Senin
27 Juli 2026 | 1 : 40

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Gus Ipin: Santri dan Ulama Punya Peran Strategis dalam Perjuangan Kemerdekaan

pdip-jatim-251023-hari-santri-nggalek-1

Gus Ipin mengajak para santri tetap teguh memegang prinsip dasar ilmu dan adab, terutama di tengah gempuran narasi yang menggugat otoritas ilmu pondok pesantren.

TRENGGALEK – Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek, Mochamad Nur Arifin membeberkan peran strategis santri dan ulama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Bupati Trenggalek tersebut, kontribusi besar tersebut tidak hanya muncul lewat perjuangan fisik, tapi juga melalui jalur diplomasi di masa pendudukan Jepang yang kemudian melahirkan kekuatan tempur rakyat seperti Barisan PETA dan Laskar Hizbullah.

Pria yang juga akrab disapa Gus Ipin ini menyatakan, peringatan Hari Santri 2025 harus menjadi momentum refleksi, terutama di tengah maraknya narasi yang mempertanyakan otoritas ilmu yang bersumber dari pondok pesantren.

Dia menjelaskan, salah satu peran historis ulama terlihat dalam organisasi Jawa Hokokai, yang didirikan oleh pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) untuk memobilisasi massa bagi keperluan armada tempur.

“Menariknya, di dalam organisasi Jawa Hokokai itu terdapat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan Ir. Sukarno sebagai penasihat utama,” ungkap Gus Ipin di sela-sela Peringatan Hari Santri yang digelar DPP PDI Perjuangan, Rabu (22/10/2025).

Menurutnya, diplomasi yang dilakukan oleh para tokoh tersebut menjadi cikal bakal terbentuknya tenaga rakyat dalam barisan perjuangan kemerdekaan, yang berkembang menjadi kekuatan revolusioner sekitar tahun 1945.

“Terdapat barisan PETA dan Laskar Hizbullah yang di dalamnya dikomandoi kiai-santri dan berperan besar dalam revolusi kemerdekaan,” tegasnya.

Bupati muda yang gemar bermain sepak bola ini juga mengajak para santri untuk tetap teguh memegang prinsip dasar ilmu dan adab, terutama di tengah gempuran narasi yang menggugat otoritas ilmu pondok pesantren.

Dia menekankan bahwa hakikat seorang santri adalah menjadi “murid” yang menyadari diri sebagai al-fakir (merasa serba kekurangan) dan bercita-cita menjadi seorang “salik” (penempuh jalan spiritual).

“Tidak ada ilmu tanpa adab dan memuliakan sumber ilmu, termasuk di dalamnya para guru dan kiai kita,” tutur Gus Ipin.

Dalam kesempatan itu, dia mengutip teladan Sayyidina Ali dalam memuliakan guru. Sosok sahabat Nabi Muhammad SAW tersebut bahkan menempatkan seorang guru pada posisi yang sangat tinggi, meskipun hanya mengajarkan satu huruf.

“Seorang Sayyidina Ali saja mengaku hamba sahaya bagi siapa pun yang mengajarinya walau satu huruf,” tandasnya. (aris/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Jejak Luka yang Tak Selesai di Rumah Banteng Jember

JEMBER – Sisa hujan masih menetes dari ujung tenda ketika para kader Partai mulai memenuhi halaman Kantor DPC PDI ...
KABAR CABANG

Kudatuli dan Kompas Sejarah bagi Generasi Penerus

MADIUN – Tiga puluh tahun telah berlalu. Waktu bergerak, pemerintahan berganti, dan wajah politik Indonesia ...
KOLOM

Kudatuli dan Pelajaran Demokrasi

Oleh Djarot Saiful Hidayat* SETIAP 27 Juli, ingatan kolektif bangsa ini seharusnya berhenti sejenak. Bukan untuk ...
KABAR CABANG

Renungan Kudatuli, Fery Sudarsono: Kebebasan Politik Dibayar dengan Darah dan Nyawa

MADIUN – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Madiun menegaskan kebebasan politik dan demokrasi yang dinikmati masyarakat ...
KABAR CABANG

Peringati Kudatuli Bersama Seluruh PAC Tulungagung, Erma Tekankan Pentingnya Jas Merah

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menggelar peringatan peristiwa ...
KABAR CABANG

Saksi Hidup Kudatuli Trenggalek: Jual Emas dan Mesin Diesel Demi Bela Megawati di Jakarta

TRENGGALEK – Bagi para kader PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek, peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau Tragedi ...