Selasa
27 Oktober 2026 | 4 : 31

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Upacara Jamasan, Bupati Ony Jelaskan Makna dan Perlambang dari 4 Pusaka Ngawi

IMG-20220705-WA0034_copy_900x507

NGAWI – Leluhur bangsa Indonesia memiliki senjata yang dijadikan sebagai pusaka. Disamping sebagai alat pelindung diri, juga menjadi suatu perlambang. Tidak terkecuali di Kabupaten Ngawi. Kota ramah ini memiliki pusaka berupa tombak dan payung.

Pusaka Kabupaten Ngawi, yakni Tombak Kyai Singkir, dan Tombak Kyai Songgo Langit. Serta dua buah payung yang diberi julukan Songsong Agung Tunggul Warana, dan Songsong Agung Tunggul Wulung.

Setiap satu tahun sekali, pusaka-pusaka itu dijamas atau disucikan. Upacara jamasan, dilaksanakan setiap jelang peringatan hari jadi Kabupaten Ngawi, setelah sebelumnya para pejabat melakukan ziarah makam leluhur.

Pusaka-pusaka itu bukan sembarang senjata peninggalan leluhur. Namun juga menjadi perlambang yang sarat makna.

Hal itu seperti yang disampaikan oleh Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono. Kepada awak media, Bupati dari PDI Perjuangan tersebut membeberkan sejumlah fakta dari pusaka tersebut.

“Pusaka itu menjadi perlambang dari kesejahteraan, kemakmuran, dan keamanan Kabupaten Ngawi,” katanya usai mengikuti upacara jamasan, di Pendapa Wedya Graha, pada Selasa (5/7/2022).

Soal perlambang itu, Bupati Ony menyebut bahwa Ngawi sejak dahulu telah diproyeksi sebagai daerah yang Gemah Ripah Loh Jinawi. Subur makmur. Hal itu relevan hingga sekarang. Ngawi termasuk daerah utama penghasil padi skala nasional.

“Ngawi sebagai lumbung pangan. Hal itu menjadi simbolisasi dari kemakmuran dan kesuburan,” ungkapnya.

Bupati Ony mengatakan, pusaka-pusaka peninggalan leluhur itu sebagai simbol perjuangan para pendahulu saat menghadapi VOC Belanda.

Adapun soal rangkaian prosesi jamasan yang sakral, Bupati Ony menilai hal itu sebagai sebuah tradisi dan budaya. Tugas generasi penerus, merawat dan melestarikannya.

“Bukan berarti syirik dan lainnya, karena ini budaya, kita nguri-uri budaya yang baik. Pusaka-pusaka itu pernah menjadi saksi sejarah. Kita melestarikan agar generasi penerus tahu dengan sejarah para pendiri bangsa,” ujarnya.

Sebelum upacara sakral jamasan, pusaka-pusaka tersebut diambil oleh sejumlah pejabat Kabupaten Ngawi. Bupati dan Wakil Bupati, Ony Anwar Harsono dan Dwi Rianto Jatmiko, beserta Ketua DPRD, Heru Kusnindar bersama sejumlah pejabat Ngawi berjalan beriringan menuju tempat penyimpanan pusaka.

Seluruh peserta mengenakan pakaian adat Jawa, beskap, lengkap dengan blangkon menutup kepala. Bagi tamu undangan perempuan, mengenakan kebaya Jawa.

Pusaka-pusaka itu kemudian diarak menuju tempat penjamasan di beranda Pendapa Wedya Graha Kabupaten Ngawi. Diiringi dengan Gending Jawa yang melantun sejak prosesi awal bermula.

Di lokasi jamasan, sudah menanti seorang sesepuh yang akan melakukan penyucian pusaka dengan air bunga beserta perlengkapannya.

Sedari awal penjemputan pusaka, hujan mengguyur wilayah Kabupaten Ngawi. Hujan disertai angin kencang makin lebat tatkala pusaka tiba di lokasi jamasan, hingga proses penyucian selesai.

Hujan mulai agak reda sesaat sesudah proses jamasan pusaka. Dan baru benar-benar berhenti, setelah pusaka-pusaka itu diberangkatkan menuju Pendapa Desa Ngawi Purba untuk diinapkan semalam.

Sebelum kemudian dikembalikan lagi ke Pendapa Wedya Graha dengan kirab pada esok harinya, dalam rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Ngawi ke-664 tahun. (mmf/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

SEMENTARA ITU...

Ski Air Ngawi Bidik 10 Emas di Popda Jatim XV 2026, Total Target 20 Medal

NGAWI – Cabang olahraga (cabor) ski air Kabupaten Ngawi membidik 20 medali dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah ...
KRONIK

Kawal Kasus Kekerasan Anak Medokan, Armuji Dukung Evaluasi UU Perlindungan Anak

SURABAYA – Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Anti-Perundungan ...
LEGISLATIF

Eri Irawan Dorong Wira Wiri Kenpark–Purabaya Naik Kelas, Kapasitas Armada Perlu Ditambah

SURABAYA – Tingginya keterisian penumpang dan panjangnya jarak perjalanan menjadi alasan Ketua Komisi C DPRD ...
MILANGKORI

Mbah Jenggot, Penjaga Langen Tayub Tuban yang Bertahan di Antara Panggung dan Perjuangan Hidup

Sejak 2001, Suparminto setia menjadi cucuk lampah seni Langen Tayub. Ketika tanggapan ramai, ada penghasilan untuk ...
SEMENTARA ITU...

Doding Rahmadi Ajak Rider Trail Perkuat Gotong Royong, Bantu Pembangunan Masjid di Trenggalek

TRENGGALEK – Hobi memacu adrenalin di jalur perbukitan dan hutan bisa berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. ...
KRONIK

Atasi Kelangkaan Solar, Pemkab Bangkalan Terbitkan Edaran Khusus BBM Petani

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan terbitkan edaran khusus memprioritaskan alokasi Bahan Bakar ...