Selasa
13 Oktober 2026 | 11 : 21

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Para Pria di Sekitar Kehidupan Kartini

pdip-jatim-kartini-bw

RADEN Adjeng Kartini adalah perempuan luar biasa yang dikelilingi pria yang juga luar biasa dalam kehidupannya mulai dari kakek, ayah, kakak, suami, hingga putra tunggalnya, RM Soesalit Djojoadiningrat.

Para pria dan jejaring keluarga besar tersebut membentuk pribadi Kartini yang modern dan egaliter.

Sejarawan Didi Kwartanada dari Yayasan Nabil menceritakan, kakek RA Kartini adalah Bupati Demak Pangeran Ario Tjondronegoro IV yang berkuasa tahun 1850.

”Dia mengambil guru privat Eropa untuk mengajar anak-anaknya. Dua putranya adalah dua dari empat Bupati Jawa pada 1870-an yang fasih berbahasa Belanda dan Eropa lainnya,” kata Didi.

Putra dari Tjondronegoro tersebut adalah Raden Samingun kelak dikenal sebagai Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, ayah Kartini yang mulai menjadi Bupati Jepara pada 1881. Sedangkan saudara kandungnya, Pangeran Aryo Hadiningrat, kelak menjadi Bupati Demak pengganti Tjondronegoro IV.

Didi menambahkan, meski tidak terlalu mendukung RA Kartini, tulisan-tulisan Hadiningrat soal ereschuld atau utang budi Belanda kepada kekayaan hasil bumi Tanah Jajahan Hindia Belanda—Nusantara—turut mendorong tumbuhnya Politik Etis di tahun 1890-an.

Sebelum berkuasa di Demak, Tjondronegoro lebih dahulu menjadi Bupati Kudus dan Afdeling atau Residensi Jepara pada 1835.

Ketika itu, ia berhasil menyelesaikan persoalan kelaparan di Jepara. Karena dianggap berjasa menyelesaikan persoalan kelaparan itu, Pemerintah Hindia Belanda memberi gelar ”Pangeran” dan dikenal sebagai Pangeran Tjondronegoro IV. Sebelumnya, Tjondronegoro dikenal dengan Raden Mas Adipati Aryo Hadiningrat.

Bupati Sosroningrat yang mewarisi kombinasi keluhuran budaya Jawa dan pendidikan Barat meneruskan modernisasi tanpa meninggalkan identitas Jawa kepada putra-putrinya.

Salah satu putranya, RM Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini, mengenyam pendidikan Eropa di Jawa dan di Universitas Leiden, Belanda.

Didi menjelaskan, Sosrokartono dikenal sebagai polyglot yang menguasai belasan bahasa.

”Dia sangat cerdas. Wartawan perang pertama asal Indonesia yang meliput Perang Dunia I di Eropa. Dia juga menjadi penerjemah resmi dalam perundingan damai Perang Dunia I dan lalu menjadi penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa atau Volken Bonds,” kata Didi.

Salah satu media yang diwakili Sosrokartono adalah Herald Tribune yang kini dikenal sebagai koran International Herald Tribune. Dia mampu membuat berita dalam bahasa Inggris dan Perancis tanpa cacat.

Mengenai keahliannya berbahasa Perancis, ini turut diwariskan kepada RA Kartini dan adik-adiknya Kardinah, Roekmini, dan Soemarti.

Didi menunjukkan salah satu foto Kartini dan adik-adiknya ketika berada di sekolah yang mereka dirikan.

Kartini berdiri di depan papan tulis dengan mengajarkan cerita anak-anak dalam bahasa Perancis berjudul Le Petit Chaperon Rouge atau Si Tudung Merah.

Foto itu menjadi salah satu foto Ikonik Kartini dan sekolahnya yang menjadi koleksi KITLV, Institut Kerajaan Belanda untuk kajian Bahasa, Wilayah, dan Suku Bangsa di Asia Tenggara dan Karibia.

Sosrokartono oleh sineas Hanung Bramantyo digambarkan mewariskan buku-buku berbahasa Belanda dan lain-lain kepada adik tercintanya Trinil—nama kesayangan Kartini—yang mulai dipingit dan ditinggal Sosrokartono kuliah ke Belanda.

RA Kartini pun mewarisi semangat Revolusi Perancis soal liberte, egalite, et fraternite atau kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan dari Sosrokartono.

Putra tunggal

RA Kartini tercatat meninggal selang beberapa hari setelah melahirkan putra tunggal dari perkawinan dengan Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadhiningrat yang diberi nama Soesalit —soesah naliko alit—atau sulit sejak lahir karena ditinggal ibunda.

Soesalit lahir 12 September 1904 dan Kartini wafat 17 September 1904.

Didi menerangkan, Soesalit diasuh oleh neneknya, Mas Ajeng Ngasirah, ibu kandung Kartini. Sedangkan ayahnya, Djojoadhiningrat juga memiliki sifat moderat dan mendukung upaya Kartini membangun sekolah bagi kaum perempuan. Sesuatu yang tidak lazim di Jawa pada peralihan abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Sejarawan Hendri F Isnaeni mengatakan, Soesalit menjadi anggota PETA dan semasa perang kemerdekaan ia menjadi panglima di Divisi III Diponegoro yang membawahi Jawa Tengah bagian barat.

”Dia memegang kendali divisi dari 1946-1948. Dia dikenal sebagai jenderal kerakyatan dan mengidolakan Jenderal Chu Teh (Mandarin Zhu De) dari Tentara Pembebasan Rakyat yang menjadi panglima melawan Jepang di China semasa perang China- Jepang,” kata Hendri.

Menurut Hendri, Soesalit menggantikan Brigadir Jenderal Gatot Subroto sebagai Panglima Divisi di Jawa Tengah. Semasa Agresi II Belanda, Soesalit bergerilya di lereng Gunung Sumbing dan kemudian semasa restrukturisasi dan rasionalisasi, Soesalit diturunkan pangkat menjadi Kolonel lalu menjadi pejabat di Kementerian Perhubungan.

Kehidupan Soesalit sangat sederhana. Dia wafat di RSPAD, 17 Maret 1962. Pemakamannya di pemakaman keluarga Djojoadhiningrat di Rembang dipimpin Wakil KSAD Jenderal Gatot Subroto. Dia menerima Bintang Gerilya pada 1979.

Salah satu pesan yang diwariskan Soesalit adalah agar keturunannya tak membangga-banggakan diri sebagai keturunan Kartini dan harus selalu rendah hati. (Iwan Santosa)

Sumber: Kompas

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Gelar Evaluasi Innovative Government Award, Bupati Lukman Bidik Kabupaten Terinovatif 2026

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan berkomitmen memperkuat inovasi daerah untuk meningkatkan ...
SEMENTARA ITU...

32 Tim Pesantren Ikuti Liga Santri Bupati Cup 2026, Rijanto Dorong Persatuan

BLITAR – Sebanyak 32 tim futsal dari pondok pesantren se-Blitar Raya mengikuti Liga Santri Bupati Cup 2026. ...
KRONIK

Traktor Bantuan APBN Diduga Menyimpang, DPRD Jember: Dinas Pertanian Tidak Bisa Memberikan Data

JEMBER – Dugaan penyimpangan bantuan traktor dari APBN 2025 di Kabupaten Jember belum terjawab. Sejumlah kelompok ...
KRONIK

Gema 111.111 Al-Waqiah di Sumenep, Bupati Fauzi Ajak ASN Perkuat Budaya Religius

SUMENEP – Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menginisiasi gerakan pembacaan bersama 111.111 kali Surat Al-Waqiah. ...
KRONIK

Atasi Kekeringan Dampak El Nino, Sonny Salurkan Bantuan Air Bersih ke Siliragung

BANYUWANGI – Dampak musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino mulai dirasakan oleh sejumlah warga di wilayah ...
EKSEKUTIF

Promosi dan Mutasi Pejabat Pemkab Blitar Bakal Berbasis Manajemen Talenta

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto menegaskan promosi dan mutasi pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) ...