NGAWI – Suasana Alun-alun Merdeka Ngawi tampak semarak pada Minggu (14/6/2026). Ratusan pelajar tingkat SD hingga SMP dari berbagai wilayah di Kabupaten Ngawi beradu ketangkasan dalam Festival Olahraga Tradisional yang digelar untuk memeriahkan Bulan Bung Karno 2026.
Berbeda dengan aktivitas yang identik dengan gawai dan permainan digital, para peserta menunjukkan kemampuan mereka dalam berbagai olahraga tradisional yang kini mulai jarang dimainkan generasi muda.
Beberapa cabang yang dipertandingkan dalam festival tersebut antara lain gobak sodor, balap egrang, dan terompah panjang. Total sekitar 340 peserta ambil bagian dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Ngawi tersebut.
Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, turut hadir memberikan semangat kepada para peserta. Pria yang akrab disapa Mas Antok itu tampak berbaur dan bercengkerama dengan para peserta maupun pendukung yang memenuhi area perlombaan.
Menurutnya, olahraga tradisional tidak hanya bermanfaat untuk menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga memiliki nilai-nilai luhur yang penting dalam pembentukan karakter anak.
“Secara filosofis olahraga tradisional ini untuk membangun gotong royong. Ada kerja sama, saling membantu dan lainnya,” kata Mas Antok.

Ia menilai olahraga tradisional perlu terus dilestarikan di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup digital yang semakin kuat memengaruhi kehidupan anak-anak.
Selain menjadi sarana rekreasi dan olahraga, permainan tradisional juga dinilai mampu menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas, dan kerja sama sejak usia dini.
“Sehingga kenapa sasarannya adalah anak-anak? Sebab di usia mereka relatif masih dapat dibangun karakter yang baik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KORMI Kabupaten Ngawi, Yuwono Kartiko atau yang akrab disapa Pak King, mengatakan Festival Olahraga Tradisional telah menjadi agenda rutin yang diselenggarakan setiap tahun di Kabupaten Ngawi.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk kehadiran negara dalam memfasilitasi olahraga masyarakat yang tidak terakomodasi dalam cabang olahraga prestasi.
“KORMI mewadahi olahraga masyarakat. Insyaallah Festival Olahraga Tradisional ini akan terus kami selenggarakan setiap tahun, bersinergi dengan Bulan Bung Karno,” katanya.

Ketua DPRD Kabupaten Ngawi itu menjelaskan, tema yang diusung dalam festival tahun ini adalah Setialah Pada Sumbermu. Tema tersebut dipilih karena selaras dengan semangat melestarikan budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa.
Menurut Pak King, olahraga tradisional tidak hanya mengajarkan keterampilan fisik, tetapi juga membentuk mental, pola pikir, serta nilai-nilai kesetiakawanan dan gotong royong.
“Olahraga tradisional tidak hanya olah gerak, tetapi juga olah mental, olah pikir, dan sikap gotong royong serta kesetiakawanan. Yang paling penting, dengan mengenali akar budaya, kita menunjukkan jati diri sebagai bangsa Indonesia di tengah himpitan teknologi yang makin masif,” jelasnya.
Festival olahraga tradisional tahun ini diikuti sekitar 340 pegiat olahraga masyarakat yang terdiri dari pelajar SD dan SMP. Jumlah tersebut juga mencakup para juri dan wasit yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Pak King berharap kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsa sekaligus memperkuat karakter mereka sebagai penerus masa depan Indonesia.
“Harapannya anak-anak ini ke depan akan membawa negara kita lebih baik dengan pemahaman dan pengenalan terhadap budaya yang berakar dari sejarah warisan leluhur,” tandasnya. (amd/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













