Rabu
14 Oktober 2026 | 5 : 06

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ijo-Abang di Bondowoso: Kisah Lora Muda Menakhodai PAC PDI Perjuangan 

pdip jatim 160530 lora yaqin bondowoso

Lora Mohammad Ainul Yaqin, cucu pengasuh Ponpes Al-Utsmani Bondowoso, memilih terjun ke politik melalui PDI Perjuangan untuk memperjuangkan aspirasi petani dan masyarakat kecil.

BONDOWOSO — Siang itu pada suatu hari di bulan April lalu, suasana di sebuah hotel di Surabaya terasa berbeda.

Ratusan kader dan fungsionaris PDI Perjuangan dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul dalam acara halalbihalal. Seperti lazimnya pertemuan selepas Lebaran, suasana berlangsung hangat, penuh canda, dan sesekali diselingi obrolan ringan tentang kondisi daerah masing-masing.

Namun di tengah suasana yang cair itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, melempar sebuah pesan yang menarik perhatian banyak orang.

Ia menyampaikan, para tokoh Islam, warga Nahdlatul Ulama (NU), serta kalangan pesantren untuk tidak ragu menjadikan PDI Perjuangan sebagai rumah politik bersama.

Pesan bernada ajakan itu terdengar sederhana.

Tetapi bagi Jawa Timur, tanah yang sejak lama mengenal perpaduan sosial antara kaum nasionalis dan kaum santri, kalimat tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Hubungan “ijo-abang” bukanlah cerita baru.

Ia tumbuh dari sejarah panjang.

Dari kampung-kampung.

Dari sawah dan langgar.

Dari ruang-ruang pertemuan sederhana tempat para santri dan kaum nasionalis pernah berjalan beriringan memperjuangkan cita-cita yang sama.

Tak banyak yang menyangka, gema dari pernyataan itu ternyata bergerak jauh hingga ke kawasan tapal kuda.

Tepatnya di Kabupaten Bondowoso.

Di Kecamatan Jambesari, seorang anak muda yang tumbuh dalam lingkungan pesantren mulai memantapkan langkahnya memasuki dunia politik praktis.

Namanya Mohammad Ainul Yaqin.

Masyarakat lebih akrab memanggilnya Lora Yaqin.

Ia bukan sosok asing di lingkungan pesantren.

Yaqin merupakan cucu dari Kiai Ghazali, ulama sepuh sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Utsmani, salah satu pesantren besar di Bondowoso yang menaungi ribuan santri.

Bagi sebagian orang, keputusan seorang lora muda memimpin Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan mungkin terlihat sebagai langkah yang mengejutkan.

Namun bagi Yaqin, keputusan itu tidak lahir dalam semalam.

Apalagi sekadar pertimbangan politik sesaat.

Ada proses panjang yang mendahuluinya.

Ada diskusi.

Ada pertimbangan.

Dan yang paling penting, ada restu dari sang kiai sepuh.

“Bahkan kesediaan menjadi Ketua PAC ini disampaikan langsung oleh Kiai sepuh kepada Ketua DPC, Mas Sinung,” kenangnya, Sabtu (30/5/2026).

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi kultur pesantren, restu seorang kiai bukan perkara kecil.

Ia adalah arah.

Ia adalah doa.

Ia adalah bentuk kepercayaan.

Karena itu, ketika restu tersebut turun, Yaqin merasa memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menjalankan jabatan struktural partai.

Di balik sorban dan tradisi pesantren yang melekat dalam kehidupannya, Yaqin menyimpan kegelisahan yang sama seperti yang dirasakan banyak warga desa di Bondowoso.

Ia terbiasa mendengar cerita petani yang mengeluhkan harga pupuk yang terus merangkak naik.

Ia akrab dengan keluhan para buruh tani yang harus memutar otak ketika musim tanam tiba.

Ia juga menyaksikan bagaimana senyum para petani sering berubah menjadi kegelisahan saat musim panen datang karena harga gabah yang tidak menentu.

Persoalan-persoalan itu tidak ia dengar dari laporan.

Tidak pula dari layar televisi.

Ia mendengarnya langsung.

Dari teras rumah warga.

Dari obrolan selepas salat berjamaah.

Dari percakapan sederhana yang terjadi hampir setiap hari di lingkungan pesantren.

Barangkali dari situlah kesadaran politiknya tumbuh.

Bahwa kepedulian sosial tidak selalu cukup disuarakan dari mimbar.

Kadang ia membutuhkan ruang yang lebih luas.

Membutuhkan jalur yang mampu membawa suara rakyat hingga ke meja pengambil keputusan.

“Mahalnya biaya produksi pertanian yang tidak sebanding dengan harga gabah pascapanen membuat saya ingin berperan aktif, membawa keluhan-keluhan rakyat kecil ini ke meja pemerintah,” ujarnya.

Bagi Yaqin, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Ia melihat politik sebagai alat perjuangan.

Sebuah jalan yang bisa digunakan untuk memperjuangkan nasib petani, masyarakat kecil, dan kelompok-kelompok yang selama ini sering tidak terdengar suaranya.

Mungkin karena itulah kisah ini terasa menarik.

Karena di saat banyak anak muda menjauh dari politik, seorang lora muda dari pesantren justru memilih mendekatinya.

Bukan karena ambisi.

Bukan pula karena popularitas.

Melainkan karena kegelisahan yang lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang ia temui.

Dan di sebuah sudut Bondowoso, di kaki Gunung Argopuro yang tenang, langkah itu kini mulai dijalani.

Dari bilik pesantren menuju panggung politik.

Membawa harapan bahwa suara-suara kecil dari desa tidak lagi berhenti di pematang sawah, tetapi bisa sampai ke ruang-ruang tempat kebijakan ditentukan. (art/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Nur Hakim PDIP Distribusikan Air Bersih

BANGKALAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Bangkalan, Nur Hakim, menyalurkan bantuan air bersih pada ...
KRONIK

Dugaan Pungli Lahan Perhutanan Sosial, DPRD Jember Minta Dinas Kehutanan Jatim Buka Data KHDPK

JEMBER – Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Jember, Candra Ary Fianto, meminta Cabang Dinas Kehutanan Jawa Timur membuka ...
LEGISLATIF

Fraksi PDI Perjuangan Sumenep Beri Catatan atas Alokasi Belanja di APBD 2027

SUMENEP – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Sumenep memberikan sejumlah catatan terhadap rancangan APBD 2027, ...
LEGISLATIF

Deni Wicaksono Ajak Warga Trenggalek Rawat Toleransi untuk Perkuat Pembangunan Daerah

TRENGGALEK – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Deni Wicaksono mengajak masyarakat Trenggalek terus memupuk toleransi dan ...
SEMENTARA ITU...

Sanusi Dorong TMMD Berlanjut Tiap Tahun, Pemerataan Infrastruktur Desa Jadi Prioritas

MALANG – Bupati Malang HM Sanusi mendorong program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) terus berlanjut setiap tahun ...
LEGISLATIF

Sri Untari Dukung Wacana Penghapusan Kenaikan Kelas Otomatis, Kompetensi Siswa Harus Terukur

SURABAYA – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno menyambut positif wacana penghapusan sistem kenaikan ...