Jumat
04 April 2025 | 2 : 50

Musik Tongling dan Para Ksatria Perambah Belantara Gunung Lawu

pdip-jatim-magetan-diana-sasa-290421.b

MAGETAN – Tongling, akronim dari alat musik kentongan dan seruling.  Dalam hikayatnya, tongling dimainkan para ksatria untuk me-ninabobo-kan makhluk halus yang mengganggu mereka saat membabat hutan belantara untuk pemukiman yang kini dikenal dengan nama: Dusun Wonomulyo.

Dusun ini bagian dari Desa Genilangit Kecamatan Poncol. Berada di kaki Gunung Lawu, Wonomulyo kerap berselimut kabut.

Tongling, kedua alat musik ini terbuat dari bambu. Di daerah ini bambu memang tumbuh subur dan beranak pinak dalam rumpun. Sehingga untuk mendapatkan bahan tongling bisa didapat dengan mudah.

Kesenian musik Tongling di tempat ini, saat sekarang dibina oleh Diana Amaliya Verawatiningsih atau akrab disapa Diana Sasa, anggota DPRD Jatim dari Fraksi PDI Perjuangan. Hal itu seperti diakui oleh salah seorang pengurus kelompok musik Tongling Pringgowulung, Winarto.

Sebagai sebuah seni musik, tidak diketahui secara pasti sejak kapan kesenian musik tongling dimainkan. Hanya saja, menurut Winarto, pada 21 Januari 1992 ada 4 warga yang mendirikan kelompok musik. Mereka: Jono (almarhum), Sastro Sarengat, Supono dan Darsono. Kelompok musik itu yang kemudian menggunakan peralatan tongling sekaligus menjadikannya nama kelompok, yakni Tongling Pringgowulung.

Lanjut Winarto, ketika itu, salah seorang pendiri kelompok yakni Jono almarhum, terinspirasi dari sejarah babat Dusun Wonomulyo. Dimana tongling digunakan saat proses babat dusun.

Babat dusun dimulai saat ksatria dari Keraton Mataram Ki Hajar Wonokoso (leluhur dusun) bersama 7 pengikutnya datang ke hutan belantara di kaki gunung Lawu. Mereka bermaksud membabat hutan untuk pemukiman. Tetapi babat hutan bukan hal yang mudah.

“Sebelum menjadi pemukiman, Dusun Wonomulyo adalah hutan belantara. Hutan rimba yang dihuni banyak jin dan lelembut (makhluk halus),” ungkap Winarto Rabu (28/04/2021).

Namun, Ki Hajar Wonokoso tak gentar menghadapi semua halangan. Dikisahkan jika ia memiliki senjata berupa seruling sakti. Begitu seruling dimainkan sembari ngidung (berdendang), para mahkluk halus tersebut merasa nyaman dan tenang seperti di-ninabobo-kan.

Sementara kentongan, ditabuh Ki Hajar Wonokoso untuk mengumpulkan para pengikutnya dalam proses babat Dusun Wonomulyo tersebut.

Atas dasar cerita itu, Jono almarhum dan seniman lokal mengabadikan sejarah babat Dusun Wonomulyo dengan mengekspresikannya dalam bentuk kesenian musik tongling. Kini, musik tongling kerap ditampikan pada even di tingkat lokal bahkan nasional. (rud/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

HEADLINE

Kada PDI Perjuangan yang Absen di Retret Gelombang I, Megawati Instruksikan Ikut Gelombang II

JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memerintahkan para kepala daerah dari partai berlambang ...
KRONIK

Rencana Pertemuan Megawati-Prabowo, Jubir PDI Perjuangan: Bicarakan Masalah Bangsa

JAKARTA – Hubungan personal Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto dinilai ...
SEMENTARA ITU...

Instruksi Eri Cahyadi Pasca Lebaran: Perketat Pengawasan dan Pendataan Pendatang Baru

SURABAYA – Pemkot Surabaya mengambil langkah tegas dalam mengantisipasi gelombang urbanisasi pasca Idul Fitri 2025. ...
EKSEKUTIF

Libur Lebaran di Surabaya, Eri Cahyadi Instruksikan Direktur Tempat Wisata Lakukan Ini

SURABAYA – Wali Kota Eri Cahyadi menginstruksikan direktur tempat wisata, terutama Kebun Binatang Surabaya (KBS), ...
KLIPING MEDIA

Jubir PDI Perjuangan Sebut Kunjungan Didit Prabowo ke Rumah Megawati Tulus Tanpa Tendensi Politik

JAKARTA – Juru bicara (jubir) PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli menilai, kunjungan putra Presiden Prabowo ...
SEMENTARA ITU...

Open House Lebaran, Eri Cahyadi Ajak Warga Surabaya Saling Membantu dan Saling Menguatkan

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menggelar open house pada Lebaran Hari Raya Idul Fitri, Senin ...