Ribuan warga memadati pentas jaranan di Kademangan, Blitar, dalam rangka Bulan Bung Karno. PDI Perjuangan menilai pelestarian kesenian tradisional merupakan implementasi Trisakti Bung Karno, khususnya berkepribadian dalam kebudayaan.
BLITAR – Pentas kesenian jaranan yang digelar PAC PDI Perjuangan Kecamatan Kademangan bersama PAC Kanigoro menjadi salah satu wujud pengamalan Trisakti Bung Karno, khususnya prinsip berkepribadian dalam kebudayaan.
Pertunjukan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno itu dipadati ribuan warga di Lapangan SDN 1 Kademangan, Kabupaten Blitar, Senin (29/6/2026) malam.
Sejak sore, masyarakat dari berbagai kalangan telah memadati lokasi untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang menjadi salah satu warisan budaya khas Blitar. Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan tersebut juga membawa pesan penting tentang pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.
Ketua panitia, Muhammad Zaunal Fanani atau Gombloh, mengatakan pentas jaranan digelar sebagai upaya menjaga eksistensi kesenian tradisional sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak generasi muda ikut melestarikan kesenian yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Di sisi lain, masyarakat juga mendapatkan hiburan yang dekat dengan budaya lokal sehingga tradisi ini tetap hidup dan dicintai,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Bidang Kebudayaan dan Pendidikan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Didik Nurhadi. Ia menegaskan Bulan Bung Karno bukan sekadar agenda peringatan tahunan, melainkan momentum menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Bung Karno dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Didik, salah satu warisan pemikiran Bung Karno yang tetap relevan hingga kini adalah Trisakti, yakni berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
“Melestarikan kesenian daerah merupakan salah satu bentuk nyata pengamalan nilai Trisakti Bung Karno, khususnya berkepribadian dalam kebudayaan,” katanya.
Ia menilai kecintaan masyarakat terhadap seni tradisional menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas bangsa. Karena itu, ruang-ruang kebudayaan seperti pentas jaranan perlu terus dihidupkan agar warisan budaya tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pentas jaranan berlangsung hingga malam hari dengan sambutan antusias masyarakat. Sorak penonton dan suasana kebersamaan mewarnai jalannya pertunjukan, memperlihatkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Selain menjadi hiburan, jaranan juga dinilai sarat nilai kebersamaan, moral, dan kearifan lokal yang terus hidup dari generasi ke generasi. (arif/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









