Sabtu
10 Oktober 2026 | 7 : 49

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Sepuluh Tahun Mengejar Bola, Fazri Jadi Best Player dan Bawa Jabar Cetak Sejarah

pdip jatim 260815 pemain terbaik

SURABAYA – Mimpi itu sudah tumbuh ketika Muhammad Fazri Marsandi masih duduk di kelas 2 sekolah dasar.

Saat teman-teman seusianya mungkin baru mengenal sepak bola sebagai permainan di halaman sekolah atau lapangan kampung, Fazri mulai melihatnya sebagai sesuatu yang ingin ia tekuni dengan serius.

Sepuluh tahun kemudian, mimpi kecil itu membawanya ke panggung yang jauh lebih besar.

Senin (24/8/2026) malam, pemuda 17 tahun tersebut berdiri sebagai Best Player Soekarno Cup 2026. Bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga setelah ikut mengantarkan Banteng Jawa Barat (Jabar) merebut gelar juara melalui drama adu penalti 5-3 atas Banteng Bali.

Bagi Jabar, kemenangan itu punya arti tersendiri.

Untuk pertama kalinya, wakil Jawa Barat berhasil membawa pulang trofi Soekarno Cup.

Bagi Fazri, malam itu seperti sebuah penanda bahwa kerja keras selama bertahun-tahun mulai menemukan hasilnya.

“Terutama pasti kerja keraslah dari tiga bulan kemarin. Jabar mempersiapkan tim yang terbaik dan alhamdulillah juga saya bisa menjadi pemain terbaik,” ujarnya seusai pertandingan.

Namun, penghargaan itu sesungguhnya tidak lahir dalam satu malam.

Perjalanannya dimulai jauh sebelum Soekarno Cup. Sejak kelas 2 SD, Fazri sudah memutuskan untuk lebih serius menekuni sepak bola.

“Memang suka banget sama bola dari kecil, lalu kelas 2 SD mulai diseriusin main bolanya, alhamdulillah sampai sekarang,” kenangnya.

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar.

Ada latihan, kelelahan, kegagalan, sekaligus keputusan untuk tetap kembali ke lapangan.

Bahkan ketika jadwal latihan bersama sedang libur, Fazri tidak serta-merta meninggalkan rutinitasnya. Ia memilih tetap berlatih sendiri di rumah.

“Kalau libur latihan ada tambahan di rumah sendiri,” tuturnya.

Kebiasaan itu menunjukkan bahwa bagi Fazri, menjadi pesepak bola bukan sekadar soal bakat. Ada disiplin yang harus terus dijaga ketika tidak ada pelatih yang mengawasi dan tidak ada pertandingan yang menunggu.

Ada pula keluarga yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Sebelum pertandingan, Fazri selalu meminta restu orang tuanya. Baginya, doa dan dukungan keluarga memberikan ketenangan sekaligus keberkahan ketika menjalani pertandingan.

“Sempat, pastinya harus minta restu lah biar kita juga selamat, berkah minta doanya,” katanya.

Di lapangan, ia punya cara sederhana untuk menjaga semangat dan stamina. Cokelat dan minuman isotonik menjadi teman kecilnya sebelum atau selama menjalani pertandingan.

Tetapi yang paling penting tetap keyakinan bahwa kerja keras akan menemukan jalannya.

Keyakinan itu kembali diuji ketika Jabar menghadapi Bali di partai final.

Pertandingan berjalan sengit. Pada babak pertama, Jabar kesulitan mengembangkan permainan dan berada dalam tekanan lawan. Aliran bola tidak berjalan seperti yang mereka harapkan.

Fazri dan rekan-rekannya harus melewati situasi ketika pertandingan tidak berjalan sesuai rencana.

Namun, mereka tidak berhenti.

Memasuki babak kedua, Jabar perlahan mampu keluar dari tekanan dan kembali menemukan permainan terbaiknya.

“Babak pertama Jabar kesulitan menguasai bola, tapi babak kedua alhamdulillah Jabar bisa keluar dari tekanan,” ujarnya.

Laga kemudian harus ditentukan melalui adu penalti.

Di titik itu, kemampuan teknis saja tidak cukup. Mental menjadi pembeda.

Dan Jabar akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 5-3 melalui drama tos-tosan.

Fazri pun mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik.

Trofi juara dan gelar individu tersebut menjadi buah dari perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah keputusan sederhana seorang anak SD: serius bermain bola.

Tetapi Fazri belum ingin berhenti di sana.

Di usianya yang baru 17 tahun, ia masih punya jalan panjang untuk ditempuh. Gelar Best Player Soekarno Cup bukan garis akhir, melainkan pijakan berikutnya.

Ia ingin terus berkembang dan menembus kompetisi profesional.

“Saya ingin lebih dari yang sekarang, misalnya ke Liga 3 atau enggak Liga 2. Terima kasih Soekarno Cup,” ucapnya.

Mungkin, sepuluh tahun lalu Fazri hanya seorang anak kecil yang mulai serius mengejar bola.

Kini, ia sudah mengangkat trofi bersama Jawa Barat dan menyandang predikat pemain terbaik.

Dan dari sana, mimpi berikutnya dimulai. (nia/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Empat Bulan Belum Dioperasi, Eri Cahyadi Pindahkan Pasien Kanker ke RSUD Soewandhie

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta percepatan penanganan medis terhadap Dian, warga penyandang ...
LEGISLATIF

Milton Dick Pimpin IPU hingga 2029, Puan Maharani Harap Peran Parlemen Dunia Menguat

TANZANIA – Ketua DPR RI Puan Maharani berharap Milton Dick, yang terpilih sebagai Presiden ke-32 ...
KABAR CABANG

Gedung DPC PDIP Kabupaten Malang Dikembangkan Jadi Rumah Rakyat, Ini Fasilitasnya

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang berencana mengembangkan kantor menjadi Rumah Rakyat dengan fasilitas rumah ...
LEGISLATIF

Krisis Air Petani Tumpang, Zulham Desak Tugu Tirta Bangun Embung atau Sumur Artetis

MALANG – Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarok, mendesak Perumda Air Minum ...
UMKM

Kisah Busono Membangun Kemandirian Petani Tembakau Senori

TUBAN — Kiprah kader partai politik tidak melulu soal adu gagasan di panggung kekuasaan. Di sudut Kabupaten Tuban, ...
KRONIK

Said Abdullah Dukung Rumah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani di Malang untuk Pendidikan Karakter

MALANG – Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur MH Said Abdullah mendukung pembangunan Rumah Tahfidz Al-Qur’an Puan ...