Kamis
06 Agustus 2026 | 9 : 47

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Nihil Anggaran BPJS Buruh Tani 2026, DPRD Jember Soroti Prioritas APBD

pdip jatim 250706 candra

Nihilnya anggaran BPJS buruh tani Jember 2026 disorot DPRD, sementara program seremonial justru bernilai miliaran.

JEMBER — Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, menyoroti nihilnya anggaran BPJS Ketenagakerjaan bagi ribuan buruh tani di Kabupaten Jember pada tahun 2026. Kebijakan tersebut dinilai mencerminkan lemahnya keberpihakan anggaran terhadap perlindungan tenaga kerja sektor pertanian.

Fakta ini terungkap dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Komisi B DPRD Jember dan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP), Senin (4/5/2026).

Pada APBD 2025, sebanyak 10.235 buruh tani masih mendapatkan perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Namun pada 2026, alokasi tersebut justru tidak tersedia sama sekali.

Kondisi ini kontras dengan adanya anggaran miliaran rupiah untuk kegiatan seremonial.

Sekretaris Dinas TPHP, Sigit Boedi, mengakui adanya alokasi anggaran sebesar Rp2,6 miliar yang digunakan untuk kegiatan temu tani dalam program Bunga Desa dan Gus Menyapa.

“Anggaran Rp2,6 miliar itu digunakan untuk kegiatan temu tani yang dibagi dalam program Bunga Desa dan 12 kali Gus Menyapa,” ujarnya dalam forum RDP.

Ia juga mengakui kondisi tersebut memprihatinkan bagi buruh tani yang kehilangan perlindungan.

Ketua Komisi B Candra Ary Fianto, menilai kebijakan tersebut menunjukkan ketidaktepatan dalam menentukan prioritas anggaran daerah.

Menurutnya, dana miliaran rupiah seharusnya dapat dialihkan untuk menjamin perlindungan dasar buruh tani melalui BPJS Ketenagakerjaan.

“Anggaran sebesar itu akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk melindungi buruh tani dibandingkan kegiatan seremonial,” tegasnya.

Candra menegaskan, penghapusan anggaran BPJS bukan sekadar persoalan administratif, tetapi berdampak langsung terhadap keamanan kerja buruh tani.

“Ini bukan hanya soal anggaran, tapi soal perlindungan. Tanpa BPJS, buruh tani berpotensi kehilangan jaminan dasar dalam bekerja,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Ia juga menilai kondisi ini menjadi indikator bahwa kebijakan anggaran daerah belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat lapisan bawah. “Ini menjadi cerminan bahwa keberpihakan terhadap masyarakat kecil masih lemah,” pungkasnya. (art/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Tekan Timbulan Sampah ke TPA Benowo, Eri Cahyadi Wajibkan ASN Pilah Sampah dari Rumah

SURABAYA – Wali Kota Eri Cahyadi mewajibkan seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota ...
KRONIK

Hj. Ansari Tegaskan Peran Penting P2K2, Ajak Keluarga Prioritaskan Pendidikan Anak

PAMEKASAN – Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, mengatakan bahwa Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga ...
SEMENTARA ITU...

Mas Dhito Beri Beasiswa dan Peralatan Las untuk Peraih Emas LKS Nasional 2026

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana memberikan beasiswa hingga perguruan tinggi dan peralatan las kepada Moh. ...
LEGISLATIF

DPRD Jatim Targetkan Komisi Disabilitas Pertama di Indonesia Terbentuk Agustus 2026

DPRD Jawa Timur menargetkan pembentukan Komisi Disabilitas pertama di Indonesia melalui penyelesaian Raperda ...
PEREMPUAN

PWI Gresik Nobatkan Nila Yani Jadi Tokoh Inspiratif Penggerak UMKM

GRESIK – Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Gresik-Lamongan, Nila Yani Hardiyanti dikenal sebagai wakil rakyat yang ...
LEGISLATIF

Andreas Eddy Susetyo Dorong Evaluasi KUR, UMKM Harus Naik Kelas Lewat Pendampingan Usaha

BATU – Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, mendorong pemerintah ...