Sabtu
17 Oktober 2026 | 12 : 20

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Bencana Ekologis Landa Sumatera, PDIP Minta Pemerintah Moratorium Izin Alih Fungsi Hutan Jadi Sawit

pdip-jatim-250904-djarot

PALANGKA RAYA – PDI Perjuangan mendesak pemerintah untuk menghentikan secara total atau menerapkan moratorium terhadap pemberian izin alih fungsi hutan menjadi kawasan perkebunan kelapa sawit.

Permintaan ini disampaikan menyusul bencana ekologis yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, menegaskan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk menghentikan izin alih fungsi hutan menjadi industri ekstraktif, termasuk perkebunan kelapa sawit.

“Sawit ini tanaman yang arogan, dia menyerap air luar biasa tapi enggak bisa menyimpan, sebaiknya dilakukan moratorium, untuk menghentikan alih fungsi lahan,” ujar Djarot saat diwawancarai wartawan di sela Konferda PDI Perjuangan Kalteng di Hotel Bahalap, Palangka Raya, Rabu (3/12/2025).

Baca juga: Said Abdullah: Pemerintah Bisa Gunakan Dana on Call Rp 4 T untuk Penanganan Bencana Sumatera

Djarot menjelaskan bahwa akar masalah bencana yang terjadi di Sumatera tidak hanya disebabkan oleh hujan lebat. Menurutnya, cuaca hanya berfungsi sebagai faktor pencetus bencana, sementara akar masalahnya adalah alih fungsi lahan.

“Ada jutaan luasan lahan yang dilakukan alih fungsi, tidak bisa sawit disamakan dengan pohon di hutan, seperti ulin, kelapa, akasia, meranti, itu berbeda,” jelasnya.

Politisi yang pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara pada Pilkada 2024 ini mengingatkan pentingnya tindakan tegas terhadap korporasi nakal. Dia menekankan perlunya memeriksa pemilik-pemilik korporasi dan menutup usaha yang melanggar.

“Perusahaan-perusahaan yang melanggar seperti ini, itu diperiksa, dan kalau perlu usahanya ditutup,” tegasnya.

Djarot menilai bencana banjir merupakan akibat dari kerusakan alam yang dilakukan oleh korporasi besar.

“Pihak yang merusak alam adalah korporasi-korporasi besar yang melakukan alih fungsi lahan gila-gilaan untuk kegiatan industri ekstraktif sumber daya alam seperti sawit, pertambangan, dan perkebunan,” katanya.

Dia juga menyoroti bahwa kerusakan yang terjadi sangat parah, mulai dari Aceh hingga Sumatera Barat, bahkan ada desa yang hilang tersapu.

Setelah konferensi daerah di Sumatera Utara, Djarot menyatakan bahwa PDIP sepakat untuk mengambil sikap politik yang menuntut pemerintah bertindak tegas terhadap korporasi yang merusak hutan dan menutup perusahaan tersebut.

“Kemerdekaan yang kita perjuangkan dengan tetesan air mata, kenapa jadi begini. Sekarang kita harus introspeksi diri, melihat apa yang sudah kita perbuat,” tegasnya. (red)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Lamongan Kawal Raperda Tata Niaga dan Perlindungan Petani Tembakau

LAMONGAN — Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Lamongan berkomitmen mengawal pembentukan Rancangan Peraturan ...
LEGISLATIF

1.870 Kasus Narkoba Terungkap di Jatim, Andy Firasadi Dorong Pencegahan Berbasis Lingkungan

SURABAYA – Pemberantasan narkoba di Jawa Timur perlu diperkuat hingga ke lingkungan permukiman. Anggota Fraksi PDI ...
KRONIK

Hasto Kristiyanto Dorong Gerakan Merawat Pertiwi Perkuat Ekonomi Pesisir

MALANG – Gerakan pelestarian lingkungan harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Sekretaris Jenderal DPP PDI ...
KRONIK

Reses di Ponorogo, Kanang Siap Perjuangkan Aspirasi Pendidikan hingga Penyediaan Air Bersih

PONOROGO – Anggota Komisi VI DPR RI, Ir. Budi Sulistyono (Kanang), berkomitmen memperjuangkan berbagai aspirasi ...
HEADLINE

Hasto: Konservasi Mangrove dan Ekowisata CMC Tiga Warna Layak Dicontoh Daerah Lain

MALANG – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengapresiasi langkah konkret pemberdayaan masyarakat ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi: Kota Modern Tak Boleh Kehilangan Jati Diri Budaya

SINGKAWANG – Kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari jalan yang mulus, gedung yang menjulang, atau pesatnya ...