NGAWI – Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, pihak Perhutani dan Dinas Kehutanan Pemprov Jatim melakukan penanaman pohon di Dusun Bulak Pepe, Desa Banyubiru, Widodaren. Desa ini, oleh masyarakat Ngawi dijuluki dengan kampung kerbau lantaran keberadaan ratusan kerbau peliharaan warga.
Aksi tanam pohon, Kamis (14/10/2021), rangkaian dari kegiatan dilakukan pemerintah dalam upaya pemberdayaan ekonomi rakyat berbasis perhutanan sosial (PS).
Pihak Perhutani dan Pemprov Jatim berkolaborasi dengan Pemkab Ngawi menyerahkan SK PS kepada 37 lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). SK ini menjadi legalitas bagi rakyat untuk pengelolaan hutan sosial.
Menurut Bupati Ony Anwar Harsono, pemberian SK PS untuk LMDH di Ngawi menjadi yang terbanyak se-Jatim.
“Ini berkah bagi kita semua, diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar hutan,” ujarnya.

Tak hanya menyerahkan SK dan penanaman pohon, pemerintah mengupayakan solusi untuk mengatasi persoalan mengeringnya rumput di tempat ini kala kemarau.
“Itu nanti akan kita koordinasikan dengan Perhutani dan Dinas Pertanian untuk menyediakan bibit rumput yang tahan di musim kemarau,” ungkapnya. “Bibit itu nantinya bisa ditanam sesuai dengan aturan dan mekanisme dari perhutani,” tambahnya.
Di Kawasan ini, khususnya Dusun Bulak Pepe, Desa Banyubiru, mayoritas warga beternak kerbau. Kepala Desa Kundari, kepada pihak pemerintah yang hadir pada acara tersebut melaporkan, “Di Kampung Kerbau, ada sekitar 750 ekor kerbau, bapak”.
Banyaknya jumlah kerbau yang diternak warga menjadikan desa ini dijuluki: Kampung Kerbau. Cara beternaknya pun terbilang tradisional. Warga menggembalakan kerbau saat pagi dan siang. Saat senja datang, kerbau-kerbau itu digiring pulang melintasi sungai untuk minum dan berendam.
Berita terkait:Bupati Ngawi Serahkan SK Perhutanan Sosial untuk 37 LMDH
Aktivitas warga dan ratusan hewan “raja kaya” tersebut menjadi rutinitas keseharian di kawasan tersebut. Lalu lalang kelompok-kelompok kerbau di padang rumput, hutan, dan sungai menyuguhkan panorama ala savana Afrika.

Bagi warga setempat, memelihara kerbau bagian dari tradisi turun temurun. Bahkan ada ritual tersendiri untuk perayaan ulang tahun sang mamalia, yakni Gumbrekan Mahesa. Sebuah kearifan lokal sebagai wujud rasa syukur warga atas anugerah panen yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sebelum pandemi Covid-19, Perayaan Gumbrekan Mahesa digelar saban tahun. Pada perayaan tersebut, semua kerbau diistirahatkan, dirawat, dan dimanjakan. Ratusan kerbau dikeluarkan dari kandang, dikumpulkan di lapangan, lalu dimandikan dan dikandangkan kembali. Rangkaian acara diiringi tetabuhan lumpang oleh para ibu warga setempat.
Tradisi diikuti dengan arakan 100 tumpeng. Berbagai jajanan tempo dulu juga disajikan. Dari jenang grendol, nasi tiwul, tepo kecap, hingga cendol dawet. (mmf/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










