Sabtu
06 Juni 2026 | 12 : 10

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Memori Luka 27 Juli Dikenang Penuh Haru, Tangis dan Doa Iringi Renungan Kudatuli di DPC Kota Madiun

pdip jatim 250728 kudatuli madiun 1

MADIUN – Malam itu, aula DPC PDI Perjuangan Kota Madiun berubah menjadi ruang penuh air mata dan kenangan. Di bawah cahaya redup lilin-lilin yang menyala, para kader partai, tua dan muda, berkumpul dalam keheningan yang syahdu untuk mengenang salah satu lembar sejarah paling kelam sekaligus paling membakar semangat perjuangan partai: Kudatuli — Kerusuhan 27 Juli 1996.

Tangisan pecah saat lantunan puisi menyayat hati dibacakan dengan penuh penghayatan. Suara lirih tapi tajam menembus relung hati, menggugah kembali kenangan pahit tentang darah dan nyawa yang tumpah demi tegaknya kebenaran dan keberanian melawan kezaliman.

Beberapa kader senior tampak menunduk dalam-dalam, tangan mereka gemetar, bibir bergetar menahan luka lama yang kembali menganga.

Di sudut ruangan, seorang ibu — kader perempuan yang dulu ikut berjuang saat kantor DPP diserbu — tak mampu membendung air matanya. Dia menangis sesenggukan tak kuasa membendung air mata.

“Mereka tidak pergi… mereka abadi dalam napas perjuangan kita,” bisiknya lirih.

Renungan Kudatuli malam itu bukan sekadar seremoni. Namun pertemuan batin para kader dengan sejarah partainya. Beberapa di antaranya membawa anak-anak mereka, generasi penerus yang duduk diam menyimak, menyaksikan betapa berat dan mahal harga sebuah keberanian.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Madiun, Anton Kusumo dalam sambutannya yang tertahan oleh emosi, menyampaikan pesan mendalam.

“Mereka yang gugur bukan hanya pejuang partai, mereka adalah martir demokrasi. Kita tidak boleh melupakan. Kita tidak boleh berhenti. Setiap air mata malam ini adalah janji, bahwa kita akan terus menjaga rumah besar ini, sebagaimana mereka menjaganya dengan nyawa.”

Acara dilanjutkan dengan penyalaan lilin oleh para pengurus dan kader. Satu per satu nama-nama korban Kudatuli dibacakan, dan dengan setiap nama, lilin dinyalakan — menerangi ruangan dengan cahaya simbolik dari jiwa-jiwa yang tak pernah padam.

Saat lilin terakhir dinyalakan, seluruh ruangan membisu. Tak ada suara. Hanya helaan napas yang berat dan mata yang berkaca-kaca.

Di akhir acara, seluruh kader mengangkat tangan, memanjatkan doa bersama. Bukan hanya untuk para korban yang gugur, tapi juga untuk kekuatan menjaga marwah PDI Perjuangan sebagai partai ideologis yang berdiri di atas penderitaan rakyat.

Malam itu, Kota Madiun mencatat ulang sejarah — bukan di buku, tapi di hati para kader yang berjanji tak akan melupakan. Kudatuli bukan hanya luka, ia adalah api yang terus menyala dalam dada-dada yang setia. (ahm/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

DPRD Jatim Soroti Ketimpangan DBHCHT, Minta Daerah Penghasil Dapat Porsi Lebih Berkeadilan

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur membawa isu strategis DBHCHT, kinerja BUMD, dan penyesuaian program ...
KABAR CABANG

Mencari Mereka yang Tercecer dari Bansos, Kerja-kerja Kerakyatan dari PAC PDIP Mumbulsari

Kisah pendampingan warga prasejahtera di Mumbulsari, Jember. Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan turun ...
LEGISLATIF

Diana Sasa: Ketahanan Ekologi Harus Jadi Prioritas Pembangunan Daerah

Anggota DPRD Jawa Timur Diana Sasa menegaskan ketahanan ekologi harus menjadi prioritas pembangunan daerah. ...
KRONIK

Ganjar Minta Legislator PDIP Jaga Uang Rakyat Agar Tidak Boncos dan Bocor

Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo mengingatkan anggota Fraksi PDIP DPRD untuk mengawal penggunaan APBD secara ...
SEMENTARA ITU...

Di Depan Rumah Itu, Sholikah Menitipkan Harapan Baru untuk Tiga Cucunya

Kisah haru Sholikah, warga Kandat, Kediri, yang mengasuh tiga cucu dalam keterbatasan ekonomi. Bantuan rombong ...
HEADLINE

Megawati: Politik Anggaran Harus Menjadi Instrumen Keadilan Sosial bagi Rakyat

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan politik anggaran harus menjadi instrumen keadilan ...