Kamis
11 Juni 2026 | 10 : 11

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Gus Ipin: Santri dan Ulama Punya Peran Strategis dalam Perjuangan Kemerdekaan

pdip-jatim-251023-hari-santri-nggalek-1

Gus Ipin mengajak para santri tetap teguh memegang prinsip dasar ilmu dan adab, terutama di tengah gempuran narasi yang menggugat otoritas ilmu pondok pesantren.

TRENGGALEK – Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek, Mochamad Nur Arifin membeberkan peran strategis santri dan ulama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Bupati Trenggalek tersebut, kontribusi besar tersebut tidak hanya muncul lewat perjuangan fisik, tapi juga melalui jalur diplomasi di masa pendudukan Jepang yang kemudian melahirkan kekuatan tempur rakyat seperti Barisan PETA dan Laskar Hizbullah.

Pria yang juga akrab disapa Gus Ipin ini menyatakan, peringatan Hari Santri 2025 harus menjadi momentum refleksi, terutama di tengah maraknya narasi yang mempertanyakan otoritas ilmu yang bersumber dari pondok pesantren.

Dia menjelaskan, salah satu peran historis ulama terlihat dalam organisasi Jawa Hokokai, yang didirikan oleh pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) untuk memobilisasi massa bagi keperluan armada tempur.

“Menariknya, di dalam organisasi Jawa Hokokai itu terdapat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan Ir. Sukarno sebagai penasihat utama,” ungkap Gus Ipin di sela-sela Peringatan Hari Santri yang digelar DPP PDI Perjuangan, Rabu (22/10/2025).

Menurutnya, diplomasi yang dilakukan oleh para tokoh tersebut menjadi cikal bakal terbentuknya tenaga rakyat dalam barisan perjuangan kemerdekaan, yang berkembang menjadi kekuatan revolusioner sekitar tahun 1945.

“Terdapat barisan PETA dan Laskar Hizbullah yang di dalamnya dikomandoi kiai-santri dan berperan besar dalam revolusi kemerdekaan,” tegasnya.

Bupati muda yang gemar bermain sepak bola ini juga mengajak para santri untuk tetap teguh memegang prinsip dasar ilmu dan adab, terutama di tengah gempuran narasi yang menggugat otoritas ilmu pondok pesantren.

Dia menekankan bahwa hakikat seorang santri adalah menjadi “murid” yang menyadari diri sebagai al-fakir (merasa serba kekurangan) dan bercita-cita menjadi seorang “salik” (penempuh jalan spiritual).

“Tidak ada ilmu tanpa adab dan memuliakan sumber ilmu, termasuk di dalamnya para guru dan kiai kita,” tutur Gus Ipin.

Dalam kesempatan itu, dia mengutip teladan Sayyidina Ali dalam memuliakan guru. Sosok sahabat Nabi Muhammad SAW tersebut bahkan menempatkan seorang guru pada posisi yang sangat tinggi, meskipun hanya mengajarkan satu huruf.

“Seorang Sayyidina Ali saja mengaku hamba sahaya bagi siapa pun yang mengajarinya walau satu huruf,” tandasnya. (aris/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

SEMENTARA ITU...

Stadion GDJ Kediri Dikebut, Mas Dhito Bidik Bisa Digunakan pada 2027

Pemerintah Kabupaten Kediri mengalokasikan Rp57 miliar untuk melanjutkan pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati ...
SEMENTARA ITU...

Abidin Fikri Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude, Soroti Ketimpangan Distribusi Tenaga Medis

JAKARTA – Program Pascasarjana Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur Jakarta resmi meluluskan Abidin Fikri dalam ...
LEGISLATIF

Komisi II DPRD Ngawi Sidak SPMB, Temukan Kesenjangan Jumlah Pendaftar Antar Sekolah

NGAWI – Komisi II DPRD Kabupaten Ngawi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah SMP Negeri di wilayah ...
KABAR CABANG

Dapur Umum DPC Sidoarjo Mengepul, Bagikan Ratusan Nasi Kotak untuk Pekerja Jalanan

SIDOARJO – Dapur Umum DPC PDI Perjuangan Sidoarjo kembali mengepul. Ratusan kotak nasi beserta lauk dibagikan ...
KABAR CABANG

Tantri Bararoh: Pelemahan Rupiah Harus Dijawab dengan Penguatan Ekonomi Kerakyatan dan Ketahanan Pangan

Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang Tantri Bararoh mengingatkan pelemahan rupiah berpotensi menekan daya ...
EKSEKUTIF

Mas Dhito Pastikan Layanan Kesehatan Warga Banyakan Tetap Berjalan Pasca Puskesmas Tiron Terbakar

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana memastikan layanan kesehatan bagi warga Kecamatan Banyakan tetap berjalan ...