SURABAYA – Soekarno Cup 2026 tidak sekadar menjadi ajang perebutan gelar juara bagi 16 tim dari berbagai daerah di Indonesia. Kompetisi sepak bola yang memasuki penyelenggaraan ketiga itu diposisikan sebagai wadah bagi talenta muda, khususnya dari kalangan masyarakat yang selama ini minim kesempatan, untuk berkembang sekaligus membangun karakter.
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur MH Said Abdullah mengatakan sepak bola memiliki kedekatan kuat dengan masyarakat. Karena itu, kompetisi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat lebih luas bagi anak-anak muda yang memiliki potensi di bidang sepak bola.
“Bola adalah milik masyarakat. Bola adalah kecanduan masyarakat. Bola adalah kesenangan masyarakat,” kata Said saat Malam Persaudaraan Soekarno Cup 2026 di Kota Lama Surabaya, Minggu (9/8/2026).
Menurut Ketua Badan Anggaran DPR RI tersebut, penyelenggaraan Soekarno Cup merupakan bagian dari gagasan Ketua DPP PDI Perjuangan Prananda Prabowo agar partai memberikan sumbangsih nyata terhadap perkembangan sepak bola Indonesia.
“Prananda Prabowo ingin PDI Perjuangan harus punya sumbangsih yang nyata bagi perkembangan sepak bola di Tanah Air,” ujarnya.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui kompetisi yang menempatkan pembinaan talenta muda sebagai salah satu fokus utama. Said berharap pemain muda yang mengikuti Soekarno Cup tidak hanya berkembang secara teknis, tetapi juga memiliki karakter dan semangat persatuan.
“Kita mendidik talenta muda dalam sepak bola menjadi penggerak persatuan bangsa, anak muda yang punya karakter untuk masa depan,” katanya.
Said menegaskan, Soekarno Cup tidak boleh dipandang hanya sebagai pertandingan antardaerah untuk memperebutkan trofi.
“Soekarno Cup yang ke-3 ini bukan sekadar pertandingan antar-DPD, bukan antarprovinsi, atau bukan sekadar berkompetisi untuk dapat piala,” tegasnya.
Perhatian khusus, kata Said, diberikan kepada anak-anak muda yang memiliki kemampuan sepak bola tetapi belum banyak memperoleh kesempatan untuk menunjukkan potensinya.
“Kami ingin menjadi wadah talenta wong cilik, talenta kaum yang terpinggir pembangunan,” ujarnya.
Kehadiran 16 tim dari berbagai daerah di Jawa Timur menjadi bagian dari upaya membuka ruang kompetisi yang lebih luas. Para pemain tidak hanya membawa nama daerah masing-masing, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan dan membangun pengalaman melalui pertandingan.
Said memastikan kompetisi tersebut akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari proses pembinaan sepak bola. Menurutnya, pembinaan talenta muda membutuhkan kompetisi yang berkelanjutan agar semakin banyak pemain mendapatkan ruang untuk tumbuh.
“Kompetisi ini akan terus berlanjut,” katanya.
Di tengah persaingan merebut gelar juara, Said juga mengingatkan seluruh pemain untuk menjaga sportivitas dan fair play. Baginya, kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam kompetisi usia muda.
“Sportivitas harus kita jaga dan fair play,” tegasnya.
“Kita boleh jadi juara, tetapi karakter pegangan kita semua,” imbuh Said.
Ia menilai karakter menjadi modal penting bagi generasi muda. Pemain yang ditempa melalui kompetisi diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan mengolah bola, tetapi juga mampu menjadi bagian dari generasi yang menjunjung persatuan dan memiliki mental kuat.
Karena itu, Soekarno Cup 2026 dipandang sebagai bagian dari perjalanan panjang pembinaan sepak bola. Kompetisi tersebut mempertemukan anak-anak muda dari berbagai daerah sekaligus membuka jalan bagi mereka untuk mengejar cita-cita melalui sepak bola.
“Ini adalah awal untuk meraih mimpi yang lebih besar,” kata Said.
Sebanyak 16 tim peserta Soekarno Cup 2026 telah tiba di Jawa Timur. Kehadiran mereka disambut dalam Malam Persaudaraan yang dikemas melalui Gala Dinner di Kota Lama Surabaya.
Acara tersebut turut dihadiri panitia pusat, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan di Jawa Timur, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, serta jajaran pimpinan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. (yols/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










