Rabu
30 September 2026 | 5 : 49

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Merawat Rumah Bernama Indonesia

pdip jatim 260815 pm4

ADA sebuah rumah yang diwariskan kepada kita.

Rumah itu tidak dibangun dengan mudah. Ada air mata, darah, keringat, juga keberanian orang-orang yang hidup jauh sebelum kita.

Namanya Indonesia.

Kini rumah itu sudah berusia 81 tahun.

Pertanyaannya, setelah 81 tahun, apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita?

Pertanyaan itulah yang disampaikan Ketua DPR RI Puan Maharani ketika berbicara tentang perjalanan Indonesia memasuki usia 81 tahun, saat memimpin Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang I Tahun Sidang 2026–2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Bagi Puan, warisan sebuah pemerintahan tidak semata-mata berupa jalan yang dibangun, gedung yang berdiri, atau deretan kebijakan yang tercatat dalam dokumen negara.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting.

Nilai.

Keputusan.

Pengabdian.

Dan jejak yang ditinggalkan untuk generasi berikutnya.

“Apa warisan kita bagi masa depan Indonesia?”

Pertanyaan itu sederhana. Tetapi jawabannya tidak sederhana.

Sebab setiap generasi pada akhirnya akan berhadapan dengan pertanyaan yang sama: Indonesia seperti apa yang akan mereka terima dari generasi sebelumnya?

Apakah sebuah Indonesia yang semakin dekat dengan cita-cita kemerdekaan?

Atau sebuah Indonesia yang sibuk dengan perbedaannya sendiri?

***

Puan mengingatkan, Indonesia dibangun dari keberagaman.

Suku berbeda.

Agama berbeda.

Bahasa berbeda.

Budaya berbeda.

Termasuk pilihan politik yang tidak selalu sama.

Tetapi semua perbedaan itu hidup di dalam satu rumah.

Rumah kebangsaan bernama Indonesia.

Di sinilah persatuan, menurut Puan, tidak boleh dipahami sebagai keadaan ketika semua orang harus sama.

Persatuan justru berarti memilih untuk tetap berjalan bersama meskipun berbeda.

Sebuah pilihan untuk saling menghormati.

Saling percaya.

Dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merusak rumah yang ditempati bersama.

***

Barangkali persoalannya memang bukan bagaimana membuat Indonesia menjadi seragam.

Justru sebaliknya.

Bagaimana membuat begitu banyak perbedaan bisa hidup berdampingan tanpa saling meniadakan.

Sebab pembangunan tidak hanya membutuhkan jalan, bendungan, sekolah, rumah sakit, atau pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan juga membutuhkan kepercayaan.

Ketika masyarakat saling percaya, ketika perbedaan tidak mudah berubah menjadi permusuhan, energi bangsa bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih besar: memperbaiki kehidupan.

Sebaliknya, ketika energi bangsa habis untuk konflik dan saling curiga, pembangunan pun kehilangan tenaga.

Karena itu Puan menyebut persatuan dan kesatuan sebagai fondasi pembangunan nasional.

Bukan slogan.

Bukan pula sekadar kalimat yang diulang setiap peringatan kemerdekaan.

Melainkan pekerjaan sehari-hari.

***

Ada bagian lain dari pesan Puan yang menarik.

Ia mengatakan tanggung jawab merawat persatuan berada di pundak seluruh anak bangsa, tetapi terlebih lagi para penyelenggara negara.

Sebab negara bukan hanya kumpulan gedung pemerintahan dan lembaga-lembaga dengan kewenangannya.

Negara adalah rumah bersama.

Maka setiap kebijakan, keputusan, dan tindakan penyelenggara negara semestinya membuat rakyat merasa rumah itu memang milik mereka.

Merasa dihormati.

Merasa dilindungi.

Merasa memiliki kesempatan yang sama.

Dan yang paling penting, merasa tidak sedang ditinggalkan.

***

Indonesia sudah melewati perjalanan panjang sejak 17 Agustus 1945.

Generasi berganti.

Pemerintahan berganti.

Tantangan juga berubah.

Tetapi cita-cita kemerdekaan tidak seharusnya ikut berganti.

Berdaulat.

Adil.

Makmur.

Itulah pekerjaan yang belum selesai.

Dan mungkin, di situlah makna paling sederhana dari sebuah warisan.

Bukan tentang apa yang berhasil kita kumpulkan untuk diri sendiri.

Melainkan tentang seperti apa rumah yang kita tinggalkan untuk mereka yang datang setelah kita.

Indonesia adalah rumah itu.

Kita mungkin berbeda kamar, berbeda pandangan, bahkan berbeda pilihan.

Tetapi atapnya satu.

Tanahnya satu.

Dan masa depannya juga satu.

Indonesia.

Karena itu, setelah 81 tahun kemerdekaan, pertanyaannya bukan lagi sekadar apa yang sudah kita dapatkan dari Indonesia.

Tetapi:

Apa yang akan kita tinggalkan untuk Indonesia? (*)

 

Oleh: Priyanto

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Said Abdullah: Prabowo-Megawati Akan Bertemu Lagi, Diharapkan 17 Oktober

JAKARTA – Pertemuan lanjutan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri direncanakan ...
LEGISLATIF

Baktiono Minta Seleksi Direksi BUMD Surabaya Bebas Manuver Politik

SURABAYA – Proses seleksi calon Direksi lima Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Surabaya mendapat perhatian DPRD ...
KRONIK

Sinung Soroti Rencana Utang Rp45 Miliar dalam APBD Bondowoso 2027

BONDOWOSO – Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, menyoroti rencana pemerintah daerah menarik utang Rp45 ...
EKSEKUTIF

Debit Sumber Air Menurun, 500 Warga Selorejo Kediri Dapat Bantuan Air Bersih

KEDIRI – Sekitar 500 warga Dusun Selorejo, Desa Surat, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, mengalami kesulitan ...
LEGISLATIF

Rencana Kementerian Haji dan Umrah Mengaudit Forensik BPKH, Abidin Fikri Setuju dengan Catatan

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Abidin Fikri meminta pemerintah, khususnya ...
KRONIK

Tiga Pilar Cup Ngawi; Sepakbola Lintas Profesi, Lariskan UMKM

NGAWI – Setiap sore, suasana di Lapangan Alun-Alun Merdeka Kabupaten Ngawi ramai oleh pertandingan sepak bola dan ...