Kamis
13 Agustus 2026 | 9 : 29

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Lumpia Ipung dan Riuh Soekarno Cup: Empat Dekade Mengais Rezeki di Gelora 10 November

pdip jatim 250813 bakul lumpia 01

SURABAYA – Peluit pertandingan belum lama berbunyi. Suara suporter bersahutan. Para pemain muda berlari mengejar bola, sementara di luar lapangan orang-orang bergerak mencari tempat terbaik untuk menyaksikan pertandingan.

Di antara riuh itu, ada aroma lumpia yang menguar.

Kuswandi, atau yang lebih akrab dipanggil Ipung Lumpia Legend, sibuk melayani pembeli. Tangannya bergerak cepat mengambil lumpia, memasukkannya ke dalam kemasan, lalu menyerahkannya kepada pembeli.

Hari itu, Gelora 10 November bukan hanya menjadi panggung bagi para pemain muda yang bertanding dalam Soekarno Cup 2026.

Bagi Ipung, tempat itu juga kembali menjadi tempat mencari rezeki.

“Baru beberapa jam saja sudah habis. Ramai sekali, banyak yang datang bahkan hanya di depan saja itu,” kata Ipung sambil tersenyum, Kamis (13/8/2026).

Ipung bukan pedagang yang baru kemarin mengenal kawasan Gelora 10 November.

Sejak 1980, ia sudah menjajakan lumpia di sekitar arena olahraga tersebut.

Empat puluh enam tahun.

Selama rentang waktu itu, banyak hal berubah. Orang-orang datang dan pergi. Generasi berganti. Suasana kota berubah. Tetapi satu hal tetap bertahan: Ipung, lumpianya, dan Gelora 10 November.

Lapangan yang menjadi tempat orang berolahraga sekaligus menjadi saksi perjalanan hidupnya.

Karena itu, bagi Ipung, berjualan di kawasan tersebut bukan semata soal berapa banyak lumpia yang terjual.

Ada kesenangan lain yang ia dapatkan.

Ia bisa bekerja sambil menonton sepak bola.

“Kalau jualan di sini saya senang, karena bisa jualan sekaligus lihat bola. Saya memang suka olahraga sepak bola,” ujarnya.

Sepak bola dan lumpia, dua hal yang seolah sederhana. Tetapi bagi Ipung, keduanya telah menjadi bagian dari kehidupan.

Dari hasil berjualan lumpia selama puluhan tahun, ia mampu menghidupi keluarga. Bahkan, kedua anaknya bisa mengenyam pendidikan.

“Alhamdulillah dari jualan lumpia ini saya bisa menyekolahkan anak-anak saya. Jadi ya, ini sudah menjadi pekerjaan saya sejak dulu,” katanya.

Hari itu, Soekarno Cup menghadirkan keramaian yang berbeda.

Turnamen sepak bola usia muda yang mempertemukan tim-tim dari berbagai daerah tersebut mendatangkan pemain, ofisial, keluarga, penonton, dan masyarakat ke kawasan Gelora 10 November.

Dan di tengah keramaian itu, pedagang kecil ikut merasakan denyut ekonominya.

Dagangan Ipung ludes.

Bukan karena strategi pemasaran yang rumit. Bukan pula karena promosi besar-besaran.

Cukup satu hal: orang datang.

Ada pertandingan, ada penonton, ada keramaian.

Dan di situlah rezeki pedagang kecil menemukan jalannya.

“Kalau ada acara seperti ini saya senang, karena ramai dan bisa jadi rezeki buat pedagang seperti saya. Apalagi saya bisa sambil jualan dan nonton bola. Semoga ada terus,” tuturnya.

Mungkin bagi sebagian orang, lumpia yang habis dalam beberapa jam hanyalah cerita kecil dari sebuah pertandingan.

Tetapi bagi Ipung, itu adalah cerita tentang kehidupan.

Tentang bagaimana sebuah tempat olahraga bisa menjadi ruang bekerja.

Tentang bagaimana sebuah pertandingan sepak bola bisa menghadirkan rezeki bagi orang-orang yang bahkan tidak ikut bermain di lapangan.

Dan tentang bagaimana seorang pedagang kecil bisa bertahan puluhan tahun karena percaya bahwa selama orang-orang masih datang, selalu ada kesempatan untuk mencari penghidupan.

Di dalam lapangan, para pemain muda mengejar mimpi menjadi pesepak bola profesional.

Di luar lapangan, Ipung mengejar sesuatu yang tak kalah penting: rezeki untuk keluarganya.

Keduanya sama-sama berjuang.

Hanya lapangannya yang berbeda.

Soekarno Cup mungkin akan dikenang karena pertandingan, gol, pemain terbaik, dan siapa yang akhirnya mengangkat trofi.

Tetapi di sudut lain Gelora 10 November, ada Ipung dengan lumpianya.

Seorang pedagang yang telah menghabiskan lebih dari empat dekade hidupnya bersama arena olahraga itu.

Hari itu ia pulang membawa dagangan yang sudah habis.

Dan mungkin juga membawa satu harapan sederhana:

Semoga keramaian seperti ini datang lagi.

Sebab bagi Ipung, ketika lapangan ramai, dapurnya ikut menyala.

Dan dari sana, kehidupan terus berjalan. (yolanda/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Ririk Dorong Potensi Munjungan Dikembangkan, dari Wisata hingga Perikanan

TRENGGALEK – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Trenggalek, Ririk Wahyumawati, mendorong potensi ...
KRONIK

Ketua DPRD Sumenep Sambut Audiensi Mahasiswa Terkait Usulan Regulasi LGBT

SUMENEP – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Spear of Justice menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Dewan ...
KRONIK

Lumpia Ipung dan Riuh Soekarno Cup: Empat Dekade Mengais Rezeki di Gelora 10 November

SURABAYA – Peluit pertandingan belum lama berbunyi. Suara suporter bersahutan. Para pemain muda berlari mengejar ...
EKSEKUTIF

Mas Dhito Ingatkan Anak Muda Kediri Dampak Bullying dan Pernikahan Dini

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana kembali mengingatkan dampak bullying dan dispensasi pernikahan dini serta ...
KRONIK

Lomba Nyo’on Geddeng hingga Makan Pisang, Cara Seru Hj. Ansari Rawat Kebersamaan Warga

PAMEKASAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Hj. Ansari, menggelar senam bersama dan berbagai lomba agustusan ...
KRONIK

Gayeng di Roudlotul Huda: Cerita Sonny tentang Eratnya Nasionalis-Nahdliyin hingga Khidmah LPPNU Banyuwangi

​BANYUWANGI – Suasana gayeng dan penuh kekeluargaan mewarnai pelantikan Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian ...