonton memadati Lapangan Merdeka Walikukun, Desa Walikukun, Kecamatan Widodaren, pada Minggu (1/2/2026).
Sebanyak 15 tim sepak bola usia dini saling beradu teknik dan sportivitas dalam ajang Pramesti Cup #1, sebuah turnamen yang digagas Agung Rezkina Pramesti.
Turnamen ini bukan sekadar ajang perebutan trofi dan hadiah. Lebih dari itu, Pramesti Cup #1 dirancang sebagai kawah candradimuka untuk menjaring bakat-bakat terpendam pesepak bola muda dari berbagai pelosok Kabupaten Ngawi.
Kompetisi ini mempertandingkan dua kategori umur, yakni U-11 dan U-13, dengan format permainan 7 lawan 7. Antusiasme terlihat jelas dari semangat para pemain cilik yang berlaga dengan penuh ambisi namun tetap menjunjung tinggi fair play.
Agung Rezkina Pramesti, yang juga legislator dari Fraksi PDI Perjuangan Ngawi, mengungkapkan bahwa sepak bola dipilih karena sifatnya yang inklusif dan merakyat.
“Sepak bola adalah olahraga rakyat. Siapa pun bisa main tanpa perlu biaya mahal. Melalui turnamen ini, kami ingin memfasilitasi anak-anak agar bakat mereka tidak hanya terpendam di gang-gang desa, tapi punya panggung nyata,” ujar Agung, Senin (2/2/2026).

Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi, Agung menganalogikan pembinaan atlet seperti bercocok tanam. Menurutnya, kejayaan sepak bola Ngawi di masa depan sangat bergantung pada perhatian yang diberikan kepada generasi saat ini.
“Tidak ada buah yang bisa dipanen tanpa proses menanam. Turnamen ini adalah pintu gerbang. Kami ingin anak-anak memiliki wadah untuk mengasah fisik dan mental sehingga mereka siap melangkah ke jenjang yang lebih profesional,” tambahnya.
Agung juga mencatat bahwa geliat sepak bola di Ngawi kian meningkat seiring dengan tren positif prestasi Persinga Ngawi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu semangat untuk menggelar lebih banyak kompetisi berjenjang.
Melihat kesuksesan edisi perdana ini, Pramesti Cup direncanakan akan menjadi agenda rutin setiap tahun. Harapannya, konsistensi kompetisi ini dapat menjauhkan anak-anak dari pengaruh negatif dan mengarahkan mereka pada kegiatan yang produktif sekaligus menyehatkan.
“Kami berkomitmen menjadikan ini agenda tahunan. Targetnya jelas, mengakomodasi mimpi anak-anak Ngawi untuk menjadi bintang lapangan hijau di masa depan,” pungkasnya.
Mimpi anak-anak muda Ngawi merumput di lapangan sepak bola melambung tinggi.
Menjadi seperti pendahulunya asal Ngawi, Irfan Jauhari (25 tahun), pemain Persis Solo yang pernah membobol gawang Thailand dan mengantarkan Indonesia meraih
medali Emas SEA Games 2023.
Bahkan hingga menjadi jagoan menggocek bola seperti Lionel Messi.(ahm/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS











