Sabtu
29 Agustus 2026 | 4 : 53

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Endog-endogan, Cara Masyarakat Banyuwangi Peringati Maulid Nabi

pdip-jatim-endog-endogan

BANYUWANGI – Masyarakat Banyuwangi punya tradisi khas dalam memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yakni prosesi Endog-endogan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar mengatakan, tradisi Endog-endogan merupakan cara masyarakat Banyuwangi untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini biasa digelar baik di kota hingga ke pelosok desa.

Namun tahun ini tradisi ini dijadikan lebih besar dan meriah melalui Festival Endog-endogan. Karena menurut Anas, pemkab menilai budaya ini perlu terus dilestarikan bahkan disyiarkan ke penjuru Indonesia.

Ada makna filosofi yang tinggi dari tradisi Endog-endogan. Endog atau telur memiliki tiga lapisan, kulit telur, putih telur dan kuning telur.

Kulit telur diibaratkan sebagai lambang keislaman sebagai identitas seorang muslim. Putih telur, melambangkan keimanan, yang berarti seorang yang beragama Islam harus memiliki keimanan yakni mempercayai dan melaksanakan perintah Allah SWT.

Lalu kuning telur melambangkan keihsanan, dimana seorang Islam yang beriman akan memasrahkan diri dan ikhlas dengan semua ketentuan Allah SWT.

“Islam, Iman dan Ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang mencerminkan akhlak Rasulullah. Inilah makna Festival Endog-endogan agar kita selalu ingat dan menjalankan tuntunan nabi,” jelas Anas, Sabtu (2/12/2017).

Bupati yang juga bakal Calon Wakil Gubernur Jawa Timur ini menambahkan, kegiatan ini punya makna yang luas.

Selain untuk memperingati Maulid Nabi, pihaknya ingin agar orang-orang di luar Banyuwangi merasakan spirit dan semangat warga Banyuwangi yang begitu luar biasa dalam memperingati Maulid Nabi.

“Sehingga ini menjadi syiar budaya Islam yang asli produk kearifan lokal Banyuwangi,” ujar Anas.

Di akhir acara, Festival Endog-endogan diakhiri dengan memakan ancak bersama-sama. Satu ancak yang berisi nasi dan lauk pauk dimakan oleh 4-5 orang. Keguyuban pun langsung terasa saat semua berbaur bersama-sama memakan hidangan tersebut. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Kementerian PU Hibahkan SPAM Tangkel ke Pemkab Bangkalan, Bupati Lukman: Jadi Pengungkit Investasi

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan mendapat tambahan aset strategis untuk memperkuat pelayanan ...
KRONIK

Data Desil Bermasalah, DPRD Bondowoso Soroti Ancaman Bantuan Warga Terputus

BONDOWOSO – Perubahan data desil warga di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, berpotensi membuat penerima bantuan ...
KRONIK

Monev Komisi B DPRD Jember di PT MDR Buntu, Data Stok dan Harga Tembakau Masih Misteri

JEMBER – Monitoring dan evaluasi Komisi B DPRD Jember ke PT Mangli Djaya Raya (MDR), Jumat (28/8/2026), belum ...
LEGISLATIF

DPRD Kota Malang Usulkan Insentif Guru PAUD Naik, Dibahas dalam APBD 2027

MALANG – DPRD Kota Malang mendorong peningkatan alokasi tunjangan insentif bagi para pendidik Pendidikan Anak Usia ...
LEGISLATIF

Abidin Fikri Salurkan Wakaf Al-Qur’an dan Bingkisan untuk Takmir Masjid di Bojonegoro

BOJONEGORO – Momentum Jumat Berkah dimanfaatkan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. H. ...
KRONIK

Setengah Jam di Posko Baguna, Tempat Para Penggembira Muktamar Melepas Lelah

JOMBANG – Matahari sedang terik-teriknya ketika jarum jam menunjuk pukul 13.30 WIB, Kamis (27/8/2026). Sinar ...