oleh

Nasgor Banteng Pur, Legenda Kuliner yang Bertahan di Tengah Pandemi

-UMKM-47 kali dibaca

PONOROGO – Pandemi Covid-19 seperti badai bagi para pelaku usaha. Mereka harus lihai dan kreatif untuk menyiasati penurunan omzet yang drastis. Mereka juga harus bertahan, agar usahanya tetap jalan.

Edi Purwanto – kami biasa memanggilnya Pak Pur – yang tinggal di Jalan Jaksa Agung Kecamatan Ponorogo, merupaka pelaku usaha nasi goreng yang bertahan di tengah hempasan pandemi Covid-19. Bersama istri tercintanya, Pak Pur merintis usahanya sejak tahun 1989 silam.

Ditemui di rumahnya -yang sekaligus tempatnya berjualan- Ketua PAC Kecamatan Ponorogo itu mengaku, di awal pandemi tahun lalu, omzetnya turun drastic, hingga 70 persen.

“Selama pandemi menurun sekitar 70 persen. Pendapatan pokoknya parah tahun kemarin. Tahun ini, alhamdulillah Kembali stabil,” ujar Pak Pur, Rabu (12/5/2021).

Walaupun turun drastis, Pak Pur bertahan. Usaha nasi gorengnya terus mengepul. Kegigihannya pun membuahkan hasil. Lambat-laun pendapatannya stabil kembali. Bahkan, menjelang lebaran, pundi-pundi nasi gorengnya mengalami kenaikan signifikan.

“Mau lebaran ada peningkatan dikit. Kalau pendapatan nggak mesti, yang penting bisa buat makan,” ujar ayah dua anak itu sambil tertawa.

Selain nasi goreng, Pak Pur juga menjual nasi mawut, bakmi godog, bakmi goreng, dan capjay. Semua menu dibandrol dengan harga 12 ribu rupiah. “Awalnya 10 ribu, dinaikkan 2 ribu ini karena bahan-bahan seperti sayur dan telur juga mengalami kenaikan. Namun porsi tetap ditambah dan pelanggan tidak berkurang.”

Nasgor Pak Pur sudah dikenal di wilayah Kecamatan Ponorogo. Pelanggan tetapnya cukup banyak, terutama para pengurus DPC PDI Perjuangan Ponorogo. “Orang-orang sudah tahu karena sudah lama, jadi pelanggannya banyak. Orang DPC juga ada yang langganan di sini,” imbuh Pak Pur.

Cerita unik Pak Pur jelang petang itu, adalah persoalan menu laki-laki dan perempuan. Menurut Pak Pur, para pelanggan laki-laki lebih menyukai nasi goreng, sedangkan para perempuan kebanyakan suka capjay.

“Kalau perempuan suka capjay. katanya buat diet,” jelas Pak Pur.  

Keunikan lainnya, kalau kita biasanya sering menjumpai penjual sekaligus tukang masak nasi goreng adalah laki-laki, tapi tidak dengan nasi goreng Pak Pur. Justru sang istrilah yang lihai memasak nasi goreng. Pak Pur sendiri membantu membuatkan minuman dan mengantarkan pesanan. Kadang pula dibantu oleh kedua anaknya. Usahanya buka mulai pukul 17.00 sampai 23.30. (jrs/set)