Selasa
03 November 2026 | 1 : 20

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Anas: Banyuwangi Boleh Maju, Tapi Tradisi dan Budaya Tidak Akan Kita Tinggalkan

pdip-jatim-keboan-aliyan1

BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bertekad nguri-uri berbagai tradisi budaya yang berkembang di masyarakat. Seperti tradisi Keboan di Desa Aliyan di Kecamatan Rogojampi, pemkab di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas mengangkat tradisi ini sebagai bagian dari Banyuwangi Festival.

Komitmen menjaga, salah satu kekayaan budaya asli warga lokal ini pun sebagai bentuk apresiasi pada warga yang terus menjaga warisan para leluhur.

“Banyuwangi boleh maju, tapi tradisi dan budaya yang ada di tengah masyarakat tidak akan kita tinggalkan. Tradisi ini tidak hanya sekedar sebuah ritual rutin tapi juga sebagai salah satu wajah Banyuwangi yang ingin kita tampilkan, yakni semangat guyub dan gotong royong,” kata Bupati Anas saat menghadiri Keboan Aliyan, di Desa Aliyan, di Kecamatan Rogojampi, kemarin.

Di desa ini warga memiliki tradisi Keboan, sebuah ritual adat permohonan kepada Tuhan agar sawah masyarakat subur dan panen berlangsung sukses.

Di ritual yang berlangsung setiap bulan Suro-penanggalan Jawa, sejumlah petani kerasukan roh gaib dan bertingkah layaknya Kebo (kerbau). Tradisi ini pun menarik minat para wisatawan.

Ritual keboan ini diawali dengan kenduri desa yang digelar sehari sebelumnya. Warga bergotong royong menyiapkan tradisi ini. Mulai dari bahu membahu menyiapkan ragam kebutuhan untuk ritual, hingga membangun gapura dari janur yang digantungi hasil bumi di sepanjang jalan desa sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan.

Esok paginya, warga menggelar selamatan di empat penjuru desa (ider bumi). Bersamaan, sejumlah petani yang yang telaj kerasukan siap menjalani ritual Keboan. Mereka berjalan layaknya kerbau yang sedang membajak sawah.

Mereka juga berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan pun di pundak mereka terpasang peralatan membajak.

Para petani yang menjadi “kerbau” lalu berkeliling desa mengikuti empat penjuru mata angin. Saat berkeliling desa inilah, para “kerbau” itu melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi, hingga menabur benih padi.

“Semuanya dikerjakan atas inisiatif warga desa dan mereka bahu membahu hingga seluruh acara berjalan dengan lancar. Semangat inilah yang harus di tiru oleh semua pihak,” imbuh Anas.

Sekedar diketahui, tradisi kebo-keboan di Banyuwangi berkembang di dua desa. Selain keboan di Desa Aliyan Rogojampi, tradisi kebo-keboan juga ditemui di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KABAR CABANG

PDI Perjuangan Kota Madiun dan Komunitas Big Bantaran Kali Matangkan Rencana Aksi Merawat Pertiwi

MADIUN – Usulan warga untuk menanam pohon mangga di sepanjang bantaran Kali Madiun menjadi bagian dari aksi Merawat ...
LEGISLATIF

Sri Untari Ajak Emak-emak Malang Pilah Sampah dari Rumah, Limbah Bisa Jadi Sumber Cuan

MALANG – Kesadaran memilah sampah dari rumah mulai tumbuh di kalangan warga Kota Malang setelah mengikuti ...
KRONIK

Warga Tanpa Identitas Luput dari Bansos, Widarto Sebut Kemiskinan Bukan Sekadar Angka Statistik

JEMBER – Penurunan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Jember sekitar 15 ribu orang dalam setahun terakhir belum ...
EKSEKUTIF

Inovasi Sosialisasi Regulasi, Pemkab Ngawi Gelar Lomba Cerdas Cermat Tata Ruang Libatkan Warga

NGAWI – Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menggelar Festival Tata ...
KRONIK

Aris Sulawan Bersama Warga Walikukun Gotong Royong Bangun Sejumlah Bak Sampah

NGAWI – Keterbatasan fasilitas pembuangan sampah masih menjadi persoalan kebersihan lingkungan di sejumlah wilayah ...
EKSEKUTIF

BKK Desa di Ngawi dari P-APBD 2026 Kisaran Rp 100 – 200 Juta

NGAWI – Sebanyak 122 desa di Kabupaten Ngawi mendapatkan alokasi Bantuan Keuangan Khusus (BKK) desa pada perubahan ...