Ketua DPRD Kabupaten Madiun Fery Sudarsono meminta orang tua aktif mengenalkan tradisi kepada anak-anak dan Gen Z agar warisan budaya tidak terputus.
MADIUN – Ketua DPRD Kabupaten Madiun Fery Sudarsono meminta para orang tua dan generasi yang lebih tua tidak hanya menjalankan tradisi leluhur, tetapi juga aktif mengenalkannya kepada anak-anak dan generasi Z.
Menurut Fery, regenerasi menjadi kunci agar tradisi seperti Nyadran, bersih kelurahan dan sedekah bumi tidak berhenti ketika generasi yang saat ini menjalaninya mulai berganti.
Pesan tersebut disampaikan Fery saat menghadiri rangkaian bersih kelurahan dan sedekah bumi di Kelurahan Pandean, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, yang digelar bertepatan dengan rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kemarin.
“Generasi kita akan terus berganti. Kalau sejak sekarang tidak dikenalkan dan diberi contoh, bisa saja suatu saat generasi muda tidak lagi tertarik meneruskan tradisi ini. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengenalkan, menjelaskan, sekaligus memberikan contoh,” ujar Fery.
Bagi Fery, perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup tidak semestinya membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan akar budayanya.
Justru di tengah perubahan zaman, tradisi lokal dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan mereka.

Nyadran dan sedekah bumi, misalnya, tidak sekadar rangkaian kegiatan adat, tetapi mengandung pesan tentang rasa syukur, kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan kepada leluhur dan kebersamaan.
Karena itu, Fery menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial yang digelar setahun sekali.
Tradisi akan lebih mudah bertahan apabila generasi muda memahami makna di balik setiap prosesi dan merasa memiliki bagian dari warisan budaya tersebut.
“IIni bagian dari budaya kita. Bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan, tetapi bagaimana nilai-nilai baik di dalamnya terus kita uri-uri dan diwariskan kepada generasi penerus,” tegas Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Madiun itu.
Di Kelurahan Pandean, upaya menjaga tradisi itu terlihat dalam rangkaian prosesi Nyadran. Warga bergotong royong membersihkan makam leluhur sebelum melanjutkan doa bersama di kawasan Sendang Sedundung.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pawai budaya yang menampilkan beragam potensi dan ekspresi budaya masyarakat setempat.
Fery mengikuti langsung prosesi tersebut. Kehadirannya sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap masyarakat yang terus menjaga tradisi lokal agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi masyarakat Pandean, Nyadran bukan hanya tentang mengingat leluhur. Ada ruang untuk bertemu, bekerja bersama, berdoa dan merawat hubungan antarsesama.
Momentum tersebut semakin bermakna karena berlangsung bersamaan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Di tengah semangat kemerdekaan, masyarakat menunjukkan bahwa menjaga budaya lokal juga bagian dari menjaga identitas dan jati diri bangsa.
Dan bagi Fery, pekerjaan itu tidak bisa hanya dibebankan kepada satu generasi.
Generasi tua harus tetap menjalankan tradisi. Anak-anak dan Gen Z harus dikenalkan. Sementara generasi berikutnya diberi kesempatan untuk memahami dan meneruskannya.
Sebab tradisi tidak akan hidup hanya karena diwariskan dalam cerita.
Ia akan tetap hidup ketika ada generasi yang mau mengenal, menjalankan dan merasa bangga menjadi bagian darinya. (ahm/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS











