BANYUWANGI – Memasuki era digital seperti saat ini, aktivitas kehidupan sosisal masyarakat telah banyak mengalami perubahan. Salah satunya adalah hilangnya budaya dan kearifan lokal yang menjadi indentitas masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Menyadari hal tersebut, Wakil Bupati Banyuwangi, H. Sugirah berusaha untuk mengajak masyarakat melestarikan budaya dan kearifan lokal. Menurutnya, budaya dan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur Bumi Blambangan, menyimpan sejuta kebaikan serta menanamkan nilai sosial yang baik.
Salah satu budaya kearifan lokal yang harus tetap lestari, menurut Sugirah, adalah “Ngewongke Marang Liyan”. Tradisi ini adalah warisan turun-temurun yang mengajarkan kebiasaan saling menghormati dan menghargai antar sesama tanpa memandang status sosial.
“Warisan leluhur kita jangan sampai hilang terkikis oleh zaman yang semakin modern. Kearifan lokal ini adalah tanggung jawab kita sebagai generasi penerus, karena merupakan produk budaya yang patut dijadikan pegangan hidup sebab menyimpan banyak nilai dan norma sosial yang bisa diteladani,” kata Sugirah saat ditemui di salah satu warung pedagang kaki lima, Sabtu (25/9/2021).
Bendahara DPC PDI Perjuangan Banyuwangi tersebut, mengungkapkan dirinya selalu berpegang teguh pada kebiasaan itu. Tak heran, jika wakil bupati yang akrab disapa Pakde Sugirah ini lebih sering turun ke masyarakat sekedar untuk berbaur dan ngobrol besama.
Dengan cara seperti itulah Sugirah ingin mengajak masyarakat untuk terus melestarikan tradisi “Ngewongke Marang Liyan” ini. Dengan begitu, antar sesama masyarakat tidak akan ada sekat saling menghormati dan menghargai tanpa melihat status sosial dan jabatan.
“Di dalam tradisi ini kita semua diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai tanpa membedakan status sosial dan jabatan. Ketika itu benar-benar dijalankan kerukunan dan kekompakan akan muncul, dan insya Allah membawa banyak kebaikan untuk Banyuwangi,” ungkap Pakde Sugirah.
Sebagai kader PDI Perjuangan, Wakil Bupati Banyuwangi ini, juga penganut Trisakti Bung Karno. Sebuah wejangan agung dari Sang Proklamator Republik Indonesia, Bung Karno, untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan sebagai bentuk revolusi suatu bangsa.
“Saya berpegang teguh pada cita-cita luhur Bapak Proklamator kita, yaitu konsep Trisakti. Di dalam konsep tersebut disebutkan, sebagai sebuah bangsa kita harus memiliki kepribadian yang berkebudayaan, sehingga saya meyakini bahwa budaya warisan leluhur Bumi Blambangan juga merupakan jawaban atas segala kesulitan,” cetusnya.
Kader banteng ini pun menginginkan agar konsep Trisakti Bung Karno ini, bisa digatuk tularkan pula pada masyarakat Banyuwangi. Salah satunya dengan cara mengajak masyarakat untuk tidak lupa akan tradisi dan kearifan lokal warisan para leluhur seperti tradisi “Ngewongke Marang Liyan” ini.
Selain itu, Sugirah mengatakan, menjaga tradisi dan kearifan lokal adalah agar para penerus bangsa tidak akan kehilangan identitas kebudayaannya. Karena bangsa Indonesia besar karena kekayaannya dan keberagaman budaya dan tradisinya.
“Kita ingin seni, budaya, dan tradisi kearifan lokal kita masih bisa dinikmati anak cucu kita kelak, agar mereka tidak kehilangan jati diri bangsanya. Untuk itu, yuk kita terus nguri-uri kearifan lokal,” pungkasnya. (ryo/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













