
JAKARTA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengimbau semua pihak untuk bijak dalam menggunakan sosial media (sosmed).
Menurutnya, sosmed tidak boleh digunakan untuk menyebarkan kebohongan dan kebencian. “Kita harus hindari adanya hoaks, fitnah apalagi upaya memprovokasi,” kata Hasto di Pangkalpinang, Rabu (28/9/2019).
Hasto mengatakan, kemajuan teknologi harusnya digunakan untuk kepentingan kemanusiaan dan kebersamaan. “Jangan sampai kemajuan teknologi dipakai untuk pecah belah bangsa,” tambah dia.
Harapan itu dia sampaikan guna mengikuti perkembangan pembicaraan di sosial media khususnya terkait revisi sejumlah RUU di DPR serta demonstrasi di Wamena, Papua.
Menurutnya, ada pemelintiran luar biasa, seolah-olah revisi UU KPK pun berarti pro pada korupsi. Padahal, jelas dia, PDI Perjuangan mempunyai kebijakan kader yang korupsi langsung dipecat seketika.
“Ini sangat disayangkan. Kita berharap kemajuan sosmed tidak digunakan untuk menyebarkan pemelintiran apalagi menyebarkan kebohongan,” ucapnya.
“Di Papua ada hoaks dan fitnah isu rasisme disebarluaskan melalui sosmed. Kemajuan teknologi informasi disalahgunakan untuk menyebarkan kebohongan yang membuat terciptanya kondisi tidak aman,” lanjut Hasto.
Karena itu, tambah Hasto, PDI Perjuangan mengajak seluruh komponen bangsa untuk mewaspadai adanya pihak-pihak tertentu yang berupaya memecah belah bangsa.
Potensi adanya ancaman bagi keutuhan bangsa saat ini salah satunya berasal dari perkembangan sosmed yang digunakan secara tidak bertanggung jawab. Karenanya, dia mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mewaspadai upaya adu domba internal bangsa.
“Apa yang terjadi di Wamena, dan banyaknya yang menggunakan isu revisi beberapa RUU di DPR harus dicermati agar tidak destruktif. Kritik dan aspirasi bebas di negara demokrasi, namun kerukunan dan keamanan nasional tetap harus dikedepankan,” tuturnya.
Atas dasar itu, imbuh Hasto, benteng sosial-keamanan masyarakat harus diperkuat baik secara fisik maupun di jagat maya. (goek)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









