Selasa
27 Oktober 2026 | 4 : 08

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Gedung Pertunjukan Tak Layak, Seniman Ludruk Surabaya Mengeluh

pdip-jatim-ludruk-irama-budaya

SURABAYA – Seniman ludruk yang biasa manggung di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya mengeluhkan masalah seputar ‘perludrukan’ ke kalangan anggota dewan.

Bermacam persoalan, seperti gedung tempat manggung yang dinilai sangat tidak layak, hingga sepinya penonton, disampaikan kelompok kesenian Ludruk Irama Budaya, saat hearing dengan Komisi D DPRD Surabaya beberapa waktu lalu.

Ketua Komisi D DPRD Surabaya Agustin Poliana mengapresiasi aspirasi seniman ludruk, khususnya soal kelayakan tempat pertunjukan.

Padahal, sebutnya, pertunjukan ludruk di THR bila rutin digelar dengan penonton memadai, sedikit banyak juga akan memberikan kontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD).

“Namun memang sarana dan prasarananya tak layak, terkesan kusam dan kumuh,” kata Agustin, kemarin.

Legislator dari PDI Perjuangan ini menyebutkan, selama ini, Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran untuk perawatan gedung kesenian di THR. Namun, dia tak mengetahui besarannya.

Pihaknya berharap, pembenahan gedung pertunjukan seni di THR dilakukan, meski renovasi tersebut tak sebagus dengan rencana pembangunan gedung kesenian di tempat itu setelah kontrak dengan PT Sasana Boga, pengelola gedung hi-tech mall THR selesai.

Sementara itu, saat hearing di Komisi D DPRD Surabaya, Sekretaris Ludruk irama Budaya, Meimura mengungkapkan, setelah selama 30 tahun berkarya, kelompoknya sudah 7 tahun pentas di THR. Pementasan di gedung THR itu atas undangan Pemkot Surabaya.

Namun, pihaknya merasa sarana dan prasarana yang digunakan tidak representative. Dari sejumlah pementasan, banyak penonton yang mengeluh karena merasa tidak nyaman dengn kondisi gedung pertunjukan.

“Penonton menyampaikan toiletnya tak layak. Ketika kami akan menangani, itu kewenangan pemerintah kota,” paparnya.

Di sisi lain, pihaknya juga terbebani dengan biaya-biaya operasional lainnya yang harus ditanggung sendiri seperti listrik, air dan sebagainya. “Soal retribusi  kalau sepi kita digratiskan,” paparnya.

Menurut Meimura masyarakat yang menyaksikan kesenian rakyat “Ludruk” menginginkan tempat pertunjukan bagus, indah dan sebagainya.

Dia menambahkan, di THR tak ada perubahan apapun. Pihaknya menginginkan dikembalikan ke tempat pertunjukan semula, yakni gedung ludruk di Pulo Wonokromo. “Saya ingin dikembalikan ke tobong, di situ damai,” harapnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Atasi Kelangkaan Solar, Pemkab Bangkalan Terbitkan Edaran Khusus BBM Petani

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan terbitkan edaran khusus memprioritaskan alokasi Bahan Bakar ...
KRONIK

Polusi Surabaya Makin Parah, Wali Kota Eri Bongkar Penyebabnya

SURABAYA – Kondisi udara Kota Surabaya belakangan ini menjadi perbincangan hangat warganet. Sebagian dari mereka ...
EKSEKUTIF

Mas Dhito Tegaskan Pelaku Bullying di Kediri Bisa Di-DO, Guru dan Orang Tua Diminta Terlibat

KEDIRI – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi tindakan perundungan ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP DPRD Jatim Dukung Perpres Ojol, Dewanti Desak Juknis Transparan

SURABAYA – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur mendukung penerapan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun ...
KRONIK

Pemkot Surabaya Tekan Polusi Udara Lewat Kereta SRRL dan Pembatasan Truk

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memfokuskan penanganan polusi udara pada dua kebijakan kunci, yakni ...
KABAR CABANG

Widarto: Mitigasi Bencana Lebih Penting daripada Besarnya Anggaran

JEMBER – Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember, Widarto, mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar mewaspadai ...