Minggu
25 Oktober 2026 | 2 : 51

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Raih Kalpataru, Ketua PAC Campurdarat Komit Edukasi Penyelamatan Lingkungan

pdip-jatim-karsi-pac-campurdarat-1

KESUKSESAN meraih Piala Kalpataru pada tahun 2018 tidak lantas membuat Karsi Nerro Soethamrin berpuas diri. Ketua PAC PDI Perjuangan Campurdarat Kabupaten Tulungagung ini sekarang justru sibuk menebar dan menyebarkan edukasi pada semua lapisan masyarakat untuk ikut dalam menjaga serta menyelamatkan lingkungan hidup.

“Kami terus memberi edukasi pada semua masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa. Betapa pentingnya saat ini dan seterusnya menjaga serta menyelamatkan lingkungan,” ujarnya, Rabu (24/3/2021).

Disamping itu, Karsi pun terus pula menggalang warga untuk sama-sama peduli dengan keberadaan sampah. Kepedulian tersebut diwujudkan dengan pendirian sejumlah bank sampah. “Sebentar lagi menyusul dengan pembentukan koperasi bank sampah,” sambungnya. 

Memang pria yang identik rambut gondrong dan berkopiah ini selalu sibuk dengan kepeduliannya dengan lingkungan hidup. Bahkan kerap juga menjadi pembicara atau narasumber dalam seminar atau lokakarya tentang pemeliharaan air dan lingkungan hidup.

Namun demikian, meski sudah berprestasi di bidang lingkungan hidup, Karsi masih merasa belum puas juga. Ia mengatakan masih perlu pembinaan, utamanya sebagai kader PDI Perjuangan. 

“Mungkin ada program pembinaan atau apalah bagi kader yang seperti kami ini,” tuturnya. 

Karsi yang menjabat sebagai Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Campurdarat untuk kedua kalinya sampai tahun 2025 juga terus berkiprah di Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Tulungagung sebagai ketua dan sebagai pengurus di Pokdarwis Provinsi Jatim. 

Selain juga sebagai Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Tulungagung. Di Pokdarwis ini Karsi mengelola Telaga Buret yang mengantarkannya membawa pulang Piala Kalapataru yang diperolehnya di Bitung Sulawesi Utara pada tahun 2018 silam. 

Telaga Buret berada di Desa Sawo Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Saat ini, taman pelestarian lingkungan hidup tersebut jadi jujukan sebagai tempat wisata ekologi. 

Hawanya sejuk dan bisa melihat hewan kera ekor panjang serta sepasang rusa yang sedang ditangkarkan. Selain juga dapat memandang geliat sejumlah ikan yang berada di telaga berukuran sekitar 40 x 30 meter.

Telaga Buret cukup nyaman dijadikan tempat untuk sekedar bersantai di hari libur. Ada 170 jenis pohon tumbuh di tempat seluas 22 hektar itu.

Menurut Karsi, ekologi di Telaga Buret semakin berkembang dengan baik di tengah masa pandemi Covid-19. Konservasi lingkungan hidup di sana justru malah berkembang dengan bagus, tatkala tidak tersentuh oleh pengunjung.

“Sejak pandemi dan dilakukan penutupan obyek wisata di Tulungagung konservasi malah bagus. Termasuk kesan angker yang sudah ter-mindset oleh masyarakat semakin membuat ekologi di Telaga Buret terjaga,” papar pria yang menjadi pembaca teks Pancasila saat Rakornas PDI Perjuangan di Jakarta tahun 2018.

Keangkeran Telaga Buret yang mistis, lanjut dia, justru membuat kawasan yang sekarang setara dengan hutan lindung itu menjadi terjaga. 

“Sampai sekarang tidak ada yang berani mengganggu kelestarian lingkungan di Telaga Buret. Tidak ada yang berani menebang pohon. Masyarakat sekitar hanya memungut ranting pohon yang jatuh, tidak berani menebang pohon,” katanya.

Keengganan masyarakat menebang pohon ini karena sudah tersebar cerita mistis bagi yang menebang pohon di Telaga Buret akan celaka. “Itu cerita mistis dari nenek moyang,” terang Karsi.

Lebih lanjut, pria yang juga sempat menjadi nominator peraih Piala Kalpataru tahun 2015 lalu itu menyatakan cerita tentang keangkeran tersebut juga efektif untuk menjaga kelestarian Telaga Buret dalam mengaliri areal persawahan di empat desa di Kecamatan Campurdarat. 

“Kalau sampai lingkungan Telaga Buret tidak terjaga dan banyak penebangan pohon bisa jadi tidak ada lagi air untuk mengaliri sawah di empat desa,” tuturnya lagi.

Karsi menyebut dengan terjaganya lingkungan di sekitar Telaga Buret, dari dulu sampai sekarang air yang mengalir dari telaga tersebut tidak pernah surut sekalipun musim kemarau. 

Air dari Telaga Buret tetap mengalir ke areal persawahan milik warga di Desa Sawo, Desa Ngentrong, Desa Gedangan dan Desa Gamping. (atu)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Antusias Ikuti Pembekalan Ideologi, Pengurus PDIP Sukowono Ziarah ke Makam Bung Karno

JEMBER – Pengurus PDI Perjuangan Kecamatan Sukowono, Jember, mendapat kesempatan berziarah ke makam Presiden ...
KRONIK

Tutup Kegiatan Mentor Sebaya SDIT Al-Uswah, Ansari Tekankan Pendidikan Karakter sejak Dini

PAMEKASAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Hj. Ansari, menekankan pentingnya pendidikan karakter sejak usia ...
KRONIK

Jember Kekurangan PPL, 170 Penyuluh Harus Mendampingi 1.500 Kelompok Tani

JEMBER – Jumlah petugas penyuluh lapangan (PPL) di Kabupaten Jember dinilai belum sebanding dengan kebutuhan ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Minta Pemerintah Jamin Keselamatan Petugas dan Relawan Karhutla

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah menjamin keselamatan dan kesehatan petugas serta relawan ...
SEMENTARA ITU...

Rita Haryati Ajak Warga Magetan Jaga Persatuan dan Gotong Royong Lewat Napak Tilas

MAGETAN – Semangat persatuan dan gotong royong harus terus dijaga sebagai warisan berharga dari para pendahulu. ...
KRONIK

Pemkab Banyuwangi Bekali Santri Wawasan Bisnis Digital dan Media Sosial

BANYUWANGI – Memperingati Hari Santri Nasional, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggelar berbagai ...