Kamis
05 Maret 2026 | 9 : 20

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Naskah Lengkap Pidato Politik Megawati di Kongres VI PDI Perjuangan

20250802_151857_copy_922x603
Ketua Umum PDI Perjuangan, Hj Megawati Soekarnoputri berpidato dalam acara penutupan kongres ke-VI di Badung, Bali, Sabtu (2/8/2025). Foto: pdiperjuangan-jatim.com

BADUNG – Hj Megawati Soekarnoputri, ketua umum terpilih dalam kongres ke-VI PDI Perjuangan menyampaikan pidato politik sekaligus menutup forum tertinggi Partai yang berlangsung di Badung, Bali, Sabtu (2/8/2025).

Berikut naskah lengkap pidato berjudul SATYAM EVA JAYATE:
BERDERAP DALAM SATU RAMPAK BARISAN.

Assalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiyastu,
Namo Budaya, Shalom,
Salam Kebajikan, Rahayu.
Marilah kitaterlebih dahulu memekikkan salam Nasional kita,
Salam Pancasila!!
Merdeka!! Merdeka!!! Merdeka!!!

Saudara-saudara sebangsa dan
setanah air, Kader-kader PDI
Perjuangan yang saya cintai,
Sebelum saya menyampaikan
pidato politik ini, izinkan saya
mengungkapkan duka cita yang mendalam atas wafatnva Bapak Kwik Kian Gie pada 28 Juli 2025 dalam usia 90 tahun dan Bapak Ida Pedanda Gede Sadhawa Jelantik Putra pada 31 Juli 2025 dalam usia 86 tahun. Selamat
jalan, Bapak Kwik Kian Gie dan Bapak Ida Pedanda Gede Sadhawa Jelantik Putra. Doa kami menyertai perjalanan saudara berpulang ke alam keabadian dalam damai dan bakti.

Yang terus saya amati adalah situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan Israel. Kekhawatiran terbesar saya adalah kalau sampai Selat Hormuz itu ditutup. Jangan pilkir hal-hal seperti ini jauh dari urusan kita. Ada yang bilang, “Ibu ngapain sih ngomongin urusan luar negeri?” Loh, kita ini harus melihat, ada dampaknya enggak ke Indonesia? Sangat ada.

Kalau Selat Hormuz ditutup, dampaknya langsung terasa. Apa? Harga minyak bisa melonjak naik. Ini yang harus kita pikirkan secara serius. Teman-teman partai, sekarang ini kan bisa belaiar, bisa mencari informasi dengan mudah. Coba saja cek sendiri, apakah benar atau tidak. Jangan hanya berpikir instan. Tidak bisa begitu.

Orang partai itu harus cerdas, harus pintar. Waktu Saya diwawancarai wartawan luar negeri, saya juga berbahasa Inggris karena harus bisa menjawab dengan benar. Waktu itu mereka tanya, “Akan pergi sendiri atau tidak?” Saya jawab, “Saya mau ke kantor polisi.” Karena waktu itu saya memang dipanggil sebagai saksi oleh kejaksaan, dan diintergasi polisi sampai tiga kali. Dari jam delapan pagi sampai tengah malam. Itu konsekuensi sebagai orang politik.

Coba kalian baca sejarah. Bung Karno itu mulai berpolitik umur 16 tahun, kerjanya keluar masuk penjara, lalu dibuang. Sebenarnya, kenapa kok mau begitu? Karena ada keinginan, ada idealisme bahwa Indonesia harus menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Dan alhamdulillah, itu yang terjadi.

Itulah semangat yang selalu saya bawa. Tadi juga sudah terlihat dari perjalanan saya, dari tahun ke tahun. Saya masuk PDI itu tahun ’86, lalu pada tahun ’87 masuk DPR dan terpilih tiga kali berturut-turut. Jawa Tengah mana? Oh, itu yang di belakang, Awas ya, jangan sampai memalukan saya lagi. Jadi tidak usah teriak-teriak, yang penting kerjakan sesuai arahan. Dulu di fraksi, saya dari PDI itu hanya empat orang, kecil jumlahnya. Kalau dulu itu, fraksi-fraksi besar seperti Golkar, PPP, Fraksi ABRI. Tapi meskipun kecil, PDI itu “kecil-kecil cabe rawit”.

Hari ini, kita kembali berkumpul di
tanah Bali, tanah yang menjaga warisan luhur Nusantara, di mana keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa
dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah, dalam napas peradaban dan spiritualitas
yang agung, kita selenggarakan Kongres VI PDI Perjuangan.

Kongres ini bukan sekadar agenda
organisasi lima tahunan. Ia adalah kawah candradimuka ideologis, tempat kita mempertajam kesadaran politik, mempertegas arah perjuangan, dan meneguhkan tekad bersama. Kongres ini adalah tempat kita berdiri sebagai satu tubuh, satu tekad, satu cita-cita. Inilah saatnya bagi kita menyatukan pikiran dan hati, merapatkan barisan, dan memperkuat kesetiaan pada garis
ideologis Partai.

Tema Kongres kita kali ini adalah SATYAM EVAJAYATE: BERDERAP DALAM SATU RAMPAK BARISAN. Dari Bung Karno, kita belajar bahwa persatuan adalah senjata kita dalam memperjuangkan kebenaran itu. Kita tidak akan mampu memenangkan kebenaran
jika kita tercerai-berai, jika kita terjebak dalam pertikaian internal, dan jika kita tidak disiplin dalam satu rampak barisan perjuangan.

Sejarah Kongres kita bukanlah sekadar rangkaian seremoni, melainkan rekam jejak perjuangan ideologis:

Kongres I tahun 2000: menandai
dimulainya proses pelembagaan partai secara sistematis pasca reformasi.

Kongres I Tahun 2005: kita teguhkan kaderisasi sebagai nadi utama perjuangan.

Kongres III Tahun 2010: kita mantapkan Pancasila 1 Juni sebagai jantung ideologi Partai.

Kongres IV Tahun 2015: kita canangkan PDI Perjuangan sebagai Partai Pelopor.

Kongres V Tahun 2019: kita perkuat posisi sebagai partai ideologis yang berdiri di atas
pemikiran Bung Karno.

Bung Karno pernah menegaskan bahwa Partai Pelopor hanya bisa terwujud apabila kader-kadernya berdisiplin tinggi—Disiplin Organisasi, Disiplin Ideologi, Disiplin Teori, Disiplin Gerakan, dan Disiplin Tindakan.

Maka hari ini, dalam semangat kritik dan otokritik yang menjadi bagian dari langgam
kerja Partai kita, saya mengajak kita semua untuk merenung dan bertanya dengan jujur kepada
diri kita sendiri: Sudahkah kita melaksanakan ajaran Bung Karno tersebut? Sudahkah kita
membuktikan bahwa kita layak disebut sebagai kader Partai Pelopor? Pertanyaan ini bukan
untuk mencari-cari kesalahan, melainkan untuk memperkuat kembali arah perjuangan
kita, agar cita-cita besar yang diwariskan Bung Karno tidak berhenti sebagai slogan, tetapi
benar-benar kita hidupkan dalam kerja nyata dan pengabdian yang konsisten.

Sebab Bung Karno mengajarkan kepada kita: “Salah satu ciri daripada pejuang sejati ialah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan.” Saya tidak butuh kader yang hanya pandai beretorika. Saya
butuh kader yang rela turun ke bawah, menyatu dengan Rakyat, dan menegakkan garis ideologi Partai.

Saudara-saudara sekalian, Kawan-kawan seperjuangan,
Saudara-saudara telah memilih saya kembali sebagai Ketua
Umum melalui Rakernas V Partai pada tahun 2024. Saya terima dengan penuh rasa tanggung jawab, bukan dengan kegembiraan, tetapi dengan perenungan. Karena kepercayaan itu bukan pujian. Ia adalah beban sejarah. Kepercayaan itu bukan hadiah. Ia adalah perintah Rakyat dan amanah ideologis.

Saya bukan Ketua Umum untuk dilayani. Saya adalah Ketua Umum karena saya dipercaya untuk menjaga api ideologi agar tidak padam. Jika audara-saudara
memberikan saya mandat, maka jalankan instruksi saya dengan penuh kesetiaan. Kalau tidak siap, lebih baik mundur secara ksatria. Jangan jadikan Partai ini sebagai tempat berlindung dari kesalahan atau arena mencari kekuasan pribadi.

Setelah Kongres ini, saya instruksikan dengan tegas kepada seluruh jajaran Partai: tuntaskan
Konferda, Konfercab, dan Musancab selambat-lambatnya Desember 2025. Jangan ditunda! Jangan diabaikan! Ingat, musuh kita bukan hanya kekuatan
dari luar. Musuh yang paling berbahaya justru berada di dalam diri kita sendiri: zona nyaman, kemalasan, dan ketidaksungguhan
dalam berjuang sebagai kader Partai. Kita harus memastikan bahwa struktur Partai tidak sekadar menjadi papan nama, tetapi hidup, hadir, dan bekerja nyata di di tengah-tengah Rakyat.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Kader-kader PDI Perjuangan yang saya cintai,

Hari ini kita berkumpul dalam suasana yang diselimuti keprihatinan mendalam terhadap
kondisi global. Dunia tidak sedang baik-baik saja. Awan gelap kembali menggantung di langit geopolitik internasional. Peradaban tengah diguncang oleh gelombang kerakusan kekuasaan, perebutan sumber daya, dan hegemoni negara-negara adidaya yang terus berusaha memaksakan kehendaknya atas bangsa-bangsa lain. Kita tidak boleh menutup
mata. Kita harus hadapi kenyataan ini dengan keberanian, kejernihan nurani, dan keteguhan sikap.

Situasi dunia saat ini dipenuhi ketegangan dan konflik yang saling berkelindan. Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung lebih dari 1.255 hari, menjadi ajang benturan, antara NATO dan Rusia yang mengguncangekonomi global. Ketegangan antara Israel dan Iran berpotensi memicu blokade Selat Hormuz, yang pada gilirannya dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Suriah porak- poranda setelah kekuasaan Bashar al-Assad digulingkan oleh Hayat Tahrir al-Sham, kelompok radikal yang memicu perang saudara dan pembantaian etnis, sementara negara itu kini diperebutkan oleh kekuatan regional dan global.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mencerminkan perebutan dominasi hegemoni global yang menyebabkan kerusakan rantai pasok, perlambatan ekonomi,
dan inflasi global. Di Asia Timur, ketegangan di Laut Tiongkok Selatan serta eskalasi militer di Semenanjung Korea memperbesar risiko pecahnya konflik terbuka. Bahkan Asia Tenggara pun tidak steril dari kekerasan, seperti terlihat dalam sengketa perbatasan Thailand-Kamboja yang menelan korban jiwa dan memaksa ribuan warga sipil mengungsi. Semua ini memperlihatkan bahwa dunia
tengah berada dalam ketegangan geopolitik yang kian tak menentu dan mengancam stabilitas global, yang dampaknya bisa menjalar
ke mana saja termasuk Indonesia.

Dalam pertemuan internasional yang saya hadiri baru-baru ini, Global Civilizations Dialogue
Ministerial Meeting yang diselenggarakan pada tanggal 10-11 Juli 2025 di Beijing, Tiongkok. Saya menyaksikan
langsung bagaimana dunia kini sedang berada di persimpangan sejarah yang menentukan.

Situasi internasionai hari ini dak lagi stabil, bahkan bisa dikatakan beradadi tengah arus besar pergeseran kekuatan global.
Di forum tersebut, para pemimpin dan cendekiawan dari berbagai bangsa menegaskan bahwa: konfrontasi geopolitik dan blok-
blok kekuatan bermunculan, unilateralisme dan proteksionisme kembali menguat, perkembangan ekonomi lobal mengalami berbagai guncangan, kesenjangan teknologi dan digital semakin melebar, serta serta krisis perubahan iklim semakin serius.

Di forum internasional itu, saya berdiri dengan keyakinan bahwa kekuatan sejati bukan pada senjata atau ekonomi, tetapi pada nilai dan moral. Dan sebagai bangsa yang besar, kita idak boleh hanya menjadi penonton dalam sejarah dunia yang sedang ditulis ulang.

Indonesia tidak boleh buta, tidak boleh bisu, dan tidak boleh berpangku tangan. Kita harus aktif membangun tata dunia baru
yang lebih adil dan damai. Kita harus tetap berpegang pada politik luar negeri bebas aktif. Bebas dari blok kekuasaan manapun, namun aktif memperjuangkan kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian dunia.

Sebagaimana Bung Karno tegaskan dalam pidato To Build the World Anew:
“Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya
yang penuh.

Semangat itu, semangat membangun dunia yang adil dan beradab, tidak bisa lahir dari bangsa yang lemah dan tercerai-
berai. la hanya bisa diwujudkan
oleh bangsa yang bersatu, disiplin, dan teguh membela kebenaran.

Dalam forum itu pula, saya menyerukan kemerdekaan Palestina, yang sampai hari ini
masih berjuang untuk hak dasarnya sebagai sebuah bangsa merdeka.

Saudara-saudara sekalian, Kawan-
kawan seperjuangan,

Di penghujung pidato politik ini, saya ingin menegaskan satu hal yang kerap disalahpahami dalam ruang demokrasi kita bahwa dalam sistem pemerintahan presidensial seperti yang kita anut, tidak dikenal istilah oposisi dan koalisi. Demokrasi kita bukan demokrasi blok-blokan kekuasaan, melainkan demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan Rakyat dan konstitusi.

Oleh karena itu, PDI Perjuangan tidak memosisikan diri sebagai oposisi, dan juga tidak semata-mata mnembangun koalisi kekuasaan. Kita adalah partai ideologis yang berdiri di atas kebenaran, berpihak pada Rakyat, dan bersikap tegas sebagai partai penyeimbang demi menjaga arah pembangunan nasional tetap berada dalam rel konstitusi dan kepentingan Rakyat banyak.

Kita akan mendukung setiap kebijakan pemerintah yang berpihak pada Rakyat, namun kita juga akan bersuara lantang dan bertindak tegas terhadap
setiap penyimpangan dari nilai- nilai Pancasila, keadilan sosial, dan amanat penderitaan Rakyat.

Sebab bagi kita, keberpihakan bukan soal berada di dalam atau di luar pemerintahan tetapi soal setia pada kebenaran dan berpijak
pada moralitas politik yang diajarkan oleh Bung Karno.

Maka mari kita jaga terus peran strategis PDI Perjuangan dalam wajah demokrasi Indonesia: sebagai kekuatan ideologis, sebagai penyeimbang konstitusional, dan sebagai
pelopor perjuangan Rakyat!

Sejarah telah membuktikan, hanya dengan persatuan, disiplin, dan keberanian membela kebenaran, bangsa ini merdeka, bangsa ini
berdiri tegak, dan Rakyatnya berdaulat di tanah airnya sendiri.

Kebenaran yang kita perjuangkan bukan untuk kepentingan golongan, bukan untuk kepentingan kekuasaan semata, tetapi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, agar petani, nelayan,
buruh, guru, anak-anak bangsa, dapat hidup dengan bermartabat.

Saya mengajak seluruh kader PDI
Perjuangan. Mari kita berderap dalam satu rampak barisan. Mari kita satukan langkah, satukan suara, satukan hati. Mari kita
menangkan kebenaran dengan keberanian. Karena kebenaran pasti menang.

Kepada Bung Karno, izinkan kami
berjanji di Kongres VI ini. Kami akan terus setia pada Pancasila, pada Trisakti yang akan kami wujudkan melalui Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana, dan pada kebenaran yang engkau ajarkan, demi terwujudnya Indonesia Raya yang
sejati-jatinya.

Dengan mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan berakhirnya pidato saya ini, maka Kongres VI PDI Perjuangan secara resmi saya tutup.

Saya mengucapkan terima kasih yang setinggi- tingginya kepada seluruh utusan yang hadir dari segenap penjuru tanah air. Kembalilah ke daerah masing-masing dengan tertib, penuh kehormatan, dan bawalah api semangat Kongres ini kepada para simpatisan dan kader Partai.

Saya juga menyampaikan penghargaan yang mendalam kepada seluruh kader Partai di
pelosok bumi Nusantara yang terus berjuang tanpa kenal lelah, kepada Satgas dan Pecalang
yang menjaga keamanan dan ketertiban, kepada pihak Bali Nusa Dua Convention Center yang telah memberikan dukungan penuh, masyarakat Bali yang dengan tulus menyambut kita, serta seluruh pihak yang memungkinkan Kongres ini terselenggara dengan baik, khidmat, dan penuh makna.

Saudara-saudara sekalian, dari Bali, tanah peradaban Nusantara, kita mengirimkan pesan kepada seluruh Indonesia dan dunia. PDI
Perjuangan tetap berdiri tegak sebagai benteng pemikiran, ide, gagasan, dan cita-cita Bung Karno, sebagai penjaga Pancasila, dan sebagai pelopor perjuangan Rakyat.

Mari kita pulang dengan membawa satu tekad yang sama: menyatukan langkah merapatkan barisan, dan memenangkan kebenaran demi kejayaan Indonesia Raya Indonesia yang sejati-jatinya Merdeka.

SATYAM EVA JAYATE!
Kebenaran pasti menang!
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Om Santi Santi Santi Om,
Merdeka!! Merdeka!!! Merdeka!! (hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Buka Puasa di Teras Gereja, Wiwin: Ini Contoh Kampung Toleransi

JOMBANG – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wiwin Isnawati Sumrambah, memberikan apresiasi pada Gereja ...
KRONIK

Ini Harga Sembako di Pasar Walikukun Ngawi, Pantauan Wabup Antok

NGAWI – Menjelang Idul Fitri 1447 H, Pemerintah Kabupaten Ngawi memperketat pemantauan harga dan ketersediaan bahan ...
HEADLINE

PDI Perjuangan Jatim Tegaskan Partai Wong Cilik, Hadirkan Kebahagiaan bagi Ratusan Yatim dan Janda

SURABAYA – DPD PDI Perjuangan Jatim menegaskan komitmennya sebagai partai wong cilik yang religius. Hal itu ...
LEGISLATIF

Ganggu Hak Pejalan Kaki, Candra Soroti Reklame di Bahu Jalan Jember

JEMBER – Semrawutnya penempatan papan reklame, baliho, hingga videotron yang memanfaatkan trotoar dan bahu jalan ...
EKSEKUTIF

Komitmen Memajukan Olahraga, Bupati Gresik Beri Bonus Rp 9,3 M Atlet

GRESIK – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyerahkan bonus dan penghargaan kepada para atlet, pelatih, asisten ...
KRONIK

Kiai Fahmi: Nuzulul Quran PDI Perjuangan Jatim Bukti Nyata Teladan yang Dianjurkan Rasul

SURABAYA – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, KH. Fahmi Amrullah Hadziq, mengapresiasi ...