oleh

Legislator: Perencanaan Proyek Pemkot Surabaya Lemah

21SURABAYA – Ketua Komisi C DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri berpendapat, tak maksimalnya serapan anggaran di proyek-proyek fisik Pemkot Surabaya akibat lemahnya perencanaan pekerjaan. Akibatnya, sampai jelang tutup tahun, banyak proyek yang keteteran.

Menurut Syaifuddin, selama ini pihaknya sulit melakukan fungsi kontrol terhadap proyek yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya.

Para pejabat pembuat komitmen (PPK), sebutnya, juga tidak pernah menghadiri rapat-rapat maupun hearing yang digelar DPRD Surabaya.

Karena itu, problem di lapangan sulit terpetakan. “Yang selalu datang kepala dinas,” kata Syaifuddin, kemarin.

Saat pembahasan APBD 2017 lalu, rendahnya serapan anggaran sebenarnya sudah tercium. Indikasinya, banyak proyek yang baru saja dilelang, padahal sudah lewat akhir tahun.

Dewan pun mempertanyakan, apakah mungkin semua kegiatan tersebut akan terlaksana. “Namun mereka menjanjikan akan selesai,” ujar pria yang juga Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya ini.

Sebenarnya, jauh-jauh hari dewan telah mengimbau DPUBMP untuk melakukan lelang sebelum Agustus. Sebab, jika lebih, proyek akan terkesan terburu-buru dan tidak terawasi secara maksimal.

Sementara itu, Wali Kota Tri Rismaharini mengakui, untuk saat ini posisi serapan anggaran dinas fisik memang ada yang masih jeblok. Misalnya DPUBMP yang serapan anggarannya sampai Desember 2016 hanya 49 persen.

Risma menjelaskan, berdasarkan evaluasi, memang untuk pengerjaan beberapa proyek fisik ada yang mengalami miss komunikasi pekerjaan.

“Misalnya ada yang nggak boleh kerja pagi makanya kita kerjakan malam, ternyata nggak boleh juga kerja malam. Padahal kan nggak bisa misalnya kita nggarap box culvert yang ada di Jemur Ngawinan itu, harus malam, sebab alatnya besar-besar,” jelas Risma.

Lalu juga untuk pengerjaan proyek box culvert juga diakui Risma terkendala masalah cuaca. Serta ada proyek juga yang mengalami penolakan warga. Seperti proyek saluran di kampung kampung.

Meski anggaran PU serapannya terlihat kecil, jelas Risma, namun fisik di lapangan sejatinya sudah tinggi. Pihaknya optimistis, hingga akhir tahun serapannya bisa mencapai 90 persen sebagaimana tahun lalu. (goek)

rekening gotong royong