Kamis
20 Agustus 2026 | 10 : 55

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Maksimalkan TI, Basarah: Saatnya Hijrah di Dunia Pendidikan

pdip-jatim-basarah-030520-1

JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengajak para pemangku kepentingan untuk melakukan ‘hijrah’ dalam dunia pendidikan. Yakni yang semula menggunakan model lama menuju paradigma baru berbasis teknologi informasi (TI) atau virtual.

Ajakan berhijrah itu dia sampaikan dalam momen peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei, sekaligus untuk merespons seruan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim.

“Nadiem mengatakan belajar memang tidak selalu mudah, tetapi inilah saatnya berinovasi. Saatnya melakukan berbagai eksperimen, dan saatnya kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari Covid-19,” kata Basarah, Sabtu (2/5/2020).

Baca juga: Ini, Hikmah Pandemi Covid-19 dalam Pembelajaran Siswa

Wakil rakyat dari dapil Malang Raya ini menambahkan, dengan berhijrah dalam paradigma pendidikan nasional ini, dengan sendirinya bangsa Indonesia tetap berpegang teguh pada filosofi dan paradigma perjuangan pendidikan Ki Hajar Dewantara, pahlawan nasional sekaligus Bapak Pendidikan Nasional.

Filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan melenyapkan kebodohan dari bumi Indonesia.

Atas dasar filosofi pendidikannya itulah, sebut Basarah, hari kelahirannya pada 2 Mei dijadikan Hari Pendidikan Nasional seperti tertuang dalam Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 yang dikeluarkan pada 16 Desember 1959.

Menurut Basarah, dengan melakukan hijrah paradigma pendidikan nasional yang lebih mengedepankan basis digitalisasi proses pengajaran, bangsa Indonesia dengan sendirinya telah merespons ajakan Mendikbud Nadiem Makarim, untuk berinovasi, melakukan banyak eksperimen, dan mendengarkan hati nurani sekaligus.

Karena itu, lanjut dia, menjadi catatan pemerintah adalah bagaimana pola pendidikan digital itu dipraktikkan secara nasional hingga jangan sampai ada anak-anak bangsa Indonesia yang tidak bisa memperoleh hak pendidikannya.

“Karena masih banyak daerah di pelosok Tanah Air yang belum mendapatkan fasilitas internet serta tidak semua orang tua peserta didik mampu menyiapkan perangkat TI untuk mengikuti pola pendidikan secara virtual tersebut,” ujar anggota Komisi X DPR RI itu.

Dia mengatakan jika selama ini pendidikan nasional banyak berorientasi pada pola tatap muka di kelas, sementara penggunaan TI seperti gawai, laptop dan sejenisnya seolah berjalan sendiri bahkan cenderung disalahgunakan.

Karena itu, setelah pandemi Covid-19 ini usai, dia berharap semua pihak menjadikan pola pendidikan digital sebagai prioritas utama sambil mengawasi penggunaan TI ke arah yang lebih mencerdaskan bangsa.

Menurut dosen pascasarjana Universitas Brawijaya Malang itu, semua pranata sosial di Tanah Air mempunyai hakim pengawas sendiri-sendiri.

Dalam lingkup keluarga ada orangtua yang menjadi pengawas, dalam lembaga pendidikan ada guru dan dosen yang menjadi hakim pengawas, dalam lingkungan sosial ada ketua lingkungan yang mengawasi, sementara media massa mempunyai pengawas bernama Dewan Pers, Komisi Penyiaran Informasi (KPI), dan Komisi I DPR RI.

“Nah, selama ini kita merasakan, hanya media sosial yang tidak punya pengawas. Dunia maya ini berkembang liar hingga mudah disalahgunakan, mulai dari eksploitasi pornografi sampai digunakan untuk terorisme. Kini dengan berhijrah, kita bisa memaksimalkan teknologi informasi itu ke arah yang lebih mencerdaskan bangsa, lebih terarah sesuai kepribadian bangsa kita sendiri,” tuturnya.

Ketua DPP PDI Perjuangan ini menambahkan, selama ini media sosial terkesan mengambil alih pembentukan karakter bangsa dan banyak penyalahgunaan teknologi modern itu. Misalnya untuk menyebarkan terorisme, propaganda melawan ideologi Pancasila, dan kampanye negatif gaya hidup LGBT yang tidak sesuai dengan kultur bangsa.

“Saya katakan dengan berhijrah ini kita mendengarkan hati nurani karena selama ini kita seolah tertidur dengan pola lama yang mengabaikan dampak negatif teknologi informasi. Sekarang, dengan terlibat dalam proses belajar mengajar bersama, semua dosen, guru, murid, mahasiswa, dan juga orangtua dengan sendirinya mempersempit ruang penyalahgunaan TI dan media sosial terutama oleh anak-anak kita,” pungkasnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

HEADLINE

Semifinal-Final Soekarno Cup 2026 Gunakan Wasit Liga 1 dan VAR

SURABAYA – Soekarno Cup 2026 meningkatkan standar penyelenggaraan pertandingan dengan menggunakan wasit Liga 1 ...
KRONIK

Lepas Peserta Karnaval TK-PAUD se-Pohjentrek, Muhamad Zaini Ajak Kenalkan Budaya Sejak Dini

KABUPATEN PASURUAN – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Muhamad Zaini, secara resmi membuka dan memberangkatkan ...
EKSEKUTIF

Pemkot Surabaya Bidik Investasi Rp43 Triliun pada 2026, Layanan Digital Diperkuat

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membidik realisasi investasi sebesar Rp43 triliun pada 2026. Untuk ...
KRONIK

Tiga Politisi Muda PDIP Tapal Kuda Masuk Nominasi Penghargaan Nasional

JEMBER – Tiga politisi muda PDI Perjuangan dari kawasan Tapal Kuda masuk nominasi penghargaan yang digelar salah ...
KRONIK

Korban TPPO Asal Jawa Barat Dipulangkan, Sinung Harap Kasus Serupa Tidak Terjadi Lagi

BONDOWOSO – Tiga perempuan asal Jawa Barat yang diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ...
SEMENTARA ITU...

Doding Dorong Pedagang Pasar Melek Teknologi agar Tak Tergusur Perubahan Zaman

TRENGGALEK – Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek Doding Rahmadi mendorong pedagang pasar tradisional beradaptasi dengan ...