Minggu
20 September 2026 | 2 : 32

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ketika Lari Menjadi Panggung: Soekarno Run BWX 2026 dan Cerita Kreativitas dari Banyuwangi

pdip jatim 260920 wsrp soekarno run 1

PAGI itu, garis start Soekarno Run BWX 2026 tidak hanya dipenuhi pelari.

Ada Indonesia yang datang dengan beragam wajah.

Ada pakaian adat. Ada tokoh pewayangan. Ada busana yang mengingatkan pada sosok Bung Karno. Ada pula kostum yang membawa imajinasi anak muda hari ini, ketika budaya lokal bertemu budaya populer.

Mereka datang untuk berlari. Tetapi sebelum kaki melangkah dan jarak ditempuh, pakaian yang dikenakan sudah lebih dulu bercerita.

Tentang siapa mereka. Tentang apa yang mereka kagumi. Dan tentang bagaimana generasi hari ini memaknai budaya dengan caranya sendiri.

Keragaman penampilan itu menjadi salah satu pemandangan menarik dalam Soekarno Run BWX 2026 di Banyuwangi, Minggu (20/9/2026).

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Wara Sundari Renny Pramana melihatnya sebagai gambaran kecil tentang Indonesia yang memang tidak pernah tunggal.

“Pesertanya antusias, banyak yang menggunakan pakaian beragam. Ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keragaman. Ada pakaian adat kedaerahan, tokoh pewayangan, hingga tren Gen Z hari ini,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bunda Renny.

Bagi Renny, keragaman itu justru menjadi kekuatan.

Bukan sesuatu yang harus diseragamkan.

Apalagi ketika yang ditampilkan adalah kreativitas anak muda.

“Indonesia itu beragam. PDI Perjuangan siap menjadi rumah besar untuk seluruh kelompok, seluruh golongan, dan beraneka generasi. Kita tidak boleh membatasi ekspresi generasi muda hanya karena bentuknya berbeda dengan apa yang biasa kita lihat,” katanya.

Di antara ribuan langkah yang bergerak menyusuri rute, ada Bang Ucup.

Pelari asal Banyuwangi ini memilih penampilan yang identik dengan sosok Bung Karno.

Bukan tanpa alasan. Tema Soekarno Run membuatnya ingin menghadirkan kekagumannya kepada Presiden pertama Republik Indonesia itu dalam cara yang sederhana.

“Karena temanya Soekarno dan saya kagum pada sosok beliau, jadi saya menghayati lari ini dengan mengenakan pakaian yang identik dengan penampilan tokoh Bung Karno,” ujar Bang Ucup.

Baginya, berlari hari itu bukan sekadar soal mengejar waktu.

Ada suasana yang ingin ia rasakan. Ada tokoh yang ingin ia kenang.

Dan ada cara sederhana untuk menunjukkan bahwa nama Soekarno masih bisa hadir dalam ekspresi masyarakat hari ini.

Di tempat lain, cerita berbeda muncul. Frengky juga pelari asal Banyuwangi.

Namun ia tidak datang sebagai Bung Karno. Ia datang sebagai Gatotkaca.

Tokoh pewayangan yang dikenal memiliki kemampuan terbang itu justru menjadi inspirasinya untuk berlari.

“Gatotkaca itu identik dengan kecepatan terbangnya, jadi saya pakai pakaian ini agar bisa jadi cepat juga, dan naik podium,” kata Frengky.

Ada sedikit humor di balik pilihan itu. Tetapi juga ada sesuatu yang menarik.

Tokoh wayang yang lahir dari cerita masa lalu menemukan ruang baru di tengah sebuah ajang olahraga modern.

Gatotkaca berlari. Dan cerita lama pun mendapatkan panggung baru.

Cerita paling berbeda mungkin datang dari Nuril Firdaus.

Ia tidak memilih pakaian adat secara utuh. Tidak pula memilih tokoh pewayangan.

Nuril justru membawa Banyuwangi dan budaya populer ke dalam satu kostum. Ia memadukan unsur kebudayaan Banyuwangi dengan konsep yang terinspirasi dari Power Rangers.

Sebuah pertemuan antara lokal dan global. Antara tradisi dan budaya populer. Antara sesuatu yang tumbuh dari tanah sendiri dengan sesuatu yang dikenal luas oleh generasi sekarang.

“Ini adalah salah satu ruang saya mengenalkan kostum kreasi saya yang memadukan kebudayaan Banyuwangi dengan kultur modern. Ini konsepnya macam putih, jadi saya buat seperti ini karena dipadukan dengan tema Power Rangers,” terang Nuril.

Mungkin begitulah cara generasi hari ini menjaga budaya. Tidak selalu dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya.

Kadang melalui pakaian. Kadang melalui musik. Kadang melalui konten digital.

Kadang pula melalui sebuah kostum yang dipakai berlari puluhan menit di jalanan Banyuwangi.

Renny melihat kreativitas semacam itu sebagai bagian dari dinamika sosial yang perlu dipahami.

Menurut Bendahara DPD PDIP Jatim itu, generasi Z memiliki cara sendiri dalam menunjukkan identitas. Fesyen, budaya digital, dan berbagai bentuk kreativitas menjadi salah satu medium untuk mengekspresikan diri.

“Anak-anak muda hari ini punya cara sendiri untuk menunjukkan identitasnya. Ada yang melalui pakaian adat, ada yang melalui tokoh pewayangan, ada pula yang menggabungkan budaya tradisional dengan tren modern. Selama itu menjadi ruang ekspresi yang positif, kita harus memberikan apresiasi,” tuturnya.

Dan pagi itu, semua bertemu di satu tempat.

Yang memakai pakaian adat berlari bersama yang mengenakan Gatotkaca.

Yang membawa semangat Bung Karno berlari bersama mereka yang datang dengan kreasi Power Rangers.

Tidak ada yang harus menjadi sama. Mereka cukup bergerak dalam arah yang sama.

Mungkin itulah gambaran paling sederhana tentang Indonesia.

Berbeda dalam penampilan. Berbeda dalam cara bercerita. Berbeda dalam cara menunjukkan identitas.

Tetapi bisa bertemu dalam satu ruang.

Soekarno Run BWX 2026 akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis.

Di sepanjang jalan Banyuwangi, para pelari juga membawa cerita masing-masing.

Ada nasionalisme. Ada budaya. Ada sejarah. Ada imajinasi.

Dan ada generasi muda yang sedang mencari cara untuk mengatakan kepada dunia:

“Kami punya cara sendiri untuk menjadi Indonesia.”

Hari itu, mereka tidak hanya berlari. Mereka membawa identitas masing-masing, lalu membiarkannya bertemu dengan identitas yang lain.

Dalam satu rute. Dalam satu perayaan. Dalam satu semangat.

Indonesia pun seperti sedang berlari bersama mereka. (yolan/pr)

 

Baca juga:

=> Soekarno Run Banyuwangi Spektakuler, Said: Kalau Jateng Punya Borobudur, Jatim Punya Banyuwangi

=> Eri Cahyadi: Soekarno Run Ajarkan Generasi Muda Berdiri di Atas Kaki Sendiri

=> Soekarno Run BWX 2026, Anak Usia 4 Tahun Ikut Lari di Kategori 1K

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Haru Penjaja Tape Anaknya Dikhitankan Kader Banteng dan Sejumlah Komunitas

MAGETAN — Biaya khitan bagi sebagian masyarakat kerap menjadi beban finansial yang tidak ringan, terutama bagi ...
KRONIK

Ketika Lari Menjadi Panggung: Soekarno Run BWX 2026 dan Cerita Kreativitas dari Banyuwangi

PAGI itu, garis start Soekarno Run BWX 2026 tidak hanya dipenuhi pelari. Ada Indonesia yang datang dengan beragam ...
KRONIK

Soekarno Run BWX 2026, Anak Usia 4 Tahun Ikut Lari di Kategori 1K

BANYUWANGI – Anak-anak usia dini ikut ambil bagian dalam Soekarno Run BWX 2026 di Banyuwangi. Bahkan, peserta ...
HEADLINE

Eri Cahyadi: Soekarno Run Ajarkan Generasi Muda Berdiri di Atas Kaki Sendiri

BANYUWANGI – Semangat berdiri di atas kaki sendiri menjadi pesan utama dalam Soekarno Run BWX 2026 di Banyuwangi, ...
SEMENTARA ITU...

Romy Soekarno Dorong Gen Z Kawal Pemilu 2029 di Tengah Tantangan Digital

BLITAR – Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno mendorong generasi Z (Gen Z) memahami pengawasan partisipatif sejak ...
KRONIK

Soekarno Run Banyuwangi Spektakuler, Said: Kalau Jateng Punya Borobudur, Jatim Punya Banyuwangi

BANYUWANGI – Ribuan warga Banyuwangi mengikuti Soekarno Run. Mereka tampak bersemangat mengikuti kegiatan yang ...