Kamis
25 Juni 2026 | 3 : 27

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Malam Ketika Kantor PDIP Kabupaten Malang Menjelma Ruang Zikir untuk Bung Karno dan Negeri

pdip jatim 260625 lautan doa dpc malang kab 1

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang menggelar Tawasulan dan Dialog Kebangsaan bertajuk “Lautan Doa” untuk memperingati Haul Bung Karno dan Taufiq Kiemas. Dalam suasana yang hangat dan khidmat, kantor partai berubah menjadi ruang zikir, refleksi, dan harapan bagi negeri.

MALANG – Malam di kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang itu datang pelan-pelan, nyaris tanpa gaduh. Lampu-lampu di halaman menyala lembut. Kursi-kursi ditata rapi.

Orang-orang berdatangan dengan wajah teduh, sebagian menyalami satu per satu, sebagian lain memilih duduk diam sambil menunggu acara dimulai. Tak lama kemudian, lantunan selawat mengalun, memecah sunyi dengan cara yang menenangkan.

Di situlah semuanya bermula.

Kantor partai yang biasanya akrab dengan rapat, konsolidasi, dan urusan politik praktis, malam itu berubah wajah. Ia menjelma ruang zikir. Ruang doa. Ruang perenungan. DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang menggelar Tawasulan dan Dialog Kebangsaan sebagai puncak peringatan Haul Bung Karno ke-56 dan Haul HM Taufiq Kiemas ke-13, Rabu (24/6/2026) malam.

Mereka memberi tajuk sederhana, tapi terasa dalam: Lautan Doa.

Bukan nama yang berlebihan. Sebab malam itu, kantor banteng di Malang benar-benar dipenuhi doa dan selawat. Kehadiran Kiai Kanjeng, kelompok seni dan musik religi yang selama puluhan tahun akrab dengan ruang-ruang spiritual masyarakat, membuat suasana menjadi lebih khidmat.

Nada-nada yang mereka mainkan tak terdengar seperti pertunjukan. Ia lebih mirip pelukan: lembut, menenangkan, dan perlahan menarik orang masuk ke suasana batin yang sama.

Di hadapan panggung, tokoh-tokoh nasional, ulama, budayawan, akademisi, kader partai, hingga pejabat daerah duduk dalam suasana yang nyaris setara: sama-sama menundukkan kepala ketika doa dipanjatkan, sama-sama diam ketika selawat menggema.

Ada mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas, sosiolog Prof. Imam Prasodjo, pakar komunikasi Prof. Dr. Suko Widodo, juga Bupati Malang yang diwakili Sekda Dr. Ir. Budiar, M.Si.

Namun malam itu, yang paling terasa bukan siapa yang hadir, melainkan rasa yang menyelimuti ruangan: ada hormat kepada Bung Karno dan Taufiq Kiemas, ada kegelisahan pada keadaan bangsa, dan ada harapan yang diam-diam disimpan bersama.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, menyebut acara itu sebagai cara partainya merawat watak nasionalis-religius yang selama ini mereka yakini.

“Nasionalis-religius ini bahkan sudah terefleksikan dari sosok Bung Karno, yang dalam perjuangannya mempersatukan semua golongan secara luas diakui oleh organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama,” ujar Didik.

Bagi Didik, Bung Karno tak cukup dikenang sebagai tokoh sejarah yang fotonya dipasang di dinding atau namanya disebut tiap bulan Juni.

Bung Karno, kata dia, harus dibaca sebagai gagasan, keberanian, dan teladan tentang bagaimana politik seharusnya berpihak pada rakyat tanpa kehilangan akar spiritual dan kebudayaannya.

Mungkin itu sebabnya rangkaian Bulan Bung Karno di Kabupaten Malang tidak berhenti di satu malam tawasulan.

Sebelumnya, mereka juga menggelar penghijauan lingkungan dan khataman Al-Qur’an selama dua hari berturut-turut. Seolah ingin mengatakan bahwa mengenang Bung Karno tak cukup lewat pidato, tapi harus turun menjadi laku: menanam, berdoa, berdialog, dan bekerja.

Tetapi malam itu, “Lautan Doa” punya lapisan makna yang lain. Ia lahir bukan hanya dari kebutuhan mengenang, melainkan juga dari kegelisahan melihat situasi sosial-politik hari ini yang terasa makin bising. Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Abdul Qodir, mengatakannya dengan gamblang.

“Lautan doa ini digagas oleh PDI Perjuangan ketika kami melihat bahwa eskalasi politik sudah semakin meninggi, dan manusia hari ini sudah sulit menemukan pegangan,” ujarnya.

Kalimat itu seperti menjelaskan seluruh suasana malam tersebut. Bahwa di tengah dunia yang bergerak cepat, perdebatan politik yang tak kunjung reda, dan rasa lelah masyarakat menghadapi banyak persoalan, partai ingin menghadirkan ruang untuk berhenti sejenak. Bukan berhenti untuk menyerah, melainkan berhenti untuk menata ulang arah.

“Situasi seperti ini saatnya PDI Perjuangan mengajak masyarakat menengadah ke atas. Karena Allah satu-satunya yang bisa menolong bangsa ini, memberikan semangat perjuangan agar kita bisa mengawal Republik ini menjadi lebih makmur kembali,” kata Adeng, sapaan akrab Abdul Qodir.

Maka malam itu, doa menjadi semacam bahasa bersama. Ia tidak menggantikan kerja politik, tetapi mengingatkan bahwa politik tanpa nurani akan mudah kehilangan arah.

Selawat tidak membatalkan kritik, tetapi menegaskan bahwa kritik yang lahir dari kegelisahan publik harus tetap berangkat dari niat memperbaiki, bukan sekadar memukul.

Karena itu pula, setelah ruang dipenuhi doa, acara tidak berhenti di sana. Dialog Kebangsaan digelar, menghadirkan para pembicara yang selama ini dikenal kritis dan akrab dengan isu-isu kebangsaan.

Dari panggung itu, pembicaraan bergerak ke soal moral publik, demokrasi, arah bangsa, hingga tantangan merawat nalar sehat di tengah polarisasi yang terus mengintai.

Perpaduan antara tawasulan dan dialog itulah yang membuat malam tersebut terasa utuh. Ada sisi spiritual yang menenangkan, ada sisi intelektual yang menggugah. Ada ruang untuk menundukkan kepala, ada pula ruang untuk menajamkan pikiran. Seolah DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang sedang ingin menunjukkan bahwa merawat bangsa tak bisa dikerjakan hanya dengan satu cara.

Didik menegaskan, partainya tidak sedang mengambil posisi sebagai oposisi yang sekadar berseberangan, tetapi sebagai penyeimbang. Mendukung program pemerintah yang baik untuk rakyat, namun tetap siap melontarkan kritik keras jika ada kebijakan yang dinilai melenceng.

Pernyataan itu penting, sebab ia menempatkan “Lautan Doa” bukan sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai pijakan moral untuk kembali masuk ke realitas dengan kepala yang lebih jernih.

Politik, dalam konteks itu, tidak dimusuhi. Ia hanya diajak untuk kembali ingat bahwa di ujung semua perebutan kuasa, ada rakyat yang harus dijaga, ada bangsa yang harus dirawat, dan ada nurani yang tak boleh ditinggalkan.

Di penghujung acara, ketika selawat masih menggantung di udara dan orang-orang belum beranjak dari kursinya, suasana di kantor partai itu terasa berbeda dari sebelumnya. Ia tak lagi sekadar kantor. Ia seperti rumah besar tempat orang datang membawa kegelisahan, lalu pulang dengan sedikit ketenangan.

Barangkali memang itulah inti malam itu.

Bahwa mengenang Bung Karno dan Taufiq Kiemas bukan hanya soal menoleh ke belakang, melainkan juga soal mencari tenaga untuk melangkah ke depan.

Dan di Malang, pada malam yang dipenuhi selawat itu, tenaga itu dicari dengan cara yang sederhana: berdoa bersama, berpikir bersama, dan mengingat kembali bahwa politik semestinya selalu punya jalan pulang kepada rakyat. (ull/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Diana Sasa ke 1.500 Wisudawan Unesa: Ijazah dan IPK Saja Tak Cukup Hadapi Dunia Kerja

Anggota DPRD Jatim sekaligus alumnus Unesa, Diana Sasa, mengingatkan 1.500 wisudawan Unesa agar tidak hanya ...
KABAR CABANG

Malam Ketika Kantor PDIP Kabupaten Malang Menjelma Ruang Zikir untuk Bung Karno dan Negeri

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang menggelar Tawasulan dan Dialog Kebangsaan bertajuk “Lautan Doa” untuk ...
KRONIK

Bupati Ipuk Apresiasi Kemah Akbar “Cinta Alam Indonesia” LDII Banyuwangi

BANYUWANGI – Jajaran pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten ...
LEGISLATIF

Syaifuddin Ajak Bonek Salurkan Keberanian untuk Jaga dan Bangun Surabaya

Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri mengajak Bonek menyalurkan keberanian dan loyalitas menjadi energi positif ...
KRONIK

MH Said Abdullah Gelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Bersama Guru Ngaji

SUMENEP – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, MH Said Abdullah, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP Kota Malang Soroti Wacana WFH ASN, Minta Pemkot Tertibkan Penggunaan BBM Subsidi

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Malang mempertanyakan urgensi wacana Work From Home (WFH) bagi ASN pasca-kenaikan ...