SIDOARJO — Antrean panjang terlihat di pelataran Warung Kayoo Kopi, Jalan Raya Bohar, Kecamatan Taman, Selasa (10/2/2026) siang.
Ratusan orang, mulai dari pengemudi ojek daring, kurir logistik, hingga sopir truk, tampak sabar menunggu giliran mengambil hidangan prasmanan di warung yang hari ini “disulap” menjadi Dapur Umum DPC PDI Perjuangan Sidoarjo.
Menu yang disajikan secara gratis itu rupa-rupa pilihannya. Ada lele goreng, tahu, tempe, rempelo ati, botokan, kari ayam, hingga sayur lodeh. Minumnya ada air mineral dan es teh.
Hanya dalam waktu tiga jam sejak dibuka pukul 10.00 WIB, sebanyak 700 porsi makanan ludes. Antusiasme yang tinggi mencerminkan betapa berartinya bantuan pangan bagi para pekerja sektor informal di tengah tingginya biaya hidup.
Konsistensi di Luar Kalender Politik
Ketua DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, Hari Yulianto, menegaskan bahwa langkah ini merupakan implementasi dari semangat gotong royong.

Menurutnya, partai harus hadir di tengah rakyat tidak hanya saat menjelang pemilihan umum (Pemilu), tetapi dalam keseharian warga.
”Setidaknya kami membantu meringankan beban pengeluaran mereka dengan memangkas biaya makan siang. Uang yang seharusnya untuk makan bisa dialokasikan untuk kebutuhan keluarga di rumah,” kata Hari, yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Jawa Timur.
Kegiatan Bukan Aksi Spontan
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, Raymond Tara Wahyudi, menjelaskan bahwa Dapur Umum ini telah menjadi agenda rutin pihaknya setiap tanggal 10 sejak Desember 2025.
”Ini adalah pelaksanaan ketiga. Sebelumnya kami bergerak di wilayah terdampak bencana, seperti Kedungbanteng Tanggulangin dan Porong. Kini kami menyasar titik-titik di mana banyak pekerja harian melintas,” ujar Raymond.

Respon Cepat di Lapangan
Kejadian menarik sempat mewarnai pelaksanaan dapur umum kali ini. Ketika stok 700 porsi awal habis, sementara juru masak masih memproses kloter masakan berikutnya. Panitia segera mengambil langkah taktis.
Wakil Ketua Bidang Kehormatan DPC Sidoarjo, Bambang Riyoko, memutuskan memborong dagangan bakso keliling yang melintas di sekitar lokasi.
Hal ini dilakukan agar warga yang terlanjur mampir tidak pulang dengan perut keroncongan.
”Kami ingin memastikan setiap orang yang mampir merasa dimanusiakan dan pulang dalam keadaan kenyang,” tutur Bambang sembari menyapa pengunjung.

Oase bagi Pekerja Harian
Bagi Anwar, seorang pengemudi ojek daring, keberadaan dapur umum ini adalah “oase” di tengah teriknya cuaca dan sulitnya mengejar target setoran. Ia mengaku sering kali melewatkan sarapan demi mengejar pesanan pagi.
”Tadi lewat dan lihat ada makan gratis. Sangat membantu, apalagi menu sayur lodeh dan ayamnya terasa seperti masakan rumah,” katanya.
Hal senada diungkapkan Yanto, seorang sopir truk. Ia berharap kegiatan serupa bisa lebih sering dilakukan di titik-titik strategis jalur logistik. Menurutnya, bagi kalangan sopir, penghematan biaya makan siang sebesar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 sangat berarti untuk menambah saku keluarga.
Dapur umum ini dijadwalkan akan terus berpindah lokasi setiap bulannya, menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sosial masyarakat di berbagai wilayah Sidoarjo.(ian/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













