Peringatan Hari Lahir Pancasila di DPC PDI Perjuangan Trenggalek ditutup dengan pagelaran jaranan yang menghadirkan ratusan seniman dan menyedot perhatian warga. Kesenian rakyat menjadi cara membumikan nilai kebangsaan dan merawat budaya lokal.
TRENGGALEK – Siang itu, halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Trenggalek tidak lagi terlihat seperti halaman kantor partai.
Suara gamelan mulai terdengar dari kejauhan. Kendang ditabuh bertalu-talu, menyusul bunyi kenong dan gong yang menggema di udara panas awal Juni.
Perlahan, warga berdatangan dari berbagai penjuru. Anak-anak berlarian mencari tempat terbaik untuk menonton. Orang tua duduk berjejer di bawah teduh pepohonan. Sebagian lainnya berdiri berdesakan di pinggir arena.
Hari itu, Senin (1/6/2026), DPC PDI Perjuangan Trenggalek memperingati Hari Lahir Pancasila.

Namun selepas upacara dan tumpengan usai, suasana berubah menjadi lebih akrab. Panggung rakyat mengambil alih perayaan. Jaranan hadir sebagai bahasa yang paling mudah dipahami masyarakat.
Di tengah arena, para penari mulai bergerak mengikuti irama gamelan. Kuda-kuda kepang berwarna-warni terangkat ke udara, mengikuti hentakan musik yang semakin cepat. Sorak penonton sesekali pecah ketika para pemain menunjukkan atraksi yang memikat.
Bagi sebagian warga, pertunjukan itu mungkin sekadar hiburan. Tetapi bagi para pelaku seni yang hadir, jaranan adalah cerita panjang tentang identitas, akar budaya, dan kebanggaan sebagai orang Jawa.
Sekitar 200 seniman dari empat kecamatan ikut ambil bagian dalam pagelaran tersebut. Mereka datang membawa semangat yang sama: menjaga kesenian rakyat tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Wakil Ketua Bidang Seni dan Budaya DPC PDI Perjuangan Trenggalek, Trimo Dwi Cahyono, memandang kesenian rakyat memiliki peran penting dalam merawat nilai-nilai kebangsaan.

Menurutnya, Pancasila tidak selalu harus disampaikan melalui pidato panjang atau forum resmi. Nilai-nilai itu juga bisa hadir melalui kesenian yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Ini salah satu bentuk menjalankan Trisakti Bung Karno, yakni berkepribadian dalam kebudayaan,” ujarnya.
Karena itu, peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini sengaja dikemas lebih dekat dengan denyut kehidupan rakyat.
Di tengah gempuran budaya populer dan hiburan digital, jaranan dipilih bukan sekadar sebagai tontonan. Ia menjadi pengingat bahwa bangsa ini memiliki akar budaya yang kuat dan tidak boleh tercerabut oleh zaman.
Antusiasme masyarakat yang memadati lokasi menjadi bukti bahwa kesenian rakyat masih memiliki tempat istimewa di hati warga.

Anak-anak tampak terpukau mengikuti setiap gerakan penari. Para remaja mengabadikan pertunjukan melalui telepon genggam mereka. Sementara orang-orang tua terlihat menikmati setiap irama yang mengingatkan mereka pada masa-masa ketika jaranan menjadi hiburan utama di kampung.
Di sela keramaian itu, pesan tentang Pancasila disampaikan dengan cara yang sederhana.
Bukan melalui baliho besar atau slogan yang berulang-ulang. Melainkan melalui ruang perjumpaan antara budaya dan masyarakat.
Sebelumnya, pagi hari diawali dengan upacara bendera yang dipimpin Sekretaris DPC PDI Perjuangan Trenggalek, Doding Rahmadi. Dalam amanatnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi persatuan bangsa.
Namun menjelang sore, pesan yang sama menemukan bentuknya yang lain.

Ia hadir dalam dentuman kendang, dalam gerak para penari, dalam tawa anak-anak yang memenuhi halaman, dan dalam kebersamaan warga yang berkumpul tanpa sekat.
Barangkali di situlah Pancasila terasa paling dekat. Bukan hanya dihafal dalam teks atau diperingati dalam upacara, tetapi hidup di tengah masyarakat melalui budaya yang terus dijaga dan diwariskan.
Dan ketika matahari mulai condong ke barat, jaranan masih menari di halaman kantor partai itu. Seolah mengingatkan bahwa nasionalisme tidak selalu lahir dari pidato-pidato besar.
Kadang, ia tumbuh dari kesenian rakyat yang terus hidup di tengah masyarakat. (aris/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










