Dua kader muda PDIP Jember menyoroti sulitnya lapangan kerja bagi lulusan baru dan menggagas pelatihan keterampilan untuk anak muda desa.
JEMBER — Setelah wisuda selesai, toga dilepas, dan foto kelulusan diunggah ke media sosial, sebagian besar anak muda biasanya mulai menghadapi pertanyaan yang sama:
“Sekarang kerja di mana?”
Namun bagi banyak lulusan baru di Kabupaten Jember, pertanyaan itu justru sering berujung pada kecemasan panjang.
Lowongan kerja terbatas. Persaingan makin ketat. Sementara kemampuan tambahan yang dibutuhkan dunia kerja tidak selalu dimiliki semua anak muda, terutama mereka yang berasal dari desa.
Kondisi itulah yang mulai menjadi perhatian dua kader muda PDI Perjuangan di Jember, Ananda Cindy Febrianti dan Hamdiah Nurul Hidayati.
Bagi mereka, persoalan pengangguran anak muda tidak sekadar soal ekonomi.
Ada dampak sosial yang perlahan ikut tumbuh di belakangnya.
Ketika Anak Muda Kehilangan Arah
Cindy masih berusia 24 tahun.
Sebagai lulusan UIN KH Achmad Siddiq Jember, ia merasa cukup dekat dengan realitas yang dihadapi banyak lulusan baru hari ini.
Teman-teman seusianya banyak yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan meski sudah menyelesaikan pendidikan.
Sebagian mulai kehilangan kepercayaan diri. Sebagian lain hanya menghabiskan waktu tanpa kepastian arah.
Menurut Cindy, situasi seperti itu tidak bisa dianggap sepele.
“Pengangguran dan kenakalan remaja itu saling berkaitan. Ketika anak muda tidak memiliki aktivitas maupun pekerjaan, potensi munculnya persoalan sosial juga semakin besar,” ujarnya.
Kalimat itu lahir bukan dari teori akademik semata.
Ia melihat langsung bagaimana kegelisahan itu tumbuh di lingkungan sekitar.
Desa yang Sering Tertinggal Informasi
Persoalan serupa juga dirasakan Hamdiah Nurul Hidayati atau yang akrab disapa Diah.
Perempuan kelahiran 2002 itu menilai anak muda desa sering berada dalam posisi yang lebih sulit.
Bukan hanya soal minimnya lapangan pekerjaan, tetapi juga keterbatasan akses informasi dan pengembangan kemampuan diri.
Banyak anak muda desa, menurutnya, sebenarnya memiliki semangat belajar tinggi.

Namun mereka sering tidak tahu harus mulai dari mana.
“Ada yang bahkan belum pernah membuat CV sendiri. Ada juga yang bingung bagaimana menghadapi wawancara kerja,” katanya.
Hal-hal sederhana yang sering dianggap biasa di kota, justru masih menjadi kendala bagi sebagian pemuda desa.
Belajar Membuka Jalan
Dari keresahan itulah, Diah mulai menggagas pelatihan sederhana di lingkungannya.
Tidak muluk-muluk.
Mulai dari pelatihan membuat curriculum vitae (CV), pengenalan keterampilan dasar kerja, hingga membangun keberanian berbicara dan memperkenalkan diri.
Baginya, anak muda desa perlu mulai dibekali kemampuan praktis sebelum masuk ke dunia kerja.
“Anak muda jangan hanya menunggu pekerjaan datang, tetapi juga harus mulai belajar menciptakan peluang sendiri,” ujarnya.
Sementara Cindy mendorong agar pelatihan vokasi dan seminar keterampilan benar-benar disesuaikan dengan minat generasi muda hari ini.
Menurutnya, pelatihan tidak boleh sekadar formalitas proyek, tetapi harus benar-benar membantu anak muda memperoleh kemampuan yang relevan.
“Perlu ada pelatihan keterampilan dasar maupun vokasi yang benar-benar sesuai dengan minat anak muda,” katanya.
Politik yang Dekat dengan Kehidupan Anak Muda
Menariknya, keduanya tidak melihat politik sekadar urusan pemilu atau perebutan jabatan.
Bagi mereka, keterlibatan di partai justru menjadi ruang untuk membawa persoalan anak muda desa agar didengar lebih luas.
Cindy kini aktif sebagai calon Wakil Ketua Bidang Politik, Pemerintahan, dan Otonomi Daerah PAC PDI Perjuangan Kecamatan Sukowono.
Sementara Diah dipercaya menjadi calon Bendahara PAC Kecamatan Mumbulsari.
Mereka sadar posisi itu mungkin terlihat kecil dalam struktur politik besar.
Namun dari ruang kecil itulah mereka ingin mulai menyampaikan suara anak muda desa.
“Kami ingin suara anak muda dan warga desa benar-benar sampai ke atas,” kata Diah.
Di tengah banyaknya generasi muda yang memilih menjauh dari politik, langkah Cindy dan Diah terasa berbeda.
Mereka tidak sedang bicara soal kekuasaan besar.
Mereka sedang bicara tentang keresahan sederhana: bagaimana anak muda desa bisa tetap punya harapan setelah lulus sekolah.
Dan mungkin, politik memang paling terasa maknanya ketika mulai menyentuh kecemasan-kecemasan kecil seperti itu. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










