Rabu
01 Juli 2026 | 11 : 51

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Konsepsi Bung Karno Hal Parlemen, Badan Tempat Menggodok Kesejahteraan Sosial

74141127_Kompleks-Parlemen

HARI Parlemen Indonesia yang jatuh pada hari ini, Senin (16/10/2023) belum begitu populer seperti hari-hari besar nasional lainnya.

Parlemen secara khusus berarti badan legislatif. Badan yang mempunyai tugas pokok dan fungsi mengalokasikan anggaran atau budgeting, membuat regulasi perundangan dan melakukan fungsi pengawasan terhadap eksekutif.

Sebelum bangsa ini merdeka, Bung Karno mengemukakan gagasannya terkait legislatif dan bagaimana mereka mewakili kelompok atau golonganya menjalankan fungsinya.

“Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja.”

“Tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid (keadilan sosial),” kata Bung Karno dalam pidatonya menjabarkan dasar-dasar negara Indonesia pada 1 Juni 1945.

Menurut Bung Karno, Parlemen harus terus bekerja keras menyuarakan kepentingan masyarakat. Khususnya bab kesejahteraan.

“Disinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara ‘semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.”

“Saya yakin syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan perwakilan,” tandas Bung Karno.

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI, tepatnya pada 29 Agustus 1945, Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta bersama Perdana Menteri Sutan Sjahrir membentuk badan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP).

Badan ini semula membantu tugas presiden dalam mewadahi aspirasi rakyat. Badan beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat.

Kemudian, Mohammad Hatta mengeluarkan Maklumat Nomor X pada 16 Oktober 1945 atas pertimbangan politik internasional agar Indonesia dapat diakui sebagai negara demokratis yang memiliki aparatur lengkap.

Maklumat tersebut mengubah tugas KNIP yang semula sebagai pembantu presiden, berubah menjadi setara dengan presiden, yakni menyusun Undang-Undang dan ikut menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Atas dasar tersebut pula, sejarah memandang taggal tersebut sebagai hari lahir parlemen di Indonesia, sehingga setiap 16 Oktober kita peringati sebagai Hari Parlemen Indonesia. (ftr/hs)

Artikel ditulis oleh Fathir dalam program magang jurnalistik kehumasan di Unit Media DPD PDI Perjuangan Jatim.

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Insentif Guru Non ASN di Lumajang Diproses

LUMAJANG – Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Lumajang, Supratman menegaskan bahwa dana insentif bagi guru non-ASN di ...
KRONIK

Festival Jaranan Se-Indonesia Digelar di Trenggalek, Doding: Momentum Lestarikan Budaya dan Dongkrak Wisata

Trenggalek akan menggelar Festival Jaranan se-Indonesia pada Agustus 2026. Ketua DPRD Doding Rahmadi menyebut ...
LEGISLATIF

Jamin Kelancaran Ibadah Jemaat Kristiani, Parkir dan PKL CFD Alun-alun Sidoarjo di Sekitar Gereja Bakal Ditata Ulang

SIDOARJO – Area parkir dan PKL yang meluber di sekitar gereja pada acara car free day (CFD) di alun-alun Sidoarjo ...
KRONIK

Juru Bicara DPP PDI Perjuangan: Diskusi Warkop Bukti Bung Karno Bukan Bagian Kaum Elit

SURABAYA – Juru Bicara DPP PDI Perjuangan, Aryo Seno Bagaskoro, mengapresiasi langkah Taruna Merah Putih (TMP) ...
KRONIK

Ony Setiawan: Marhaenisme Tetap Relevan Hadapi Ketergantungan Ekonomi di Era Neoliberalisme

Anggota DPRD Jatim Ony Setiawan menilai Marhaenisme dan nilai Pancasila tetap relevan menghadapi tantangan ...
KRONIK

Pastikan Perlindungan Pekerja Rentan, Bupati Bangkalan Perluas Cakupan BPJS Ketenagakerjaan

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan menaruh perhatian serius terhadap keselamatan kerja masyarakat, ...