Kamis
21 Mei 2026 | 12 : 07

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Novita Hardini Minta Masifnya Promosi Pariwisata Indonesia Diimbangi Kesiapan Infrastruktur Dasar

pdip-jatim-260122-NH

JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, minta Kementerian Pariwisata fokus pada pembangunan infrastruktur dasar sebagai core strategy pariwisata nasional.

Dia menilai gencarnya promosi pariwisata Indonesia belum diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan rencana tata ruang destinasi yang memadai.

Legislator perempuan satu-satunya dari dapil 7 Jawa Timur itu mengatakan jika promosi pariwisata Indonesia yang saat ini dilakukan secara masif hingga ke luar negeri, bahkan melalui media seperti taksi-taksi di negara asing. Menurutnya, strategi tersebut tidak bijaksana.

“Promosi kita luar biasa gencar, sampai ke luar negeri. Tapi pertanyaannya, apakah infrastruktur kita sudah siap menerima wisatawan? Jelas belum. Harusnya anggarannya dipakai untuk membenahi akses-akses jalan menuju destinasi pariwisata dan pemerataan tata ruang pariwisata secara merata,” tegas Novita dalam rapat kerja bersama Menteri Pariwisata RI di Senayan, Rabu (21/1/2026).

Dia menilai sebagian anggaran promosi pariwisata lebih bijaksana dialihkan untuk pembenahan infrastruktur dasar, terutama akses jalan, sanitasi, konektivitas dengan moda transportasi publik antar destinasi.

“Promosi tanpa kesiapan infrastruktur itu seperti menjual janji. Kementerian pariwisata belum menyiapkan strategi visi jangka panjang yang lebih subtansial untuk kemajuan pariwisata alih alih hanya fokus mengerjakan proyek event saja.” ujarnya.

Politisi PDI Perjuangan asal Trenggalek itu mengatakan, jika rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan rencana detail tata ruang (RDTR) dalam pembangunan pariwisata tidak diimplementasikan, mala pemerataan destinasi wisata akan sulit tercapai.

“Overtourism hanya di satu titik saja, dan under utilization di titik lain, serta rusaknya alam karena exploitasi untuk kepentingan wisata berlebihan,” sebutnya.

Dia menilai Kementerian Pariwisata belum cukup kuat memastikan pembangunan destinasi berjalan selaras dengan tata ruang ekologis.

Selain itu, ia menyoroti lemahnya koordinasi lintas kementerian, khususnya dengan Kementerian PUPR, Perhubungan, KLHK, dan BUMN, dalam pembangunan fisik pendukung pariwisata.

“Pariwisata tidak bisa hanya berbicara event dan promosi saja. Pariwisata harus lebih berani memikirkan grand desain infrastruktur 10 tahun mendatang, jika tidak pariwisata Indonesia akan tenggelam,” tegas Novita.

Dia juga menyinggung pengelolaan lingkungan yang masih bersifat reaktif. Menurutnya, banyak bencana di kawasan wisata terjadi karena negara terlambat melakukan pencegahan.

“Kita sering baru bergerak setelah bencana terjadi. Ironinya, negara gurun (middle east) yang kering saja justru sangat peduli menjaga kelestarian lingkungannya dibanding negara kita yang sudah dianugerahi Tuhan, kaya akan alam,” ungkapnya.

Novita menekankan pentingnya menyiapkan program-program preventif dalam menjaga alam, bukan sekadar penanganan darurat setelah kerusakan terjadi.

Dirinya mendorong agar Kementerian Pariwisata memiliki visi jangka panjang agar Indonesia bisa menjadi global-hub tourism seperti negara-negara Timur Tengah yang secara konsisten membangun industri pariwisata secara berkelanjutan.

Menurutnya, pengembangan pariwisata nasional harus diarahkan pada optimalisasi yang berbasis sistem tata ruang ekologis dan zonasi yang jelas, sekaligus zonasi dan aturan jelas batas harga terendah dan tertinggi produk UMKM lokal di sekitar pariwisata.

“Indonesia punya peluang besar menjadi global hub tourism bagi wisatawan asing dengan keperluan yang berbeda-beda. Ada yang suka alam, ada yang suka budaya, ada yang suka berbisnis. Maka masing-masing preferency kebutuhan wisatawan adalah dasar grand design zonasi wisata berbasis pengalaman wisata. Tidak hanya sekedar proyek event dan branding saja,” urai Novita.

Dia menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan bukan sekadar slogan, melainkan pilihan strategis agar Indonesia tidak hanya ramai dikunjungi, tapi juga dihormati sebagai destinasi kelas dunia.

“Pariwisata harus dibangun dengan visi jangka panjang, bukan sekadar promosi. Kalau fondasinya kuat, branding akan datang dengan sendirinya,” tutupnya. (nia/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

PDI Perjuangan Jatim Siapkan Kaderisasi hingga Tingkat Akar Rumput

Deni Wicaksono mendorong kader muda PAC PDIP Pacitan aktif belajar dan berjuang bersama partai melalui penguatan ...
LEGISLATIF

Upacara Gabungan, Plt Ketua DPRD Magetan Tekankan Keselarasan SDM dan Kelestarian Lingkungan

MAGETAN – Plt. Ketua DPRD Kabupaten Magetan, H. Suyatno, menghadiri Upacara Gabungan Peringatan Hari Pendidikan ...
LEGISLATIF

Anas Karno Pastikan Pemerintahan Surabaya Tetap Stabil Selama Eri Cahyadi Naik Haji

Anas Karno memastikan pemerintahan Surabaya tetap stabil selama Wali Kota Eri Cahyadi menunaikan ibadah haji. ...
LEGISLATIF

Ini, Poin-Poin Pendapat Akhir Fraksi PDIP DPRD Tulungagung terhadap 5 Raperda

TULUNGAGUNG – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Tulungagung menyampaikan pendapat akhir terhadap 5 (lima) ...
KRONIK

Sengketa Lahan Warga Parsanga, H. Zainal Dorong Penyelesaian secara Dialog dan Aturan Hukum

SUMENEP – Sejumlah warga Desa Parsanga, Kabupaten Sumenep, mengadukan dugaan sengketa lahan terkait rencana ...
KRONIK

Kader Muda PDI Perjuangan Pacitan Diminta Aktif Bangun Konten Politik Kreatif

Deni Wicaksono mendorong kader muda PDIP Pacitan aktif memanfaatkan media sosial untuk kritik program pemerintah ...