BONDOWOSO – Pagi di Desa Kembang, Bondowoso, tidak pernah benar-benar sepi bagi Edy Sudiyanto. Di sela kesibukannya sebagai anggota Komisi IV DPRD Bondowoso, suara ayam pedaging dari kandang miliknya tetap menjadi bagian dari rutinitas yang tak pernah ia tinggalkan.
Bagi Edy, dunia usaha bukan sekadar sampingan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah diwariskan turun-temurun dari sang ayah. Usaha ternak ayam pedaging itu telah dijalankan puluhan tahun dan menjadi fondasi ekonomi keluarga sebelum dirinya dikenal sebagai wakil rakyat.
“Tiap minggu dulu panen. Sekarang biasanya panen menjelang hari-hari besar saja,” ujarnya sambil mengenang perjalanan usahanya.
Saat ini, sekitar 1.000 ekor ayam pedaging dikelola dalam satu siklus produksi. Dalam masa panen maksimal 40 hari, 500 ekor ayam mampu menghasilkan omzet Rp10 juta hingga Rp12 juta. Artinya, untuk satu periode penuh, pendapatan dapat mencapai Rp20 juta hingga Rp25 juta dengan keuntungan bersih sekitar Rp10 juta.
Hasil panen dipasarkan melalui tengkulak maupun mitra pemilik bibit ayam. Ketika harga pasar stabil, tengkulak menjadi penyerap utama. Namun saat harga turun, distribusi dialihkan kepada mitra agar usaha tetap berjalan.
Meski telah duduk di kursi legislatif selama tiga periode berturut-turut sejak 2014, Edy tidak pernah meninggalkan dunia usaha. Bersama istrinya, ia juga mengelola lahan pertanian seluas dua hektare dengan sistem tumpang sari, menanam padi, tembakau, dan cabai.
Dari lahan tersebut, hasil panen padi bisa mencapai 6 hingga 8 ton per hektare dengan pendapatan sekitar Rp36 juta. Sementara tembakau dan cabai bahkan berpotensi menghasilkan ratusan juta rupiah per hektare saat harga pasar baik.

Bagi Edy, pengalaman menjadi pengusaha justru membentuk cara pandangnya dalam melihat kesejahteraan masyarakat. Ia memahami betul bahwa kemandirian ekonomi sering kali dimulai dari usaha kecil yang ditekuni secara konsisten.
Karena itu, dalam setiap kesempatan ia selalu mendorong generasi muda untuk berani memulai usaha sendiri, tanpa harus menunggu modal besar.
“Saya berharap pemuda berani jadi bos, walaupun kecil-kecilan. Usaha sekecil apa pun yang penting berani memulai. Kadang orang malas memulai, padahal kalau sudah terjun pasti bisa sambil belajar,” katanya.
Menurutnya, berwirausaha membuka peluang penghasilan yang lebih luas dibanding hanya bergantung pada upah minimum. Kesuksesan, kata dia, bukan ditentukan oleh penampilan atau jabatan, melainkan kemampuan memenuhi kebutuhan dan menyejahterakan keluarga.
“Yang penting bisa mencukupi kebutuhan dan mensejahterakan keluarga. Itu tolok ukur sukses yang sebenarnya,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.
Sebagai wakil rakyat, Edy mengaku ingin terus mendorong masyarakat agar berani berinovasi dan menciptakan peluang usaha sendiri. Baginya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan kebijakan pemerintah, tetapi juga keberanian warganya untuk mandiri secara ekonomi.
“Kami ingin masyarakat semakin sejahtera. Salah satunya dengan mendorong kreativitas dan semangat berwirausaha,” pungkasnya. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










