Jumat
03 Juli 2026 | 7 : 46

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ini Pertanyaan Paling Susah Menurut Tri Rismaharini

pdip-jatim-risma-170420-1

DENPASAR – Orang lapar, gelandangan, pengemis, pengamen, orang lanjut usia, dan anak-anak, adalah penyita perhatian terbesar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Tak heran, Pemkot Surabaya memiliki segudang program untuk kelompok masyarakat ini.

Sebut saja untuk anak-anak, Risma tak hanya membangun taman-taman kota, tetapi juga melengkapinya dengan fasilitas olahraga seperti futsal. Harapannya, fasilitas ini membuat anak-anak terus bisa beraktivitas positif.

Risma juga tengah mengembangkan ‘Kampung Belajar’. “Ada kampung yang lagi saya kembangkan itu namanya, ‘Kampung Belajar’. Jadi, kalau lagi jam belajar, tidak boleh ada TV nyala,” tutur Risma saat berbagi di acara Raker TIK SKK Migas-KKKS, Denpasar, Bali, Jumat (14/11/2014).

Pertanyaannya, kenapa Risma begitu perhatian pada kelompok masyarakat tersebut, terutama anak-anak? Kenapa pula sampai perlu dia mengembangkan “Kampung Belajar” tersebut. “Karena pertanyaan yang paling susah nanti kalau saya ketemu malaikat, ‘Kamu punya anak-anak kok nakal Risma?’,” sebut Risma lugas.

Kampung Belajar akan melengkapi kampung-kampung bertema lain yang sudah ada lebih dulu di Surabaya, Jawa Timur. Di antara kampung-kampung itu antara lain ada Kampung Bebas Rokok.

Risma bertutur, di Kampung Bebas Rokok, setiap orang yang mau merokok harus keluar kampung terlebih dahulu. “Jadi di gapura luar kampung itu ada tempat buang puntung rokok. Kalau bapak-bapaknya mau ngerokok, di situ,” terang Risma, disambut tawa peserta Raker.

Selain membangun Kampung Belajar, kepedulian Risma terhadap pendidikan anak juga tidak main-main. Kepada lurah dan camat, dia menegaskan jangan sampai ada anak putus sekolah. Kalau ketemu anak putus sekolah, maka lurah dan camat harus segera melaporkannya kepada Risma.

Pola penanganan serupa juga terjadi ketika ada orang sakit tak bisa berobat maupun saat ada orang miskin kelaparan. “Saya tiga tahun ini tidak pernah rapat. Saya cuma bilang ke Kepala Dinas, Camat, Lurah, cari anak yang putus sekolah, cari yang tidak bisa makan, cari yang sakit tidak bisa berobat,” ujar Risma.

Risma pun melanjutkan, “Nanti kalau saya mati, di Padang Mahsyar saya ditanya malaikat, ‘Risma bagaimana itu ada warga kamu yang kelaparan?’ Saya ngomong sama Malaikat, ‘Malaikat saya sudah sampaikan ke Camat sama Lurah.”

Peserta kegiatan hanya bisa termangu dan geleng-geleng kepala sepanjang cerita Risma, dengan sesekali tawa keluar seperti saat cerita soal Kampung Bebas Rokok muncul. – Kompas

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

DPRD Banyuwangi Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD Tahun 2025

BANYUWANGI – DPRD Kabupaten Banyuwangi menyetujui Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun 2025 disahkan ...
KABAR CABANG

Widarto: PDI Perjuangan Punya Tanggung Jawab Ideologis Membela Masyarakat Kecil

Ketua DPC PDI Perjuangan Jember Widarto menegaskan partainya memiliki tanggung jawab ideologis dan politik membela ...
LEGISLATIF

Komisi C DPRD Surabaya Kawal Pengawasan Parkir Berbasis AI, Eri Irawan: Sistem Ini Tak Bisa Bohong

Komisi C DPRD Surabaya mengawal penerapan CCTV berbasis AI untuk mengawasi parkir dan memvalidasi pendapatan ...
KABAR CABANG

Sholawat, Dialog, dan Ziarah: Cara PDI Perjuangan Bondowoso Merawat Kedekatan dengan Warga

BONDOWOSO – Malam belum terlalu larut ketika lantunan sholawat memenuhi aula DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Kamis ...
LEGISLATIF

Novita Hardini Desak Pemerintah Wajibkan Platform Digital Punya Dana Jaminan untuk Lindungi Seller UMKM

Novita Hardini mendesak pemerintah mewajibkan platform digital memiliki escrow fund atau dana jaminan untuk ...
KRONIK

Bupati Ipuk Ajak Seluruh Stakeholder Perkuat Kolaborasi Layanan Kesehatan

BANYUWANGI – Di tengah tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah, pemangku kesehatan daerah diharapkan bisa ...