Selasa
21 Juli 2026 | 7 : 06

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Memori Luka 27 Juli Dikenang Penuh Haru, Tangis dan Doa Iringi Renungan Kudatuli di DPC Kota Madiun

pdip jatim 250728 kudatuli madiun 1

MADIUN – Malam itu, aula DPC PDI Perjuangan Kota Madiun berubah menjadi ruang penuh air mata dan kenangan. Di bawah cahaya redup lilin-lilin yang menyala, para kader partai, tua dan muda, berkumpul dalam keheningan yang syahdu untuk mengenang salah satu lembar sejarah paling kelam sekaligus paling membakar semangat perjuangan partai: Kudatuli — Kerusuhan 27 Juli 1996.

Tangisan pecah saat lantunan puisi menyayat hati dibacakan dengan penuh penghayatan. Suara lirih tapi tajam menembus relung hati, menggugah kembali kenangan pahit tentang darah dan nyawa yang tumpah demi tegaknya kebenaran dan keberanian melawan kezaliman.

Beberapa kader senior tampak menunduk dalam-dalam, tangan mereka gemetar, bibir bergetar menahan luka lama yang kembali menganga.

Di sudut ruangan, seorang ibu — kader perempuan yang dulu ikut berjuang saat kantor DPP diserbu — tak mampu membendung air matanya. Dia menangis sesenggukan tak kuasa membendung air mata.

“Mereka tidak pergi… mereka abadi dalam napas perjuangan kita,” bisiknya lirih.

Renungan Kudatuli malam itu bukan sekadar seremoni. Namun pertemuan batin para kader dengan sejarah partainya. Beberapa di antaranya membawa anak-anak mereka, generasi penerus yang duduk diam menyimak, menyaksikan betapa berat dan mahal harga sebuah keberanian.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Madiun, Anton Kusumo dalam sambutannya yang tertahan oleh emosi, menyampaikan pesan mendalam.

“Mereka yang gugur bukan hanya pejuang partai, mereka adalah martir demokrasi. Kita tidak boleh melupakan. Kita tidak boleh berhenti. Setiap air mata malam ini adalah janji, bahwa kita akan terus menjaga rumah besar ini, sebagaimana mereka menjaganya dengan nyawa.”

Acara dilanjutkan dengan penyalaan lilin oleh para pengurus dan kader. Satu per satu nama-nama korban Kudatuli dibacakan, dan dengan setiap nama, lilin dinyalakan — menerangi ruangan dengan cahaya simbolik dari jiwa-jiwa yang tak pernah padam.

Saat lilin terakhir dinyalakan, seluruh ruangan membisu. Tak ada suara. Hanya helaan napas yang berat dan mata yang berkaca-kaca.

Di akhir acara, seluruh kader mengangkat tangan, memanjatkan doa bersama. Bukan hanya untuk para korban yang gugur, tapi juga untuk kekuatan menjaga marwah PDI Perjuangan sebagai partai ideologis yang berdiri di atas penderitaan rakyat.

Malam itu, Kota Madiun mencatat ulang sejarah — bukan di buku, tapi di hati para kader yang berjanji tak akan melupakan. Kudatuli bukan hanya luka, ia adalah api yang terus menyala dalam dada-dada yang setia. (ahm/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

SEMENTARA ITU...

Ketika Pelari Kenya Terjebak di Jember, Gotong Royong Mengantarnya Pulang

JEMBER — Debu musim kemarau beterbangan di sepanjang jalan Kota Jember. Matahari siang memantulkan hawa panas dari ...
KRONIK

Puan Maharani Tekankan Literasi Digital dan Komunikasi Negara untuk Tangkal Hoaks tentang DPR

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan maraknya hoaks yang menyasar DPR RI menjadi pengingat pentingnya ...
LEGISLATIF

DPRD Surabaya Dorong Pemkot Percepat Pembangunan Pintu Air Kali Jagir

SURABAYA – Ketua Komisi C DPRD Surabaya Eri Irawan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempercepat ...
LEGISLATIF

Baktiono Dorong Pemkot Surabaya Proaktif Cari Pimpinan Perumda yang Kompeten

Anggota Komisi B DPRD Surabaya Baktiono meminta Pemkot Surabaya proaktif mencari figur profesional berkompeten ...
HEADLINE

Hasto: Program MBG Lebih Efektif Jika Libatkan Warung dan UMKM Lokal

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai Program Makan Bergizi Gratis akan lebih efektif jika melibatkan ...
KRONIK

Dongkrak UMKM, Business Matching BEC x SCF Capai Rp 1,22 Miliar

BANYUWANGI – Kolaborasi Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang digelar Pemkab Banyuwangi dan Sekarkijang Creative ...