Kamis
15 Oktober 2026 | 9 : 50

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Tulis Namaku: Sukarno, Bukan Soekarno

20250606_025348_copy_532x339
Foto dan nama Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta dalam uang pecahan seratus ribu rupiah.

KONTROVERSI melekat pada diri bapak bangsa, Bung Karno. Dari soal sepak terjangnya yang merepotkan penjajah nusantara, hingga pemikiran-pemikirannya yang mengguncang dunia.

Bahkan ejaan penulisan namanya, juga mengandung kontroversi. Sukarno atau Soekarno? Menggunakan U atau OE?

Polemik soal ejaan bahkan berlangsung sepeninggal bapak bangsa kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 itu hingga kini. Misalnya nama bandara Soekarno – Hatta, jalan Soekarno, hingga uang pecahan Rp 100.000 terkini yang memuat gambar proklamator dengan tulisan Dr (HC) Ir Soekarno dan Dr (HC) Drs Mohammad Hatta.

Dari OE ke U
Penggunaan huruf OE untuk pelafalan vokal U merujuk pada ejaan Van Ophuijsen. Selain OE, penggunaan huruf Tj untuk bunyi konsonan C, dan J untuk Y.

Ejaan tersebut diciptakan Charles Adriaan van Ophuijsen, seorang ahli bahasa Belanda. Berlaku sejak tahun 1901 hingga 1947.

Pasca Indonesia Merdeka, tepatnya tahun 1947, Menteri Pendidikan Soewandi merumuskan ejaan Indonesia. Ciri ejaan ini diantaranya penggantian huruf OE menjadi U. Misal Soekarno menjadi Sukarno. Dalam  perkembangannya, ejaan ini berlaku hingga tahun 1972.

Pasca itu, penyempurnaan ejaan terus disempurnakan pemerintah.

Pesan Bung Karno
Lalu, bagaimana dengan Bung Karno soal ejaan namanya, Soekarno atau Sukarno.

Baca juga:Sukarno Lahir di Rumah Kontrakan Dekat Sungai Peneleh, Surabaya 

Berbagai literasi sejarah menyebutkan, Bung Karno menyatakan penulisan namanya dengan ejaan: Sukarno.

Suatu ketika, tahun 1965, Bung Karno memprotes seorang wartawan Jerman yang menuliskan namanya dengan ejaan Soekarno.

“Tapi kenapa kamu tulis nama saya dengan ejaan OE?” Protesnya kepada sang wartawan.

“Tapi nama saya dengan ejaan SU. Ini yang benar,” kata Bung Karno.

Baca juga:Salat Iduladha, Presiden Sukarno Ditembak dari Jarak Dekat

Hal serupa juga ditegaskan Bung Karno sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Menurut Bung Karno, ejaan OE adalah peninggalan Belanda.

“Karena itulah maka Sukarno menjadi namaku yang sebenarnya dan satu-satunya,” kata Bung Karno.

Sementara untuk tandatangannya, Bung Karno masih menggunakan ejaan OE seperti halnya dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno mengakui, tak mudah baginya untuk merubah tandatangan pada usianya yang menginjak 50 tahun saat membahas Sukarno atau Soekarno. (hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Gelar GAS NIKAH di Yayasan Taufiqus Sibyan, Hj. Ansari Tekankan Pentingnya Kepastian Hukum

PAMEKASAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Hj. Ansari, mengingatkan masyarakat agar mencatatkan pernikahan ...
KOLOM

Pendidikan Karakter dan Cinta Tanah Air : Catatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Oleh Susy Cecilia Agustina S.* IBARAT pohon, cinta tanah air tidak tiba-tiba tumbuh, tapi perlu disemai, dipupuk, ...
EKSEKUTIF

Mas Ipin Dorong Anak Muda Trenggalek Jadi Entrepreneur dan Buka Lapangan Kerja

TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mendorong generasi muda menjadi entrepreneur yang mampu ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Minta Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Karhutla

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memperkuat perlindungan masyarakat yang terdampak kebakaran ...
LEGISLATIF

Kaji Ipuk: Pemkot Surabaya Siapkan 50 Hektare Lahan Makam di Sumberejo

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah menyiapkan lahan cadangan seluas 50 hektare di kawasan ...
MILANGKORI

Dari Desa, Dimas Pratama Merawat Kedekatan dengan Petani Lewat Demang Sambang

TULUNGAGUNG – Bagi petani, persoalan sehari-hari tidak selalu berhenti di sawah. Ada kebutuhan keluarga yang harus ...