Senin
28 September 2026 | 8 : 31

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pulang Sekolah, Masak untuk Ibu: Kisah Marfel, Bocah 11 Tahun yang Belajar Menjadi Kuat

pdip jatim 260814 marfel kediri 1

KEDIRI – Seragam merah putih itu masih melekat ketika Marfelino Dhuha Saputra pulang sekolah, Kamis (13/8/2026) siang.

Usianya baru 11 tahun. Duduk di kelas 5 sekolah dasar.

Tetapi begitu sampai di rumah, Marfel tidak langsung bermain seperti kebanyakan anak seusianya.

Ia punya pekerjaan lain yang sudah biasa dilakukannya.

Memastikan ibunya makan.

Memasak.

Mencuci.

Membersihkan rumah.

Dan merawat sang ibu yang sudah sekitar dua tahun mengalami pengapuran tulang.

Siang itu, rumah sederhana di Desa Ngancar, Kabupaten Kediri, kedatangan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Mas Dhito, sapaan akrab bupati, sengaja datang untuk menemui Marfel dan ibunya, Kumala, 41.

Masih mengenakan seragam sekolah dan sepatu, Marfel mempersilakan Mas Dhito duduk di kursi kayu.

Keduanya kemudian duduk berdampingan.

Bukan percakapan resmi seorang pejabat dengan warga. Mas Dhito lebih banyak bertanya tentang keseharian bocah itu.

“Kamu bisa masak?” tanya Mas Dhito.

“Bisa, masak jangan apa saja, asal diberitahu caranya,” jawab Marfel polos.

Jawaban sederhana itu barangkali terdengar biasa.

Namun bagi Mas Dhito, ada cerita besar di baliknya.

Marfel ternyata sudah terbiasa mengurus kebutuhan rumah sejak duduk di kelas 3 SD.

“Sejak kapan mulai merawat ibumu?” tanya Mas Dhito lagi.

“Sejak kelas 3 akhir-akhir,” jawabnya.

Sejak ibunya mengalami gangguan kesehatan, sebagian pekerjaan rumah perlahan menjadi tanggung jawab Marfel.

Pagi hari, setelah bangun tidur, ia memasak makanan sederhana untuk dirinya dan ibunya. Setelah itu baru berangkat sekolah.

Pulang sekolah, ia kembali ke rumah dan memasak untuk ibunya.

Sore hari, ketika pekerjaan rumah selesai, Marfel pergi mengaji.

Barulah setelah itu ia punya waktu bermain.

“Tadi saya tanya kapan mainnya, kata dia main setelah habis ngaji,” cerita Mas Dhito.

Di balik jawaban polos itu, ada masa kanak-kanak yang tetap ingin dijalani.

Marfel tetap ingin bermain.

Tetap ingin sekolah.

Tetap ingin mengaji.

Hanya saja, ada tanggung jawab yang membuatnya harus belajar lebih cepat daripada anak-anak lain.

Kumala sendiri hanya bisa berbaring di tempat tidur yang berada di dekat ruang tamu. Kondisinya membuat berbagai aktivitas sehari-hari harus dibantu sang anak.

Mas Dhito melihat langsung kehidupan yang dijalani ibu dan anak tersebut.

Ia mengatakan Marfel merupakan anak yang luar biasa. Menurutnya, tanggung jawab yang dipikul Marfel tidak ringan untuk anak seusianya.

Pada awalnya, Marfel sempat merasa berat.

Namun waktu membuatnya terbiasa.

Ia menjalani semuanya seperti bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bukan untuk mencari pujian.

Bukan pula karena ingin disebut hebat.

Ia hanya ingin ibunya tetap terurus.

Di hadapan Marfel, Mas Dhito berpesan agar tanggung jawab tersebut tidak membuatnya meninggalkan sekolah dan ibadah.

“Jangan lupa ibadah dan tetap sekolah,” pesan Mas Dhito.

Namun bupati juga memastikan Marfel tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Sebelum meninggalkan rumah, Mas Dhito memberikan nomor ponsel pribadinya kepada bocah tersebut.

Jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuan, Marfel diminta menghubunginya.

“Kalau ada apa-apa dia sewaktu-waktu boleh hubungi saya. Kebutuhan sekolah, makan dan sebagainya kita yang akan cukupi,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Siang itu, mungkin tidak ada yang berubah secara drastis di rumah kecil tersebut.

Besok pagi, Marfel kemungkinan akan kembali bangun, menyiapkan makanan, lalu mengenakan seragam dan pergi ke sekolah.

Pulang sekolah, ia mungkin kembali memasak untuk ibunya.

Lalu mengaji.

Dan, kalau masih ada waktu, bermain bersama teman-temannya.

Begitulah hari-hari seorang anak berusia 11 tahun berjalan.

Ia memang sedang belajar menjadi dewasa lebih cepat.

Tetapi di balik tanggung jawab itu, ia tetaplah seorang bocah yang berhak sekolah, bermain, bermimpi, dan memiliki masa depan.

Dan hari itu, setidaknya Marfel tahu satu hal:

Ia tidak sendirian. (putera/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Sri Untari Dorong Pergub Perda Disabilitas Segera Disusun, KDD Jadi Prioritas

SURABAYA – DPRD Jawa Timur mendorong tiga Peraturan Gubernur (Pergub) segera disusun setelah Perda tentang ...
KRONIK

Ketua DPRD Banyuwangi Dorong Posko Pengaduan di Ketapang, Solusi Sumbatan Aspirasi Pengguna Jasa

BANYUWANGI – Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi, I Made Cahyana Negara, mendorong pembentukan posko pengaduan di ...
EKSEKUTIF

Pemkot Surabaya Siapkan Perwali Perlindungan PRT, Soroti Penampungan dan Denda yang Memberatkan

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Perlindungan Pekerja ...
KRONIK

Said Abdullah Gelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Bersama Pemuda dan Mahasiswa Sumenep

SUMENEP – Pemahaman terhadap Empat Pilar Kebangsaan dinilai perlu terus diperkuat di kalangan generasi muda, ...
SEMENTARA ITU...

Novita Hardini: Krisis Air Bersih Butuh Kehadiran Negara dan Kekuatan Masyarakat

TRENGGALEK – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Novita Hardini menegaskan, penanganan krisis air bersih ...
LEGISLATIF

Indah Kurnia: Setiap Warga Punya Peran Strategis Membangun Bangsa

SIDOARJO – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Indah Kurnia menegaskan, setiap warga negara memiliki peran ...