Minggu
03 Mei 2026 | 5 : 47

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Masih Banyak Buruh Termarginalkan, Amithya Dorong Kolaborasi Bersama Wujudkan Upah Layak

pdip-jatim-250502-sarasehan-hari-buruh-1

MALANG – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang, Amithya Ratnanggani Siraduhita mendorong kolaborasi semua pihak untuk mewujudkan kesejahteraan buruh dengan memberi mereka upah yang layak.

Hal ini ia sampaikan saat menghadiri sarasehan dalam rangka peringatan Hari Buruh yang digelar Disnaker PMPTSP Kota Malang, Kamis (1/5/2025). Amithya menilai masih banyak buruh yang hak-hak ketenagakerjaannya termarginalkan.

“Saya berharap seluruh pihak dapat bersatu untuk mewujudkan kesejahteraan para pekerja. Saya memandang keadilan sosial dalam hal ini perlu kita wujudkan karena memang dalam masyarakat masih banyak yang termarjinalkan,” ajak Mia, sapaan akrabnya.

Menurutnya, para buruh masih banyak dihadapkan pada sejumlah permasalahan klasik. Salah satunya adalah pemberian upah kurang layak.

Artinya, selama ini para buruh masih belum banyak yang menikmati hasil kerjanya dengan pantas. “Padahal karyawan dan buruh juga berhak hidup layak,” ujarnya.

Meski begitu, legislator PDIP ini juga memberi acungan jempol bagi semua pihak yang turut berkontribusi dalam menciptakan kondusivitas iklim ketenagakerjaan di Kota Malang. Baik dari pekerja, perusahaan penyedia lapangan pekerjaan hingga unsur pemerintah.

“Saya apresiasi kepada seluruh pelaku usaha dan pelaku industri yang telah menjadi penyedia lapangan pekerjaan. Terlebih konsisten dalam memenuhi hak pekerja. Mulai upah layak hingga jaminan sosial,” jelas Mia.

Terlepas dari itu, dia juga tidak memungkiri jika saat ini iklim dunia usaha juga dihadapkan dengan situasi ekonomi yang sulit. Tak jarang sebuah perusahaan harus berhadapan dengan keputusan dilematis untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dalam situasi ini, Mia menegaskan bahwa dalam upaya PHK tentu harus ada klausul kesepakatan yang benar-benar dapat mengakomodir kepentingan pekerja dan perusahaan.

“PHK ini sangat kita sayangkan kalau tidak ada klausul yang sama-sama menjadi kesesuaian antara pekerja dan pengusaha. Sehingga kasus ini masih tidak dapat kita terima dengan baik. Maka negara dan perusahaan harus bisa cari jalan tengah,” tutur Mia.

Tak hanya itu, isu soal pekerja perempuan dan anak-anak juga kerap dihadapi di sejumlah wilayah. Dari data yang ia himpun, di Indonesia masih ada lebih dari satu juta anak yang harus menjadi buruh meski masih belum berusia pekerja, yakni 18 tahun.

“Saya berharap seluruh perwakilan perusahaan di kota malang tidak turut melakunan hal tesebut. Saya berharap hal itu tak ada di Kota Malang. Kalaupun ada, kami siap mengadvokasi bersama,” harapnya. (ull/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Sonny Tinjau Pantai Bimo Banyuwangi, Soroti Sampah Pesisir dan Dorong Wisata Fishing Center

BANYUWANGI – Anggota DPR RI Komisi IV, Sonny T. Danaparamita, melakukan kunjungan serap aspirasi ke kawasan pesisir ...
LEGISLATIF

Untari Dorong Kejar Paket A, B, C untuk Tingkatkan Lama Sekolah di Jatim

Sri Untari dorong program kejar paket A, B, C untuk tingkatkan lama sekolah di Jawa Timur yang masih 13,44 tahun. ...
EKSEKUTIF

Bupati Rijanto Apresiasi Peran Pesantren Al Ma’arif Udanawu Cetak Generasi Berkarakter

Bupati Blitar Rijanto apresiasi MA Ma’arif Udanawu dan Ponpes Al Ma’arif dalam mencetak generasi berkarakter dan ...
HEADLINE

Hardiknas 2026, Deni Wicaksono Soroti Ketimpangan Pendidikan dan Tantangan Digital di Jatim

Deni Wicaksono soroti ketimpangan pendidikan dan tantangan digital di Jawa Timur pada Hardiknas 2026. SURABAYA — ...
KABAR CABANG

Dialog Dengan KPU, DPC Tulungagung Tekankan Pendidikan Demokrasi bagi Gen Z dan Pemilu Bersih

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menekan pentingnya pendidikan ...
LEGISLATIF

Hardiknas 2026, Untari Tegaskan Pendidikan Harus Lahirkan Generasi Peka Masalah Sosial

Sri Untari tegaskan pendidikan harus lahirkan generasi peka sosial di Hardiknas 2026, bukan sekadar unggul ...