Megawati: Bung Hatta Itu Betul-Betul Seorang Negarawan

 127 pembaca

JAKARTA – Tepat di hari ulang tahun Wakil Presiden pertama RI, Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980), Badan Kesenian Nasional (BKN) Pusat DPP PDI Perjuangan menyelenggarakan webinar dengan tajuk “Bung Hatta Inspirasi Kemandirian Bangsa” pada Kamis (12/8/2021).

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menuturkan, semenjak masyarakat merasakan kemerdekaan dengan memasang foto pahlawan, tapi Bung Hatta dengan segala jasanya bersama Bung Karno untuk memerdekakan bangsa ini, bahkan cenderung tidak diperankan dengan baik.

“Kenapa yang disebut co-proklamator kok tidak ada ya, bunyinya. Ini yang makin menggelitik saya. Karena ini dinamika pikiran begitu banyak, pahlawan kita ke mana mereka setelah kita merdeka? Mengapa tidak pernah diperankan dengan baik?” beber Presiden ke-5 RI ini.

Karena itu, Megawati menegaskan, kehadiran BKN memiliki ruang terbuka untuk membahas seni dan sejarah. Tujuannya untuk Kembali mengingat jejak perjuangan yang indah di masa lampau.

“Karena hari ini hari ulang tahun beliau, itulah kenapa saya buat acara ini. Inilah kenapa saya membuat BKN. Saya bilang monggo aksesmu terbuka, di bagian seni boleh, sejarah boleh dan lain sebagainya untuk bagaimana kita ceritakan kembali mimpi indah dulu,” tambahnya.

Megawati juga menceritakan, setiap pahlawan mempunyai anak turun yang sampai saat ini pasti merasa bangga atas apa yang telah diperbuat oleh leluhurnya.

“Kita ini kan sudah enak (merdeka, red.)? Kenapa itu tidak dirumat dan dijaga untuk bermakna, karena pahlawan itu kan punya anak turunnya? Saya bangga ibu-bapak saya Pahlawan Nasional. Kenapa keluarga Pak Hatta tidak begitu juga?” jelasnya.

Meski banyak masyarakat yang mengira kedua tokoh proklamator ini berselisih faham yang berujung pada mundurnya Bung Hatta dari jabatannya sebagai Wakil Presiden, Megawati menjelaskan, keputusan Bung Karno untuk tidak memiliki wakil lagi merupakan bentuk penghargaan pada Bung Hatta.

“Kedua pemimpin ini boleh orang bilang di akhir-akhir ada perbedaan sampai Pak Hatta mengundurkan diri jadi wapres. Tapi kenapa Bapak saya sampai akhir tidak mempunyai wapres? Karena itu suatu bentuk penghargaan loh pada Bung Hatta,” jelas Megawati.

Megawati juga menceritakan, sewaktu Bung Karno diculik oleh generasi muda di Rengas Dengklok, untuk mendesak Bung Karno mempercepat naskah proklamasi dibacakan, tapi Bung Karno dengan kekeh untuk memproklamirkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 harus bersama Bung Hatta.

“Tapi Bapak saya tetep nggak, kami akan memproklamirkan 17 Agustus dan harus dengan Hatta, padahal 17 Agustus, Bapak saya sedang kumat malarianya. Jadi, waktu itu Pak Hatta bagaimana agak telat datangnya,” jelasnya.

Dewan Pengarah BPIP ini menerangkan, sosok Bung Hatta adalah sosok negarawan sejati, seorang ilmuan, dan juga seorang yang disiplin, bahkan menurut Megawati, Bung Hatta tidak segan mengusir tamunya yang terlambat datang meski hanya 5 menit.

“Jadi Bung Hatta itu betu-betul seorang negarawan, betul-betul intelektual, mempunyai buku yang banyak sekali. Orangnya tekun. Beliau ilmuan. Saya belum pernah dengar Pak Hatta tertawa terpingkal-pingkal. Kalau Bapak saya kan bisa ya? Kalau Pak Hatta kan tentu visioner dan rendah hati. Orang 5 menit telat bisa loh tidak diterima,” cerita Megawati sembari mengenang masa kecilnya.

Bahkan, tambah Megawati, Bung Hatta sudah seperti keluarga sendiri. Pada suatu Ketika, kenang Megawati, salah seorang kakak beliau akan melangsungkan pernikahan di Bandung. Waktu itu, Bung Karno, dengan tanpa sebab, tidak diperbolehkan untuk menghadiri pernikahan anaknya oleh pemerintah saat itu. 

“Untuk urusan keluarga, kakak saya nikah sama orang Mojang Priyangan (Bandung, red). Bapak saya tidak boleh datang, lalu ibu saya minta ke Pak Hatta untuk mewakili ayah saya, lalu Pak Hatta langsung bilang, ya bisa, kalian kan anak-anak saya,” kenangnya.

Selain itu, Megawati juga menceritakan kenangan kecilnya bersama Mutia, anak perempuan Bung Hatta.

“Suatu ketika Pak Hatta dan ibu ndak ada di rumah. Saya tanya Mutia, kamu tentunya tidak bisa naik pohon? Kita naik pohon loh, kita seperti merdeka loh,” kenang Megawati sembari tertawa. (arul/set).