Sabtu
16 Mei 2026 | 9 : 00

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Fuad Benardi: Merawat Lingkungan Bagian dari Nasionalisme

pdip jatim 251028 fuad benardi

DI tengah gemerlap lampu kota yang tak pernah padam dan derau kendaraan yang tiada henti, Surabaya menyimpan paru-paru kehidupan yang kini semakin berharga.

Taman-taman dan hutan kota yang tersebar di seluruh sudut Kota Pahlawan bukan sekadar hamparan hijau yang memanjakan mata, melainkan garda terdepan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan yang kian rapuh.

Senin malam, 27 Oktober 2025, Hotel Regantris yang berdiri megah di Jalan DR. Soetomo Surabaya menjadi saksi bisu sebuah komitmen. Dalam acara Sosialisasi Pemanfaatan Hutan Kota Untuk Kesejahteraan Masyarakat Majemuk Di Perkotaan, suara-suara harapan bergema tentang pentingnya melestarikan ruang hijau yang telah menjadi benteng terakhir kota melawan polusi.

Fuad Benardi, Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur, hadir bukan hanya sebagai wakil rakyat, tetapi juga sebagai putra Surabaya peduli akan masa depan generasi mendatang.

Di hadapan peserta sosialisasi yang turut dihadiri Bram Azzaino, Aktivis Senior Lingkungan Hidup Tunas Hijau, ia menyampaikan pesan yang sederhana namun menohok, keberadaan taman dan hutan kota telah melampaui fungsi keindahan visual.

Jauh dari sinar lampu sorot, pohon-pohon di hutan kota bekerja tanpa lelah. Setiap helai daun menjadi filter alami yang menyerap partikel polusi, gas beracun, dan karbon dioksida yang mengepung atmosfer perkotaan.

Dalam proses fotosintesis yang berlangsung sepanjang hari, mereka menghasilkan oksigen segar, nafas kehidupan bagi jutaan jiwa yang mendiami Surabaya.

Namun, peran hutan kota tidak berhenti di sana. Akar-akar pohon yang menembus dalam tanah menjadi jaringan penyerap air hujan yang mencegah banjir dan mengisi ulang cadangan air tanah.

Di saat musim kemarau tiba, keberadaan mereka menjadi penjaga kestabilan air yang tersimpan di bawah permukaan bumi.

“Pentingnya fungsi taman-taman dan hutan di Kota Surabaya selain sebagai keindahan visual, keberadaan taman dan hutan Kota juga mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari. Di antaranya menjaga kualitas udara, sebagai serapan air tanah dan penyeimbang ekosistem perkotaan,” ungkap Fuad dengan penuh keyakinan.

Dalam nada kehangatan namun tegas, Fuad mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelindung ruang hijau yang telah ada. Dia mengingatkan bahwa kelestarian lingkungan bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, melainkan komitmen bersama yang harus dimulai dari hal-hal sederhana.

“Mulai sekarang, bapak dan ibu sekalian biasakan hidup bersih dan disiplin. Dimulai dari yang kecil, contohnya sampah. Mulai pilah dan buang sampah secara disiplin. Jangan sampai nanti kalau banjir atau timbul penyakit karena sampah, yang disalahkan pemerintahnya, atau wakil rakyatnya,” ujar Fuad sambil tersenyum.

Senyum itu menyiratkan keprihatinan sekaligus harapan. Sebab, di balik tumpukan sampah yang menggunung dan kebiasaan membuang limbah sembarangan, tersembunyi ancaman nyata terhadap kelestarian hutan kota yang telah berjuang menyaring polusi udara setiap hari.

Surabaya, dengan segala dinamika pembangunan dan urbanisasinya, kini berada di persimpangan jalan. Kota ini dapat terus tumbuh dengan gedung-gedung pencakar langit, namun tanpa ruang hijau yang memadai, kehidupan akan kehilangan keseimbangannya.

Fuad menyadari betul bahwa keputusan yang diambil hari ini akan menentukan kualitas hidup anak cucu di masa depan. Dia tidak ingin generasi mendatang mewarisi kota yang tandus, penuh asap, dan kehilangan daya dukung lingkungannya.

“Kelestarian lingkungan dan hutan kota perlu kita jaga, karena selain dampaknya untuk kita sekarang, dampak yang paling terasa nanti kepada anak dan cucu kita kedepan bapak ibu sekalian. Jika kita tidak jaga, maka anak dan cucu kita yang merasakan,” cetus Ketua Karang Taruna Surabaya 2019-2024 itu.

Sebagai salah satu kader partai nasionalis, Fuad mengatakan bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab semua orang, terutama kader PDI Perjuangan.

Lantas, Fuad bercerita pengalamannya saat mengunjungi kantor DPP PDI Perjuangan beberapa waktu lalu. Saat itu ia bertemu salah satu staff DPP yang mengatakan jika Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merupakan pecinta tanaman.

“Sampai-sampai itu, Ibu Mega berpesan kepada para staf di Kantor DPP PDI Perjuangan ada 3 tanaman yang tidak boleh sampai kering bahkan mati. Kalau tanaman itu sampai mati beliau bakalan menghukum para staf yang diamanahi,” ungkap Fuad bercerita.

Artinya, sambung Fuad, untuk mengajarkan rasa tanggung jawab, disiplin, mencintai dan merawat sesama mahluk hidup, Megawati Soekarnoputri memberikan tugas seperti itu kepada para staf kantor DPP PDIP.

“Kalau dipikir-pikir, artinya dalam sekali. Sejalan dengan ideologi partai yang nasionalis, kita dapat memetik nilai yang mendalam dari merawat tumbuhan, lingkungan dan sesama dari cerita tersebut,” ulasnya.

Acara di Hotel Regantris pada Senin malam itu bukan sekadar seremonial. Ia adalah panggilan untuk bertindak, pengingat bahwa masa depan Surabaya ada di tangan setiap warganya.

Kehadiran Bram Azzaino, seorang aktivis lingkungan yang telah lama berjuang untuk kelestarian alam, memperkuat pesan bahwa gerakan pelestarian lingkungan membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan aktivis.

Tunas Hijau, organisasi lingkungan yang telah puluhan tahun mengawal pendidikan lingkungan hidup di Surabaya, terus menggugah kesadaran generasi muda untuk peduli terhadap alam. Melalui berbagai program seperti penanaman pohon, edukasi hidroponik, dan kampanye konservasi air, mereka menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan sejak dini.

Ketika malam semakin larut dan acara sosialisasi perlahan berakhir, pesan Fuad Benardi tetap menggema. Ia bukan hanya berbicara tentang taman dan hutan kota, tetapi tentang tanggung jawab moral setiap generasi untuk merawat bumi yang dipijak.

Surabaya, dengan segala pencapaian dan tantangannya, kini memiliki pilihan, melanjutkan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologi, atau membangun kota yang berkelanjutan dengan menjadikan ruang hijau sebagai investasi jangka panjang.

Taman-taman dan hutan kota yang tersebar di Surabaya adalah warisan. Bukan warisan dari masa lalu, tetapi warisan untuk masa depan. Dan warisan itu hanya akan bermakna jika dijaga, dirawat, dan dilestarikan oleh tangan-tangan yang penuh cinta dan tanggung jawab. (yolanda/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Bupati Fauzi Ajak NU Sumenep Bersinergi Perkuat Pendidikan Agama hingga Ekonomi Umat

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mengajak Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat untuk ...
KABAR CABANG

Mengenal Tari Ajem Sap Sap, Pembuka Acara Pelantikan PAC Se-Situbondo

SITUBONDO – Penampilan Tari Ajem Sap Sap memukau para hadirin dalam pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) DPC PDI ...
KABAR CABANG

Resmi Dilantik, 18 PAC PDI Perjuangan Bangkalan Fokus Regenerasi dan Layanan Wong Cilik

BANGKALAN – DPD PDI Perjuangan Jawa Timur resmi melantik 18 PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Bangkalan secara ...
KABAR CABANG

Pengurus PAC Se-Kabupaten Magetan Dilantik, Pulang Bawa Plang, Siap Respon Persoalan Rakyat

MAGETAN – Pelantikan Pengurus PAC Se-Kabupaten Magetan ditandai penyerahan plang kantor kesekretariatan untuk ...
LEGISLATIF

Polemik Film Pesta Babi, Sonny Sebut Momentum untuk Evaluasi Pengelolaan Sumber Daya Alam

SITUBONDO – Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T Danaparamita menyoroti isu kerusakan lingkungan dan perlindungan hak ...
KABAR CABANG

DPD Jatim Lantik Pengurus PAC se-Kabupaten Magetan, Momentum Memperkuat Soliditas Kader Hingga Akar Rumput

MAGETAN — DPD PDI Perjuangan Jawa Timur melantik seluruh pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Magetan ...